PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mencatatkan kinerja yang menggembirakan di tahun 2025. Di tengah tantangan penurunan pendapatan, perusahaan media ini justru berhasil meningkatkan laba bersih secara signifikan.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, SCMA membukukan laba sebesar Rp 771,01 miliar sepanjang tahun 2025. Angka ini melesat 29,61% dibandingkan perolehan laba di tahun sebelumnya yang mencapai Rp 594,85 miliar. Kenaikan laba bersih ini menjadi sorotan, terutama karena terjadi di tengah penurunan pendapatan perusahaan.
Pendapatan SCMA sendiri tercatat sebesar Rp 6,88 triliun, mengalami penurunan sebesar 2,4% dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp 7,05 triliun. Secara rinci, kontribusi pendapatan berasal dari berbagai segmen, yaitu televisi dan platform multimedia lainnya sebesar Rp 4,72 triliun, digital sebesar Rp 2,09 triliun, pembuatan konten dan pendukung Rp 1,78 triliun, serta jasa pemasaran dan pendukung Rp 746,86 miliar. Terdapat juga eliminasi total sebesar Rp 2,46 triliun dalam perhitungan pendapatan konsolidasi.
Direktur SCMA, Rusmiyati Djajaseputra, menjelaskan bahwa keberhasilan meningkatkan laba bersih di tengah dinamika pendapatan ini didorong oleh efisiensi yang berhasil dilakukan perusahaan. Fokus utama adalah pada pengendalian biaya konten (content cost) dan penyempurnaan proses bisnis secara menyeluruh.
Emtek Media, induk perusahaan SCMA, menerapkan disiplin ketat dalam pengelolaan biaya produksi konten. Strategi yang dijalankan meliputi pemilihan konten yang lebih selektif berdasarkan performa, optimalisasi pemanfaatan library content, serta peningkatan efektivitas perencanaan programming. Tujuannya adalah menghasilkan return investasi konten yang lebih optimal.
Selain efisiensi biaya konten, SCMA juga melakukan optimalisasi pada proses bisnis internal. Peningkatan produktivitas operasional, penguatan sinergi antar unit bisnis dalam ekosistem media terintegrasi, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi workflow dan cost management menjadi kunci perbaikan struktur biaya perusahaan. Langkah-langkah efisiensi ini tidak mengorbankan kualitas konten dan daya saing program yang ditawarkan kepada pemirsa dan mitra usaha.
Efektivitas strategi ini tercermin dari average audience share Free-to-Air (FTA) Emtek Media selama 2025 (termasuk MOJI) yang mencapai 38,1%, tertinggi di antara grup media lainnya. Bahkan, pangsa pasar ini semakin menguat hingga mencapai 42,7% pada akhir Februari 2026.
Kontribusi bisnis digital, khususnya dari platform OTT Vidio, juga menjadi penopang perbaikan profitabilitas SCMA. Pertumbuhan pelanggan berbayar (subscription) dan pengembangan digital advertising yang lebih terukur turut memberikan dampak positif. Vidio pun semakin mengukuhkan posisinya sebagai platform OTT nomor 1 di Indonesia.
“Secara keseluruhan, kombinasi antara efisiensi content investment, optimalisasi proses bisnis, serta pengelolaan biaya yang lebih disiplin menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan laba bersih SCMA,” ujar Rusmiyati.
Ke depannya, SCMA akan terus menjalankan strategi yang berfokus pada keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan dan disiplin profitabilitas untuk memastikan kinerja keuangan yang sehat dan berkelanjutan.
Rusmiyati optimis dengan prospek industri media di tahun 2026, yang didukung oleh pertumbuhan konsumsi konten dan penguatan ekosistem media multiplatform Emtek Media yang terus berkembang.
SCMA akan terus memperkuat strategi pengembangan bisnis digital dan OTT, optimalisasi distribusi dan monetisasi konten lintas platform, serta pemanfaatan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), untuk meningkatkan kualitas produksi konten, efektivitas distribusi, serta engagement dengan pemirsa. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya Perseroan dalam memperkuat monetisasi konten dan menjaga daya saing di tengah perubahan lanskap industri media yang semakin dinamis. Meskipun demikian, perusahaan juga mewaspadai tantangan industri, terutama praktik pembajakan konten digital yang masih menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan industri media dan kreatif.
Target dan Strategi Bisnis
SCMA belum mengungkapkan target pendapatan dan laba secara spesifik untuk tahun 2026. Namun, perusahaan menargetkan pertumbuhan kinerja yang positif dengan fokus pada penguatan fundamental bisnis serta peningkatan kualitas pendapatan melalui ekspansi monetisasi multiplatform.
“Perseroan melihat bahwa strategi pertumbuhan ke depan tidak hanya bertumpu pada peningkatan top line, tetapi juga pada penguatan profitabilitas melalui optimalisasi aset konten, peningkatan efektivitas penjualan, serta pengembangan ekosistem media terintegrasi yang dimiliki Perseroan,” tambah Rusmiyati.
Untuk mencapai target tersebut, SCMA akan terus memperkuat positioning program-program unggulan guna mempertahankan leadership audience share di Free-to-Air television, sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis digital melalui peningkatan monetisasi platform Vidio baik dari sisi subscription maupun advertising.
SCMA juga akan berfokus pada pengembangan premium content, termasuk sports dan original content, yang memiliki daya tarik komersial tinggi serta mampu mendorong pertumbuhan pengguna dan engagement secara berkelanjutan.
Selain itu, perusahaan akan mengoptimalkan strategi monetisasi lintas platform melalui pendekatan integrated sales antara televisi dan digital, sehingga setiap konten dan inventory dapat dimaksimalkan nilai komersialnya. SCMA juga terus memperkuat kapabilitas data analytics dan data driven advertising solutions untuk meningkatkan efektivitas kampanye pengiklan sekaligus memberikan nilai tambah bagi mitra bisnis.
Ke depan, SCMA akan terus mengembangkan pendekatan content ecosystem strategy, di mana setiap intellectual property tidak hanya berfungsi sebagai tayangan, tetapi sebagai aset strategis yang dapat dimonetisasi melalui berbagai kanal distribusi.
“Dengan pendekatan ini, perseroan optimistis dapat menciptakan pertumbuhan bisnis yang lebih resilien, adaptif terhadap perubahan industri, serta berkelanjutan dalam jangka panjang,” pungkas Rusmiyati.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, mengungkapkan prospek SCMA tahun 2026 cenderung moderat dengan kecenderungan membaik, ditopang oleh potensi pemulihan belanja iklan seiring stabilisasi ekonomi dan momentum event nasional.
“Peluang utama datang dari ekspansi digital dan OTT, monetisasi konten, serta sinergi ekosistem media yang lebih luas,” ungkap Azis.
Namun, tantangan tetap besar, terutama dari pergeseran konsumsi ke platform digital, fragmentasi audiens, serta tekanan terhadap tarif iklan TV konvensional. Selain itu, keberlanjutan efisiensi biaya akan menjadi kunci untuk menjaga profitabilitas jika pertumbuhan pendapatan masih terbatas.
Dari sisi teknikal, pergerakan saham SCMA saat ini masih berada pada sideways secara short term, sehingga bisa akumulasi beli jika menembus Rp 286 dengan potensi target Rp 300-Rp320, serta perhatikan area support Rp 266-Rp 260 per saham.
Senior Teknikal Analis Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama, melihat secara teknikal tren SCMA saat ini masih bearish, harga sudah rebound dan tertahan resisten Rp 284.
“Sehingga masih ada potensi penurunan lanjutan dengan support di level Rp 242 dan Rp 216,” tutur Reyhan.
Reyhan merekomendasikan untuk saat ini menjual saham SCMA karena arah tren masih cenderung turun dan rebound sudah tertahan di resisten.
Ringkasan
PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) berhasil meningkatkan laba bersih sebesar 29,61% menjadi Rp 771,01 miliar pada tahun 2025, meskipun pendapatan mengalami penurunan sebesar 2,4% menjadi Rp 6,88 triliun. Keberhasilan ini didorong oleh efisiensi biaya konten dan optimalisasi proses bisnis, serta kontribusi dari bisnis digital, khususnya platform OTT Vidio. Emtek Media, induk perusahaan SCMA, menerapkan disiplin ketat dalam pengelolaan biaya produksi konten.
SCMA optimis dengan prospek industri media di tahun 2026 dan akan terus menjalankan strategi yang berfokus pada keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan dan disiplin profitabilitas. Perusahaan menargetkan pertumbuhan kinerja positif dengan fokus pada penguatan fundamental bisnis, peningkatan kualitas pendapatan melalui ekspansi monetisasi multiplatform, dan pengembangan konten premium. Analis memprediksi prospek SCMA cenderung moderat dengan potensi pemulihan belanja iklan, sementara tren teknikal saham saat ini masih bearish menurut analis teknikal.