Jakarta, IDN Times — Saham-saham sektor pertambangan kini menjadi primadona di pasar global. Pemicunya bukan hanya lonjakan permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI), tetapi juga meningkatnya risiko geopolitik. Sebuah fenomena yang langka, setidaknya dalam tiga dekade terakhir, di mana ketegangan geopolitik justru mendongkrak saham tambang, alih-alih memicu aksi jual.
Perubahan ini menandai pergeseran paradigma dalam cara investor memandang sektor pertambangan. Dulu, saham tambang identik dengan spekulasi pertumbuhan industri global. Kini, sektor ini dipandang sebagai aset strategis yang terkait erat dengan keamanan, kontrol pasokan, dan kekuatan negara.
- Geopolitik Kini Picu Kenaikan, Bukan Penurunan
Analis Jefferies menyoroti perubahan signifikan dalam hubungan antara risiko geopolitik dan kinerja saham tambang. Dulu, eskalasi perang dagang, konflik militer, dan sanksi ekonomi cenderung memperketat likuiditas, memperlambat permintaan dari negara berkembang, dan menunda belanja modal. Akibatnya, konsumsi logam dan margin keuntungan perusahaan tambang pun tertekan.
Namun, dalam setahun terakhir, tren tersebut berbalik arah. Perang di Ukraina dan kebijakan tarif yang diterapkan berbagai negara telah mengganggu arus komoditas logam global. Ketegangan di Timur Tengah juga meningkatkan risiko terhadap pasokan energi dan jalur pelayaran. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China semakin memperparah situasi dengan memicu pembatasan ekspor mineral kritis dan teknologi industri.
Dilansir Yahoo Finance, dalam enam bulan terakhir, investasi di indeks S&P 500 hanya mencatatkan imbal hasil sekitar 8 persen. Sebagai perbandingan, sektor pertambangan AS (XME) melonjak 48 persen, sementara sektor pertambangan global (PICK) naik 57 persen dalam periode yang sama.
“Risiko geopolitik tidak lagi otomatis berarti penurunan konsumsi. Justru sebaliknya, risiko tersebut cenderung mengarah pada pengetatan pasokan, kontrol ekspor, sanksi, dan aksi penimbunan persediaan,” tulis Christopher LaFemina dan Giovanni Holmes dari Jefferies dalam laporan risetnya.
Mereka menambahkan bahwa kondisi ini “meningkatkan premi kelangkaan dan secara efektif menurunkan biaya modal perusahaan tambang.” Dengan kata lain, investor bersedia membayar lebih mahal untuk saham tambang karena pasokan yang terbatas dan potensi keuntungan yang lebih tinggi.
Selain itu, pasokan baru juga terhambat oleh regulasi lingkungan yang semakin ketat di negara-negara Barat, serta meningkatnya nasionalisme sumber daya di Amerika Latin dan Afrika, termasuk Republik Demokratik Kongo, negara yang menguasai sekitar tiga perempat produksi kobalt global.
- Dorongan Ganda dari Ledakan AI
Selain faktor geopolitik, kinerja saham tambang juga terdongkrak oleh gelombang investasi di sektor AI. Terjadi pergeseran investasi yang dikenal sebagai “AI scare trade,” di mana investor mengalihkan dana dari aset-aset seperti perangkat lunak, real estate, dan jasa keuangan ke sektor energi, material, dan produksi fisik.
Ulrike Hoffman-Burchardi dari UBS Wealth Management mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengalihkan alokasi portofolio dari sektor perangkat lunak ke sektor pertambangan, pembangkit listrik, dan manufaktur alat berat.
Pembangunan infrastruktur AI turut memicu lonjakan permintaan logam seperti tembaga, baja, aluminium, hingga emas. Para produsen berlomba-lomba memproduksi rak pendingin pusat data, chip GPU, transformator listrik, dan berbagai komponen lain yang sangat bergantung pada logam.
Para strategis Goldman Sachs dalam sebuah catatan kepada klien menyoroti pentingnya sektor padat aset yang tidak mudah usang secara teknologi, atau disebut sebagai bisnis HALO (Hardware, Assets, Logistics, and Operations).
“Pasar memberikan apresiasi tinggi pada kapasitas, jaringan, infrastruktur, dan kompleksitas teknik — aset yang mahal untuk direplikasi dan memiliki risiko yang lebih kecil terhadap disrupsi teknologi,” tulis para strategis Goldman Sachs.
- Tambang Jadi Infrastruktur Strategis Jangka Panjang
Para analis menilai bahwa kombinasi antara permintaan AI dan risiko geopolitik menciptakan fondasi yang kuat bagi konsumsi logam, bahkan di tengah pertumbuhan ekonomi global yang belum merata.
Meskipun perusahaan perangkat lunak dapat berkembang pesat tanpa banyak input fisik, sistem pendukung AI seperti pembangkit listrik, transmisi, pendinginan, dan keamanan tetap bergantung pada material fisik dalam jumlah besar.
“Jaringan listrik, pusat data AI, sistem pertahanan, dan infrastruktur digital, semuanya sangat bergantung pada tembaga, aluminium, dan logam lainnya,” tegas Jefferies.
Dengan demikian, sektor pertambangan kini dipandang sebagai infrastruktur strategis jangka panjang yang tertanam kuat dalam rantai pasok pertahanan, transisi energi, ekspansi jaringan listrik, serta tulang punggung fisik ekonomi AI. Sektor ini bukan lagi sekadar penyedia bahan baku, tetapi menjadi bagian integral dari kemajuan teknologi dan keamanan global.
Analis Pede IHSG Tembus 10 Ribu di Tengah Tensi Geopolitik Global
Geopolitik Memanas Usai Trump Ancam Greenland, Rupiah-Ekspor Terancam
FAQ soal Imbas Geopolitik dan AI ke Saham Tambang
Question
Answer
Mengapa saham tambang naik di tengah risiko geopolitik?
Karena konflik kini dipandang memperketat pasokan logam dan meningkatkan premi kelangkaan.
Apa peran AI dalam kenaikan saham tambang?
Pembangunan infrastruktur AI meningkatkan permintaan logam seperti tembaga dan aluminium.
Berapa kenaikan sektor tambang dalam enam bulan terakhir?
Sektor tambang AS naik 48 persen dan global 57 persen.
Ringkasan
Saham sektor pertambangan mengalami peningkatan signifikan, didorong oleh lonjakan permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya risiko geopolitik. Pergeseran paradigma ini menjadikan sektor pertambangan sebagai aset strategis yang berkaitan dengan keamanan, kontrol pasokan, dan kekuatan negara. Sebelumnya, eskalasi geopolitik berdampak negatif, namun kini justru memicu pengetatan pasokan, kontrol ekspor, dan aksi penimbunan, sehingga meningkatkan harga saham tambang.
Selain geopolitik, investasi di sektor AI juga mendorong kinerja saham tambang, khususnya permintaan terhadap logam seperti tembaga, baja, dan aluminium. Sektor pertambangan kini dipandang sebagai infrastruktur strategis jangka panjang yang integral dengan kemajuan teknologi dan keamanan global. Dalam enam bulan terakhir, sektor pertambangan AS (XME) melonjak 48 persen, sementara sektor pertambangan global (PICK) naik 57 persen.