KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meski sejumlah indeks saham syariah masih menunjukkan kinerja yang kurang memuaskan sejak awal tahun, prospek saham syariah tetap menjanjikan, terutama menjelang dan selama bulan Ramadan. Variasi pergerakan antar indeks mengindikasikan adanya rotasi sektor dan perbedaan kekuatan fundamental di antara emiten.
David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, berpendapat bahwa pelemahan Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) lebih disebabkan oleh tekanan pasar secara umum, bukan karena perubahan fundamental pada saham-saham syariah itu sendiri.
“Memang secara year-to-date (ytd) masih tertekan, namun kami optimis akan ada pemulihan bertahap menuju semester kedua 2026, seiring dengan sentimen pasar yang membaik,” ungkapnya kepada Kontan, Rabu (18/2/2026).
Data per Rabu (18/2/2026) menunjukkan bahwa indeks JII mengalami penurunan sebesar 3,68% secara year-to-date, sementara ISSI turun lebih dalam, yaitu 5,69%. Namun, di sisi lain, IDX Sharia Growth justru mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,07%, dan IDX-MES BUMN 17 bahkan melonjak signifikan, mencapai 10,20%.
Menurut David, perbedaan kinerja ini mengindikasikan bahwa saat ini, penggerak utama pasar syariah adalah saham-saham dengan kapitalisasi besar, khususnya emiten berbasis BUMN yang memiliki fundamental yang relatif kokoh.
36 Saham Masuk Daftar Efek Syariah (DES) Desember 2025, Cek yang Prospek Investasi
“Kenaikan IDX MES BUMN mencerminkan bahwa investor mulai beralih fokus pada saham-saham dengan kinerja yang stabil dan valuasi yang lebih terjaga,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa indeks saham syariah berpotensi mengejar ketertinggalannya apabila IHSG mampu mempertahankan posisinya di atas level psikologis 8.200. Jika hal ini terjadi, saham-saham yang sebelumnya tertinggal memiliki peluang untuk mengalami penguatan lanjutan.
Dari sisi sentimen, arah kebijakan suku bunga menjadi faktor krusial. Proyeksi penurunan suku bunga Bank Indonesia menuju kisaran 4,25% pada akhir 2026 diyakini dapat menjadi katalis positif bagi saham syariah.
“Penurunan suku bunga umumnya mendorong konsumsi dan meningkatkan likuiditas pasar, yang pada gilirannya akan berdampak positif bagi emiten berbasis syariah,” paparnya.
Selain itu, kinerja sektor perbankan syariah juga menjadi penopang utama sentimen investor. David menyoroti bahwa performa PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) memiliki peran yang signifikan dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap indeks syariah.
Reksadana Syariah Diprediksi Solid pada 2026, Prospek Saham dan Obligasi Cerah
“Pertumbuhan laba yang konsisten menjadikan BRIS sebagai acuan utama bagi investor dalam menilai prospek ekonomi syariah nasional,” ujarnya.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah pergerakan di sektor komoditas. Banyak saham syariah berasal dari sektor pertambangan, terutama nikel dan batu bara. Kenaikan harga komoditas diyakini akan turut menopang prospek kinerja emiten-emiten di sektor ini.
Momentum Ramadan dan Idulfitri juga diperkirakan akan memberikan dorongan jangka pendek, khususnya bagi saham-saham di sektor ritel dan konsumer yang biasanya mengalami peningkatan permintaan selama periode tersebut.
Dalam hal pilihan saham, David merekomendasikan beberapa emiten yang layak untuk diperhatikan. Di sektor finansial, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dinilai menarik dengan strategi buy on weakness seiring dengan pertumbuhan bisnis yang stabil.
Sementara itu, saham-saham konsumer defensif seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) direkomendasikan untuk dibeli (buy) karena memiliki fundamental yang kuat dan kinerja yang relatif tahan terhadap volatilitas pasar.
Adapun di sektor pertambangan dan hilirisasi, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dinilai menarik dengan rekomendasi speculative buy, didukung oleh prospek harga nikel global serta efisiensi operasional.
Secara keseluruhan, David berpendapat bahwa saham syariah masih memiliki ruang untuk bertumbuh, terutama jika stabilitas pasar dapat terjaga dan tren penurunan suku bunga mulai terealisasi.
“Ramadan bisa menjadi katalis awal, tetapi arah pergerakan jangka menengah tetap akan ditentukan oleh fundamental emiten dan kondisi makro,” pungkasnya.
Rebalancing Daftar Efek Syariah Bawa Dampak ke Aliran Dana, Ini Rekomendasi Analis
Ringkasan
Meskipun beberapa indeks saham syariah menunjukkan kinerja kurang memuaskan di awal tahun, analis optimis akan adanya pemulihan bertahap menuju semester kedua 2026. Perbedaan kinerja antar indeks menunjukkan adanya rotasi sektor dan kekuatan fundamental emiten yang berbeda. Sentimen positif diharapkan datang dari potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia yang dapat mendorong konsumsi dan likuiditas pasar.
Momentum Ramadan dan Idulfitri diperkirakan memberikan dorongan jangka pendek pada saham ritel dan konsumer. Saham-saham seperti BRIS, INDF, dan NCKL direkomendasikan karena fundamental yang kuat dan prospek pertumbuhan di sektor masing-masing. Stabilitas pasar dan realisasi penurunan suku bunga menjadi kunci pertumbuhan saham syariah di masa depan.