
Shoesmart.co.id JAKARTA. Kabar baik bagi investor! Prospek sektor tembakau di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi akan mengalami pemulihan signifikan mulai tahun 2026, setelah melalui periode penuh tantangan sepanjang 2025. Perbaikan kinerja ini diperkirakan akan didorong oleh beberapa faktor kunci, termasuk stabilitas tarif cukai, dukungan stimulus fiskal pro-konsumsi, serta peningkatan daya beli masyarakat secara keseluruhan.
Abida Massi Armand, seorang analis terkemuka dari BRI Danareksa Sekuritas, optimis bahwa tahun 2026 akan menjadi titik balik krusial bagi industri hasil tembakau. Sektor ini berpotensi besar untuk bangkit dari tren kontraksi jangka panjang yang telah dialaminya. Indikasi pemulihan yang kuat ini tercermin dari proyeksi pertumbuhan laba bersih yang solid pada emiten rokok berskala besar.
Menakar Prospek Emiten Emas pada 2026, dan Saham yang Menarik Dikoleksi
Dari sudut pandang keuangan, kebijakan tarif cukai yang stagnan atau tidak mengalami kenaikan signifikan akan membuka ruang lebar bagi perbaikan margin keuntungan perusahaan. Sebagai contoh, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) diproyeksikan dapat mencatatkan lonjakan laba bersih hingga mencapai 41% pada tahun 2026. Tidak hanya itu, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) juga diperkirakan akan menunjukkan pemulihan laba yang jauh lebih kuat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sejalan dengan penguatan fundamental tersebut, pergerakan harga saham sektor tembakau diperkirakan akan tetap konstruktif dan menarik. Sentimen positif ini juga didukung oleh kebijakan fiskal pemerintah yang cenderung mendorong konsumsi rumah tangga, sehingga permintaan akan produk rokok berpotensi pulih secara bertahap. Selain itu, implementasi penambahan lapisan tarif cukai baru dinilai membawa dampak positif terhadap efisiensi operasional industri. Kebijakan ini menyediakan wadah legal bagi produk yang sebelumnya beredar di pasar gelap, secara efektif menekan praktik persaingan harga predatoris yang merugikan di pasar.
Investor Berpaling dari Saham Konglomerasi ke Blue Chips, Simak Rekomendasi Sahamnya
“Dengan berkurangnya rokok ilegal, emiten resmi memiliki ruang yang lebih besar untuk menyesuaikan harga jual rata-rata tanpa terbebani lonjakan cukai,” terang Abida kepada Kontan, Kamis (15/1/2026). Stabilitas tarif cukai yang diproyeksikan pada 2026 juga akan memberikan kesempatan emas bagi para emiten rokok untuk mengoptimalkan profitabilitas serta memperbaiki arus kas mereka. Dalam perspektif jangka menengah, kondisi ini secara signifikan akan memperkuat struktur keuangan perusahaan di tengah upaya pemulihan volume penjualan nasional.
HMSP Chart by TradingView
Emiten besar dengan pangsa pasar yang luas dan sensitivitas tinggi terhadap stabilitas biaya cukai, seperti HMSP dan GGRM, jelas akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari situasi ini. Di sisi lain, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) diprediksi akan menjadi penerima limpahan konsumen di segmen rokok murah (Tier 2), di mana mereka beralih dari produk ilegal ke produk resmi yang lebih terjamin kualitasnya.
Emiten Jasa Pendukung Bisnis Dinilai Cerah pada 2026, Cek Saham Rekomendasi Analis
Lebih jauh lagi, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai umum pada tahun 2026 dipandang sebagai sinyal penting perubahan pendekatan regulasi. Strategi yang lebih akomodatif ini memberikan kepastian fiskal yang sangat dibutuhkan bagi pelaku usaha dan investor, sekaligus secara signifikan menurunkan persepsi risiko regulasi yang selama ini cenderung menekan valuasi saham rokok. Kondisi yang menguntungkan ini membuka peluang terjadinya re-rating valuasi di sektor tembakau, seiring dengan meningkatnya optimisme terhadap keberlanjutan bisnis emiten dalam jangka menengah.
BBCA Akan Bayar Dividen Jumbo, Simak Rekomendasi Saham untuk Investor Ritel
Sejalan dengan prospek cerah tersebut, Abida Massi Armand dari BRI Danareksa Sekuritas memberikan pandangan positif terhadap sektor tembakau. Saham HMSP dan WIIM menjadi pilihan utama dengan rekomendasi “buy”, masing-masing dengan target harga Rp 800 dan Rp 2.000 per saham. Sementara itu, saham GGRM direkomendasikan “hold” dengan target harga Rp 17.500. Rekomendasi ini mencerminkan potensi pemulihan laba yang kuat dari GGRM, namun tetap mempertimbangkan risiko investasi non-inti yang dimiliki oleh perusahaan.
Ringkasan
Sektor tembakau di Bursa Efek Indonesia diproyeksikan akan pulih signifikan mulai tahun 2026, setelah menghadapi tantangan pada 2025. Pemulihan ini didorong oleh stabilitas tarif cukai, stimulus fiskal pro-konsumsi, serta peningkatan daya beli masyarakat. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, optimis 2026 menjadi titik balik bagi industri, dengan proyeksi pertumbuhan laba bersih yang solid pada emiten besar.
Kebijakan tarif cukai yang stagnan akan meningkatkan margin keuntungan, dengan HMSP diproyeksikan lonjakan laba bersih 41% dan GGRM menunjukkan pemulihan kuat. Emiten besar seperti HMSP dan GGRM akan sangat diuntungkan, sementara WIIM berpotensi menarik konsumen dari rokok ilegal. Abida merekomendasikan “buy” untuk HMSP (target Rp 800) dan WIIM (target Rp 2.000), serta “hold” untuk GGRM (target Rp 17.500).