Shoesmart.co.id JAKARTA. Memasuki awal tahun 2026, tren positif kinerja saham-saham lapis kedua atau second liner di pasar modal Indonesia menunjukkan keberlanjutan. Kondisi ini membuka peluang besar bagi saham-saham kategori ini untuk kembali menjadi penggerak utama pasar sepanjang tahun ini, melanjutkan dominasinya.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mengkonfirmasi pergerakan impresif ini. Indeks kumpulan saham-saham lapis kedua, IDX SMC Composite, tercatat tumbuh signifikan sebesar 7,59% secara year to date (ytd) hingga mencapai level 541,504 pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Januari 2026. Performa gemilang ini jauh melampaui Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya menguat 3,35% ytd, serta indeks LQ45 yang tumbuh 2,53% ytd dalam periode yang sama, menegaskan potensi saham-saham second liner.
Kinerja Saham Lapis Kedua Terus Melaju, Perhatikan Rekomendasi Berikut!
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa laju positif pergerakan indeks saham-saham lapis kedua ini sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar yang sedang berada dalam fase risk on mode. Ini adalah periode krusial di mana investor menunjukkan toleransi risiko yang lebih tinggi, mendorong mereka untuk lebih berani menempatkan modal pada saham-saham yang secara inheren memiliki profil risiko lebih tinggi.
Selama fase risk on ini berlangsung, para investor aktif melakukan rotasi portofolio. Mereka cenderung mengalihkan investasi dari saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip yang tergabung dalam indeks LQ45, menuju saham-saham lapis kedua yang valuasinya masih tergolong laggard atau tertinggal. “Secara fundamental, langkah ini merupakan strategi yang valid sebagai upaya mengejar ketertinggalan valuasi (catch up valuation),” ujar Wafi pada Jumat, 9 Januari 2026.
Senada dengan pandangan tersebut, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa tren kenaikan harga komoditas global, khususnya nikel dan emas, turut menjadi sentimen positif yang kuat. Sentimen ini memicu reli pada saham-saham lapis kedua di sektor terkait komoditas tersebut sejak awal 2026, memperkuat dorongan pergerakan pasar.
Kinerja Indeks Saham Barang Material Tumbuh Signifikan, Simak Rekomendasi Analis
Dalam kondisi pasar yang dinamis seperti ini, saham lapis kedua kembali berpeluang besar untuk menjadi penggerak utama di pasar, mengulang skenario positif yang terjadi pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyoroti bahwa penguatan IHSG yang sempat kembali menyentuh rekor all-time high di level 9.000, secara tidak langsung telah membawa dampak positif bagi indeks-indeks turunannya, termasuk IDX SMC Composite.
Lebih lanjut, pasar saham nasional juga mencatat net buy sekitar Rp 1,62 triliun dalam sepekan terakhir. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa minat investor global terhadap pasar saham Indonesia masih sangat tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda surut. Kendati sentimen January Effect mungkin tidak sekuat beberapa tahun lalu, efek psikologisnya masih terasa, terutama pada saham-saham lapis kedua dan yang berbasis komoditas.
“Awal tahun biasanya diwarnai oleh reposisi portofolio institusi, optimisme terhadap outlook ekonomi baru, serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Kombinasi faktor ini seringkali menjadikan Januari sebagai bulan yang positif bagi pasar,” ungkap Hendra pada Minggu, 11 Januari 2026. Secara umum, tren positif kinerja indeks saham lapis kedua diperkirakan masih akan berlanjut sepanjang tahun 2026, meskipun dengan pola pergerakan yang lebih selektif dan disertai potensi rotasi sektoral.
Kinerja Saham Lapis Kedua Mulai Tersendat, Begini Saran Analis
Sentimen utama yang diantisipasi dapat memengaruhi kinerja IDX SMC Composite ke depan adalah ekspektasi penurunan suku bunga acuan global. Penurunan ini akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi emiten-emiten yang sedang aktif mencari pendanaan, karena potensi berkurangnya beban cost of fund mereka. Selain itu, isu-isu bersifat korporasi seperti merger atau akuisisi, khususnya di sektor industri berbasis komoditas, juga berpotensi menjadi katalis positif tambahan yang mendorong indeks saham-saham lapis kedua.
Melihat peluang yang ada, saham-saham lapis kedua yang berpeluang menjadi unggulan tahun ini adalah emiten-emiten yang memiliki narasi pemulihan kinerja yang kuat serta arus kas operasional yang positif. Sektor-sektor yang patut dicermati meliputi penunjang migas, perkebunan atau crude palm oil (CPO), dan ritel menengah. “Secara fundamental, investor institusi bakal cenderung mencari saham mid-cap yang rutin membagikan dividen,” tutur Wafi, memberikan panduan penting dalam pemilihan saham.
Sektor Kesehatan Tumbuh Pesat di 2025, Cek Prospek dan Rekomendasi Sahamnya di 2026
Berdasarkan analisis tersebut, Wafi merekomendasikan beberapa saham lapis kedua yang dapat dipertimbangkan oleh investor pada tahun ini. Di antaranya adalah PT Elnusa Tbk (ELSA) dengan target harga Rp 580 per saham, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dengan target harga Rp 1.650 per saham, dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) dengan target harga Rp 1.050 per saham.
Hendra Wardana menambahkan bahwa selama konflik geopolitik global tidak berkembang menjadi krisis sistemik yang lebih parah, IHSG beserta indeks turunannya, termasuk IDX SMC Composite, diperkirakan akan relatif lebih tahan banting menghadapi gejolak. Terlepas dari berbagai sentimen positif, pendekatan akumulasi bertahap dan manajemen risiko yang disiplin tetap menjadi kunci utama. Hal ini akan memungkinkan investor untuk dapat menikmati peluang keuntungan yang muncul di awal tahun tanpa terjebak dalam euforia yang berlebihan.
Saham Lapis Dua Melaju Kencang, Simak Prospeknya di Tahun 2026
“Strategi investor yang paling relevan untuk memaksimalkan peluang keuntungan adalah tetap disiplin pada kombinasi momentum dan selektivitas sektor yang tepat,” tandas Hendra, menekankan pentingnya strategi yang terukur dan terarah dalam menghadapi dinamika pasar saham di tahun 2026.
Ringkasan
Saham lapis kedua di pasar modal Indonesia menunjukkan tren positif di awal tahun 2026, melampaui kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan LQ45. Indeks IDX SMC Composite tercatat tumbuh 7,59% secara year to date (ytd) hingga 9 Januari 2026. Performa ini didorong oleh kondisi pasar `risk on mode` yang memicu investor melakukan rotasi portofolio dari saham `blue chip` ke `second liner` untuk mengejar valuasi yang tertinggal, serta sentimen kenaikan harga komoditas global.
Prospek positif saham lapis kedua diperkirakan berlanjut sepanjang 2026, didukung ekspektasi penurunan suku bunga acuan global dan isu korporasi di sektor komoditas. Analis merekomendasikan fokus pada emiten dengan narasi pemulihan kinerja kuat dan arus kas operasional positif, khususnya di sektor penunjang migas, CPO, dan ritel menengah. Saham seperti ELSA, DSNG, dan MAPA menjadi rekomendasi utama, dengan saran investor menerapkan strategi akumulasi bertahap dan manajemen risiko disiplin.