
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Graha Prima Mentari Tbk (GPRM), yang merupakan entitas anak dari PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI), kini semakin menarik perhatian pasar modal dan investor global. Hal ini terjadi seiring dengan tren penguatan harga saham GPRM yang konsisten sejak awal tahun 2026, menandakan minat yang meningkat terhadap prospek bisnis perusahaan.
Menyikapi lonjakan minat tersebut, Agus Susanto, yang menjabat sebagai Direktur Utama baik di PMUI maupun GPRM, membenarkan adanya sejumlah pendekatan dari investor asing. Meskipun demikian, manajemen GPRM dan PMUI saat ini tengah melakukan kajian serta evaluasi secara cermat terhadap setiap tawaran yang datang. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap potensi kemitraan strategis akan selaras dengan strategi dan visi jangka panjang perusahaan, demi menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.
Indika Energy (INDY) Dirikan Perusahaan Baru, Begini Rekomendasi Sahamnya
Agus Susanto kembali menekankan komitmen ini dalam keterangan resminya pada Senin (19/1/2026), menyatakan, “Memang terdapat beberapa pendekatan dari investor asing. Saat ini kami masih mendalami setiap penawaran yang masuk dengan mempertimbangkan kepentingan dan strategi jangka panjang perusahaan.” Penegasan ini mengindikasikan bahwa manajemen tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Dari perspektif pergerakan saham, GPRM telah menunjukkan performa yang sangat signifikan. Harga saham GPRM melonjak dari kisaran Rp 84 per saham menjadi Rp 134 per saham, mencerminkan pertumbuhan lebih dari 60% secara year-to-date. Agus Susanto menuturkan, kinerja impresif ini merupakan bukti nyata dari meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek bisnis dan fundamental perusahaan yang kokoh. Lebih lanjut, sentimen positif ini diperkuat dengan pencatatan total net foreign buy di pasar sebesar Rp 182 miliar untuk saham GPRM sejak awal tahun 2026, mengindikasikan masuknya modal asing secara substansial.
Menilik kinerja keuangan GPRM hingga kuartal III-2025, perusahaan memang mencatatkan sedikit penurunan penjualan sebesar 11% secara tahunan (yoy) dan laba kotor turun 8%. Namun, patut digarisbawahi bahwa manajemen GPRM berhasil mengimplementasikan strategi peningkatan efisiensi operasional, yang berbuah manis dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 8%. Selain itu, penyesuaian struktur neraca dilakukan secara strategis dan terukur, terlihat dari penurunan total aset sebesar 14%, yang mengindikasikan upaya untuk mengoptimalkan aset perusahaan.
Kinerja positif ini semakin diperkuat oleh induk usaha, PMUI, yang membukukan laba bersih sebesar Rp33,73 miliar pada kuartal III-2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 25,98% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menegaskan posisi fundamental grup yang semakin solid dan stabil.
Sebagai informasi tambahan, GPRM beroperasi di sektor distribusi produk fast moving consumer goods (FMCG). Portofolio perusahaan sangat kuat, mencakup merek-merek ternama seperti minuman berkarbonasi dari grup Coca-Cola, produk perawatan wanita Softex, serta popok bayi dan dewasa merek Makuku. Fokus pada produk kebutuhan sehari-hari ini memberikan model bisnis yang tangguh dengan karakter pendapatan yang relatif defensif, membuatnya kurang rentan terhadap fluktuasi ekonomi dan lebih menarik bagi investor.
Suku Bunga Berpotensi Turun, Begini Proyeksi Kupon ORI029
Ringkasan
PT Graha Prima Mentari Tbk (GPRM), anak usaha PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI), semakin menarik perhatian investor global dengan penguatan harga saham yang konsisten sejak awal 2026. Direktur Utama Agus Susanto membenarkan adanya pendekatan dari sejumlah investor asing. Manajemen GPRM dan PMUI kini tengah melakukan kajian cermat terhadap setiap tawaran untuk memastikan keselarasan dengan strategi jangka panjang perusahaan.
Performa saham GPRM melonjak lebih dari 60% secara year-to-date, didukung oleh total net foreign buy sebesar Rp 182 miliar. Meskipun penjualan dan laba kotor GPRM pada kuartal III-2025 sedikit menurun, perusahaan berhasil meningkatkan laba bersih sebesar 8% berkat efisiensi operasional. Induk usahanya, PMUI, juga membukukan pertumbuhan laba bersih signifikan 25,98% yoy, menegaskan fundamental grup yang solid.