Shoesmart.co.id JAKARTA. Pergerakan harga saham emiten tambang BUMN yang tergabung dalam holding MIND ID menunjukkan tren positif hingga April 2026. Seiring dengan publikasi laporan keuangan tahun buku 2025, investor perlu mencermati prospek saham-saham tambang BUMN ini untuk merancang strategi investasi yang tepat ke depannya.
Pada penutupan perdagangan 1 April 2026, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan harga Rp 3.710 per lembar, melonjak 210 poin atau 6% dibandingkan hari sebelumnya. Secara *year to date* (ytd), saham ANTM telah mengalami kenaikan sebesar 15,58%.
Sementara itu, saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berada di level Rp 2.980, terkoreksi 6,29% secara harian. Meskipun demikian, secara ytd saham PTBA masih membukukan kenaikan signifikan sebesar 28,45%.
Di sisi lain, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) ditutup pada harga Rp 5.750, naik 7,48% dari hari sebelumnya dan menguat 8,49% sejak awal tahun 2026.
Buyback Rp 2 T Dimulai, Harga Saham Blue Chip Ini Malah Melemah! Ada Apa?
Kinerja Keuangan Emiten MIND ID
Kinerja keuangan emiten MIND ID sepanjang tahun 2025 merefleksikan dinamika harga komoditas global yang terjadi selama periode tersebut.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan kinerja yang impresif dengan kenaikan pendapatan sebesar 22% *year-on-year* (yoy) menjadi Rp 84,64 triliun. Bahkan, laba bersih ANTM melonjak 106% yoy menjadi Rp 7,92 triliun.
Segmen emas menjadi kontributor utama dengan porsi 79% terhadap total pendapatan, yaitu sebesar Rp 66,47 triliun atau tumbuh 15% yoy. Sementara itu, segmen nikel menyumbang 18% pendapatan dengan kenaikan signifikan sebesar 56% yoy menjadi Rp 14,85 triliun.
Pendapatan dari segmen bauksit dan alumina juga mengalami peningkatan sebesar 62% yoy menjadi Rp 2,92 triliun.
Direktur Utama ANTM, Untung Budiharto, menyatakan bahwa capaian ini semakin memperkokoh posisi ANTM sebagai perusahaan pertambangan terintegrasi yang berfokus pada penciptaan nilai jangka panjang.
Berbeda dengan ANTM, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengalami tekanan kinerja. Pendapatan PTBA turun tipis 0,26% yoy menjadi Rp 42,65 triliun, sementara laba bersihnya anjlok 42,55% yoy menjadi Rp 2,93 triliun.
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menjelaskan bahwa tekanan ini disebabkan oleh penurunan harga batu bara global, meskipun perusahaan berhasil meningkatkan volume penjualan sebesar 6% yoy menjadi 45,42 juta ton.
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan kinerja yang lebih stabil dengan pendapatan naik 4,18% yoy menjadi US$ 990,19 juta dan laba bersih tumbuh 31,68% yoy menjadi US$ 76,06 juta.
Besok (3/4) Bursa Saham Libur, Cek Rekomendasi Saham Pilihan Analis Hari Ini
Prospek Saham Tambang 2026
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, berpendapat bahwa kinerja emiten MIND ID sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas global.
Kinerja cemerlang ANTM didorong oleh solidnya harga emas dan nikel, sementara tekanan pada PTBA mencerminkan normalisasi harga batu bara setelah melewati *supercycle* pada periode 2022–2023.
Sementara itu, INCO diuntungkan oleh stabilisasi harga nikel dan efisiensi operasional yang berhasil dilakukan.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, memproyeksikan bahwa PTBA berpotensi mencatatkan kinerja terbaik pada tahun 2026 seiring dengan potensi *rebound* harga batu bara global.
Namun, kinerja ANTM dan INCO diperkirakan akan mengalami normalisasi akibat tren *bearish* harga emas dan fluktuasi harga nikel, meskipun masih akan didukung oleh efisiensi dan peningkatan volume produksi.
Proyek hilirisasi disebut sebagai faktor kunci jangka panjang bagi emiten MIND ID karena berpotensi meningkatkan margin keuntungan dan mengurangi ketergantungan pada harga komoditas mentah.
Meski demikian, tantangan tetap ada, mulai dari volatilitas harga komoditas, risiko pembengkakan biaya proyek smelter, hingga tekanan nilai tukar rupiah.
Tonton: Kuwait Jadi Target Drone Iran, AS Bersiap Akhiri Operasi Militer
Rekomendasi Saham Pilihan
Arinda merekomendasikan saham ANTM dan INCO untuk dikoleksi dengan target harga masing-masing Rp 3.950 dan Rp 8.000 per saham.
Sementara itu, Wafi menilai saham PTBA, ANTM, dan INCO layak dipertimbangkan dengan target harga masing-masing Rp 3.200, Rp 3.600, dan Rp 4.500 per saham.
Dengan berbagai sentimen tersebut, investor disarankan untuk mencermati dinamika harga komoditas global serta perkembangan proyek hilirisasi sebelum mengambil keputusan investasi pada saham-saham tambang BUMN.
Ringkasan
Saham emiten tambang BUMN di bawah holding MIND ID menunjukkan tren positif hingga April 2026. Kinerja keuangan tahun 2025 ANTM mencatatkan kenaikan pendapatan dan laba bersih yang signifikan, didorong oleh kontribusi segmen emas dan nikel. Sementara itu, PTBA mengalami tekanan kinerja akibat penurunan harga batu bara global, meskipun volume penjualan meningkat. INCO mencatatkan kinerja yang lebih stabil dengan kenaikan pendapatan dan laba bersih.
Analis merekomendasikan saham ANTM dan INCO untuk dikoleksi, dengan target harga yang berbeda. Prospek saham tambang di masa depan dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas global dan perkembangan proyek hilirisasi. Investor perlu mencermati dinamika harga komoditas dan proyek hilirisasi sebelum berinvestasi pada saham tambang BUMN.