
JAKARTA. Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang diinisiasi oleh Danantara semakin mendekati tahap implementasi. Jika sesuai rencana, acara peletakan batu pertama atau groundbreaking dijadwalkan akan dilaksanakan pada Maret hingga April 2026. Persiapan proyek vital ini menunjukkan kemajuan signifikan.
Hingga saat ini, 24 perusahaan telah berhasil lolos kualifikasi untuk mengikuti proses tender proyek PSEL Danantara. Para peserta tender diharapkan menyerahkan proposal mereka pada Januari 2026, yang kemudian akan dilanjutkan dengan evaluasi mendalam sepanjang Januari hingga Februari 2026. Puncak dari proses ini adalah pengumuman pemenang dan penunjukan mitra bisnis atau Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP PSEL) pada Februari 2026.
Menariknya, seluruh dari 24 peserta lelang merupakan perusahaan asing. Mayoritas, tepatnya 20 perusahaan, berasal dari Tiongkok. Sisanya terdiri dari tiga perusahaan asal Jepang dan satu perusahaan dari Prancis, menunjukkan minat global yang kuat terhadap proyek waste to energy di Indonesia ini.
Raih Pinjaman dari Danantara, Krakatau Steel (KRAS) Jaminkan Kekayaan Rp 13,94 T
Sejumlah emiten lokal turut terlibat dan berpotensi meraih keuntungan dari lelang proyek waste to energy ini. Di antara emiten yang disorot adalah PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) dan PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA). Kedua emiten ini menunjukkan langkah strategis untuk berpartisipasi dalam proyek berskala besar tersebut.
PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) melalui anak usahanya, PT Parivarta Energi Nusantara, telah menjalin perjanjian pembentukan konsorsium. Konsorsium ini dibentuk bersama dengan dua perusahaan asing, yaitu China Hunan Construction Engineering Group Co. dari Tiongkok dan Kintan Usahasama Sdn. Bhd. dari Malaysia. Sejak awal, pembentukan konsorsium ini memang ditujukan untuk mengikuti tender proyek waste to energy Danantara, di mana China Hunan Construction Engineering Group Co. sendiri merupakan salah satu peserta lelang yang telah lolos kualifikasi.
Tak mau ketinggalan, PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) juga membidik peluang untuk berpartisipasi dalam proyek PSEL, khususnya untuk wilayah Bogor Raya dan Denpasar Raya. Untuk mencapai tujuan tersebut, OASA telah menggabungkan diri dalam konsorsium bersama Grandblue Environment Co. Ltd., memperkuat posisi mereka dalam persaingan tender.
Martha Christina, Head of Investment Information Team Mirae Asset Sekuritas, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemenang tender dengan pihak domestik. Menurutnya, para pemenang tender akan membentuk konsorsium dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), atau pihak swasta di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam paparannya pada Selasa (20/1), mengindikasikan bahwa masih terbuka lebar peluang bagi perusahaan dalam negeri yang telah terdaftar di bursa untuk digandeng oleh pemenang tender.
Danantara Alihkan Saham BUMN Karya, Ini Tujuannya
Selain SOFA dan OASA, beberapa emiten lain juga dikaitkan dengan sentimen positif dari proyek PSEL Danantara ini. Emiten-emiten tersebut meliputi PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHK), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC). Keterkaitan ini memicu dinamika menarik di pasar modal.
Sejak awal tahun, saham-saham emiten yang memiliki korelasi dengan proyek ini kompak menunjukkan penguatan signifikan, terutama menjelang pengumuman pemenang tender. Misalnya, saham SOFA tercatat menguat 30,65% secara year-to-date, mencapai Rp 486 per Rabu (21/1). Demikian pula, saham OASA meroket 96,97% secara year-to-date ke level Rp 520. Sementara itu, saham TOBA juga meningkat 12,82% sepanjang tahun 2026 berjalan ini, mencapai posisi Rp 845 hingga Rabu (21/1).
Ekky Topan, Investment Analyst dari Infovesta Kapital Advisory, mengamini bahwa penguatan saham BIPI, IMPC, OASA, SOFA, MHKI, dan TOBA belakangan ini didominasi oleh sentimen positif proyek PSEL Danantara. Hal ini menunjukkan bagaimana ekspektasi pasar dapat dengan cepat mendorong pergerakan harga saham emiten-emiten terkait.
BEI Sebut Kolaborasi Indeks dan ETF dengan Danantara Masih Dikaji
Namun, Ekky mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati. Jika hasil tender tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, potensi aksi lepas saham oleh investor sangat besar. Saham-saham tematik, yang melesat cepat karena ekspektasi, juga bisa anjlok dengan cepat apabila harapan tersebut tidak terpenuhi. “Strategi yang masuk akal adalah memperlakukan saham-saham ini lebih cocok untuk trading berbasis momentum, bukan untuk akumulasi agresif tanpa batas,” jelasnya kepada Kontan, Rabu (21/1), menyoroti sifat spekulatif dari investasi ini.
Di sisi fundamental, Ekky menambahkan bahwa emiten yang memiliki bisnis berjalan kuat di sektor energi cenderung lebih kokoh. Contohnya adalah TOBA, yang bisnis pengelolaan sampahnya sudah membuahkan hasil. Namun, perlu dicatat bahwa TOBA pernah menyatakan tidak terlibat langsung dalam program PSEL Danantara ini. Oleh karena itu, Ekky menilai kenaikan saham TOBA bukan semata-mata karena efek proyek tersebut.
Simak Berikut Kriteria Saham Incaran Danantara
“TOBA lebih tepat dilihat sebagai tema waste management secara umum, bukan semata menang tender Danantara. Sementara emiten lain, digerakkan oleh sentimen lelang tender,” pungkasnya, membedakan antara pergerakan saham yang didorong oleh sentimen proyek spesifik dan yang didorong oleh tema industri yang lebih luas.
Ringkasan
Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Danantara akan memulai groundbreaking pada Maret-April 2026, dengan pengumuman pemenang tender dijadwalkan Februari 2026. Sebanyak 24 perusahaan asing, didominasi dari Tiongkok, Jepang, dan Prancis, telah lolos kualifikasi tender. Para pemenang tender diharapkan akan membentuk konsorsium dengan entitas domestik, termasuk BUMN, BUMD, atau swasta.
Beberapa emiten lokal seperti PT Boston Furniture Industries (SOFA) dan PT Maharaksa Biru Energi (OASA) telah membentuk konsorsium dengan perusahaan asing peserta tender untuk meraih peluang. Sentimen positif terhadap proyek ini telah mendorong penguatan signifikan pada saham emiten terkait seperti SOFA, OASA, dan TOBA. Meski demikian, investor diimbau untuk berhati-hati dan melihatnya sebagai peluang trading momentum, karena potensi penurunan harga saham jika hasil tender tidak sesuai ekspektasi pasar. PT TBS Energi Utama (TOBA) juga menguat, namun kenaikannya dikaitkan lebih luas dengan tema pengelolaan sampah, bukan hanya proyek PSEL Danantara secara langsung.