Saham TLKM: Telkom Pangkas Anak Usaha, Ini Rekomendasi Analis!

Di tengah gelombang strategi perampingan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) masih menjadi magnet bagi mayoritas analis. Rekomendasi beli terus mendominasi seiring rencana ambisius perseroan untuk melaksanakan konsolidasi anak usaha demi efisiensi dan fokus bisnis.

Langkah konsolidasi ini, seperti yang diungkapkan oleh Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Angelo Syailendra, berfokus pada penguatan tiga lini bisnis utama. Arahan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menjadi pendorong utama, dengan target drastis memangkas jumlah anak usaha dari sekitar 60 menjadi 22 entitas saja.

Angelo Syailendra menjelaskan, dari sekitar 60 anak usaha yang dimiliki Telkom saat ini, 49 di antaranya berstatus sebagai pemegang saham pengendali langsung. Sementara itu, enam perusahaan lainnya berstatus mayoritas namun tanpa kendali, dan lima sisanya merupakan kepemilikan minoritas. Sebagai contoh, Angelo menyebutkan kepemilikan 6% saham Telkom di PT Pefindo Biro Kredit, sebuah ilustrasi dari struktur kepemilikan yang akan dirampingkan.

: Perbandingan ARPU Telkomsel dan Indosat Semester I/2025

Proses perampingan ini ditargetkan akan tuntas paling lambat pada akhir 2027. ‘Sekarang ini sedang berjalan, harapannya bakal finish di akhir 2027,’ papar Angelo Syailendra, menegaskan komitmen perseroan dalam menjalankan strategi efisiensi ini sesuai arahan BPI Danantara.

Di tengah gejolak pasar, saham TLKM menunjukkan performa yang cukup kuat, menguat 10,33% year-to-date ke posisi Rp2.990 pada Senin (11/8/2025), dibandingkan Rp2.710 pada akhir 2024. Sentimen positif ini tercermin dari mayoritas rekomendasi analis. Data Bloomberg menunjukkan, 29 dari 41 analis menyematkan rekomendasi beli untuk TLKM, sementara 12 lainnya merekomendasikan hold, dengan target harga konsensus sebesar Rp3.268 per saham.

Telkom Indonesia (Persero) Tbk. – TradingView

Beberapa rekomendasi positif datang dari nama-nama besar di dunia riset. Norman Choong dari CLSA, misalnya, merekomendasikan akumulasi saham TLKM dengan target harga optimistis Rp3.600 per saham. Senada, Aurellia Setiabudi dari BNI Sekuritas menetapkan peringkat beli dengan target Rp3.400, diikuti Chandra Pasaribu dari Yuanta Investment Sekuritas yang mematok target lebih tinggi di Rp3.720 per saham.

Namun, tidak semua analis bersikap sepenuhnya bullish. Paula Ruth dari UOB Kay Hian Sekuritas menyematkan peringkat hold dengan target harga Rp2.900, sementara Wendy Chandra dari RHB Research merekomendasikan netral untuk saham TLKM dengan target Rp3.280 per saham.

Panin Sekuritas, yang sebelumnya merekomendasikan beli, kini menurunkan peringkat TLKM menjadi hold, dengan target harga Rp3.000 yang dinilai telah tercapai. Mereka menyoroti sejumlah perhatian bagi investor, termasuk potensi tekanan operasional pada kinerja Telkom sepanjang 2025 dan penurunan average revenue per user (ARPU). Selain itu, kontribusi Fixed Mobile Convergence (FMC) juga belum terlihat signifikan, dengan penetrasi stabil di angka 55% per Semester I/2025.

: Danantara Minta Telkom Pangkas Anak Usaha, dari 60 jadi 22 Perusahaan

Meskipun demikian, Panin Sekuritas juga melihat potensi jangka panjang yang kuat bagi Telkom. Prospek pertumbuhan pendapatan dari pusat data menjadi pendorong utama. Ditambah lagi, posisi neraca perseroan yang lebih sehat dibanding pesaing diyakini akan mendorong pengembangan bisnis, terutama dalam partisipasi Telkom pada lelang frekuensi di masa mendatang.

Sejalan dengan pandangan yang lebih berhati-hati, analis JP Morgan Sekuritas juga mempertahankan peringkat netral untuk TLKM, dengan target harga yang direvisi menjadi Rp3.000 per saham. Mereka mencatat bahwa Telkom mempertahankan panduan belanja modal (capex) sebesar 17%-19% dari total penjualan pada tahun 2025. Lebih lanjut, JP Morgan memperkirakan adanya potensi nilai aset tetap sebesar Rp100 triliun hingga Rp150 triliun dari upaya Telkom untuk ‘membuka’ nilai aset infrastruktur digital mereka. Aset-aset ini mencakup menara, fiber optic, data center, fiber to the home, hingga kabel bawah laut dan satelit, yang menjadi kunci bagi pertumbuhan masa depan.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Telkom (TLKM) tengah melakukan konsolidasi anak usaha dari sekitar 60 menjadi 22 entitas atas arahan BPI Danantara, dengan target selesai pada akhir 2027. Langkah ini bertujuan memperkuat tiga lini bisnis utama dan meningkatkan efisiensi. Mayoritas analis memberikan rekomendasi beli untuk saham TLKM.

Meskipun mendapat rekomendasi beli, beberapa analis memiliki pandangan netral atau menurunkan peringkat saham TLKM menjadi hold. Hal ini disebabkan potensi tekanan operasional, penurunan ARPU, serta kontribusi FMC yang belum signifikan. Namun, prospek pertumbuhan pendapatan dari pusat data dan neraca yang sehat tetap menjadi potensi jangka panjang Telkom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *