Shoesmart.co.id – JAKARTA. Aksi jual yang dilakukan investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada akhir Januari 2026 bukan hanya dipicu oleh faktor ekonomi. Sentimen non-ekonomi dan persepsi risiko kebijakan memainkan peran yang lebih signifikan.
Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan bersih SBN oleh nonresiden mencapai Rp 2,77 triliun selama periode 26-29 Januari 2026. Hal ini seiring dengan meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap aset keuangan di Indonesia.
Fikri C. Permana, Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas, berpendapat bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup kuat. Walaupun inflasi meningkat menjadi 3,55% pada Januari 2026, kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh efek dasar (base effect) yang rendah.
Nilai tukar rupiah pun relatif stabil, meskipun fluktuasinya cukup tinggi. Rupiah sempat menguat dari Rp 16.900 menjadi Rp 16.700 per dolar AS pada akhir Januari, sebelum akhirnya kembali stabil di kisaran Rp 16.800 per dolar AS.
Tekanan Global Picu Aksi Jual Asing di SBN, Diproyeksi Mereda Usai Kuartal I-2026
Selain itu, sejumlah indikator ekonomi lain juga memberikan sinyal positif. Neraca perdagangan Indonesia terus mencatatkan surplus selama 68 bulan berturut-turut.
Indeks manufaktur tetap berada di zona ekspansif, bahkan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menggembirakan, mencapai 5,39% pada kuartal IV-2025, angka tertinggi sejak kuartal II-2023.
Namun, Fikri menyoroti bahwa capaian-capaian tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam peningkatan rasio pajak (tax ratio) maupun daya beli masyarakat.
“Secara ekonomi sebenarnya cukup baik, tapi belum terefleksi ke tax ratio dan daya beli. Inilah yang kemudian menjadi perhatian para investor,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).
Lebih lanjut, Fikri menekankan meningkatnya perhatian investor asing terhadap dinamika kebijakan dan kelembagaan di Indonesia.
Perubahan posisi pejabat di Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, serta kebijakan pembelian surat utang oleh bank sentral, menimbulkan pertanyaan mengenai independensi dan koordinasi antarotoritas.
Dorongan kepada perusahaan asuransi dan dana pensiun untuk meningkatkan porsi investasi di pasar keuangan, termasuk saham, di tengah risiko ekuitas yang tinggi, juga menjadi sentimen yang dicermati oleh investor asing.
Tekanan Jual Asing Belum Usai, Ini Prospek SBN dan Yield SUN pada 2026
“Menurut saya, tekanan ini lebih banyak berasal dari sentimen non-ekonomi dan persepsi terhadap kebijakan pemerintah, bukan semata-mata dari fundamental ekonomi,” tegas Fikri.
Ke depan, Fikri memperkirakan tekanan di pasar SBN akan berlanjut dalam jangka pendek. Potensi penurunan peringkat (outlook) oleh lembaga pemeringkat seperti Moody’s dapat meningkatkan premi risiko, terutama jika diikuti oleh lembaga pemeringkat global lainnya.
Kondisi ini dapat mendorong kenaikan imbal hasil, terutama pada obligasi global berdenominasi valuta asing, yang pada gilirannya akan memengaruhi premi risiko aset rupiah.
Sepanjang tahun 2026, Fikri melihat prospek SBN masih memiliki peluang, meskipun ada tantangan yang menghadang.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif tinggi, bahkan termasuk yang tertinggi di antara negara-negara OECD, menjadi modal positif yang signifikan.
Selain itu, posisi geopolitik Indonesia yang relatif netral serta realisasi investasi langsung yang masih solid juga menjadi penopang daya tarik jangka menengah.
IHSG Bergejolak: Emas, SBN Ritel, dan Reksadana Bisa Jadi Pilihan Aset Safe Haven
Namun, Fikri mengingatkan akan besarnya kebutuhan pembiayaan tahun ini. Dengan rencana penerbitan SBN baru sekitar Rp 831 triliun, ditambah potensi penerbitan obligasi korporasi sekitar Rp 175-Rp 200 triliun, pasar akan membutuhkan dukungan likuiditas dalam negeri yang memadai.
Jika pertumbuhan tabungan dan aset masyarakat tidak sejalan dengan kebutuhan pembiayaan tersebut, tekanan di pasar obligasi berpotensi meningkat.
Dari sisi imbal hasil, Fikri memperkirakan yield SBN masih berpeluang naik dalam waktu dekat, dengan potensi mencapai level tertinggi di sekitar 6,6%.
“Kalau penurunan suku bunga terjadi, mungkin mulai kuartal II hingga kuartal IV akan ada rally dari pasar fixed income. Yield bisa kembali ke arah 6%, bahkan ada peluang mendekati 5,1% di akhir tahun, tentu dengan catatan kondisi dan sentimen global mendukung,” pungkasnya.
Ringkasan
Aksi jual SBN oleh investor asing di akhir Januari 2026 dipicu sentimen non-ekonomi dan persepsi risiko kebijakan, bukan hanya faktor ekonomi. Bank Indonesia mencatat penjualan bersih SBN oleh nonresiden sebesar Rp 2,77 triliun. Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, menilai fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih kuat, meskipun ada peningkatan inflasi dan dinamika kebijakan yang menjadi perhatian investor asing.
Fikri memperkirakan tekanan di pasar SBN akan berlanjut dalam jangka pendek, dengan potensi penurunan peringkat oleh lembaga pemeringkat. Meskipun demikian, prospek SBN masih memiliki peluang karena pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif tinggi dan posisi geopolitik yang netral. Namun, kebutuhan pembiayaan yang besar dan ketidakseimbangan antara pertumbuhan tabungan dan kebutuhan pembiayaan dapat meningkatkan tekanan di pasar obligasi.