Shoesmart.co.id JAKARTA. Sesi I perdagangan hari ini, Kamis (12/2/2026), menjadi saksi bergairahnya saham sejumlah emiten produsen nikel. Warna hijau mendominasi, menandakan optimisme di tengah sentimen pasar.
Lonjakan harga saham perusahaan-perusahaan nikel ini didorong oleh kabar pemangkasan kuota produksi nikel Indonesia oleh PT Weda Bay Nickel untuk tahun 2026. Keputusan ini segera direspon positif oleh pasar.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi salah satu yang merasakan dampaknya. Pada pukul 12.40 WIB, saham ANTM naik 1% ke level Rp 4.030 per saham. Meskipun dalam sebulan terakhir mengalami penurunan 1,47%, kinerja saham ANTM secara year to date (YTD) menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 27,94%.
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat performa yang lebih impresif. Saham INCO melonjak 4,74% ke posisi Rp 7.175 per saham. Dalam sebulan terakhir, INCO berhasil tumbuh 12,11%, dan secara YTD mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 38,65%.
IHSG Ditutup Melemah ke 8.259,2 di Sesi Pertama, Top Losers LQ45: BREN, AMMN, BRPT
PT Harum Energy Tbk (HRUM) juga tak ketinggalan mencatatkan kenaikan. Saham HRUM naik tipis 0,88% ke harga Rp 1.145 per saham. Meski terkoreksi 10,89% dalam sebulan terakhir, secara YTD saham HRUM masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 6,51%.
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) turut menikmati sentimen positif ini. Saham NCKL naik 4,61% ke level Rp 1.475 per saham. Dalam sebulan terakhir, saham NCKL naik 4,61% dan secara YTD mencatatkan pertumbuhan 31,11%.
PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) pun tak luput dari penguatan. Saham DKFT naik tipis 0,58% ke posisi Rp 870 per saham. Meskipun dalam sebulan terakhir turun 5,43%, secara YTD saham DKFT masih mampu mencatatkan kenaikan 20%.
PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menjadi bintang di antara emiten nikel lainnya. Saham IFSH melonjak 5,32% ke level Rp 2.080 per saham di akhir sesi I perdagangan. Walaupun terkoreksi 0,95% dalam sebulan terakhir, secara YTD saham IFSH terbang tinggi dengan kenaikan mencapai 163,29%.
Tekanan MSCI Hingga Moody’s Bikin Dana Asing Kabur dari IHSG
Kenaikan harga saham emiten nikel ini sejalan dengan pergerakan harga nikel global. Data dari Reuters menunjukkan bahwa kontrak nikel paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) melonjak 2,49% ke 140.570 yuan (US$ 20.366,86) per ton pada pukul 02.50 GMT. Sebelumnya, bahkan sempat menyentuh kenaikan 3,14% pada sesi perdagangan.
Sementara itu, kontrak acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,70% menjadi US$ 17.990 per ton, melanjutkan tren positif dari kenaikan 2,23% pada hari Rabu.
Namun, data yang berbeda ditunjukkan oleh Trading Economics. Pada pukul 12.45 WIB, harga nikel terkoreksi 0,26% dari hari sebelumnya ke level US$ 17.986 per ton. Meski demikian, harga nikel masih naik 2,33% dalam sebulan terakhir dan 7,53% secara YTD.
Ringkasan
Saham sejumlah emiten produsen nikel mengalami kenaikan pada sesi I perdagangan hari ini, didorong oleh kabar pemangkasan kuota produksi nikel Indonesia. Beberapa emiten seperti ANTM, INCO, HRUM, NCKL, DKFT, dan IFSH mencatatkan kenaikan harga saham. IFSH menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan YTD mencapai 163,29%.
Kenaikan saham emiten nikel ini sejalan dengan pergerakan harga nikel global, meskipun terdapat perbedaan data antara Reuters dan Trading Economics. Kontrak nikel di Shanghai Futures Exchange melonjak, sementara di London Metal Exchange juga mengalami kenaikan. Namun, data Trading Economics menunjukkan koreksi harga nikel meskipun secara bulanan dan YTD masih mengalami kenaikan.