
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah gejolak pasar saham, indeks IDX SMC Composite, yang menghimpun saham-saham lapis kedua, justru menunjukkan ketangguhannya. Hingga penutupan perdagangan Jumat (30/1/2026), indeks ini tercatat mengalami koreksi 3,44% secara year to date (ytd). Angka ini lebih baik dibandingkan dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi lebih dalam, mencapai 3,67% ytd.
Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama, melihat prospek saham lapis dua yang tergabung dalam IDX SMC Composite masih menyimpan potensi yang beragam (mixed). Namun, secara relatif, saham-saham ini dianggap lebih defensif dibandingkan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama dalam jangka pendek hingga menengah.
Menurut Ekky, sentimen terkait MSCI belakangan ini cenderung memberikan tekanan langsung pada saham-saham yang termasuk dalam indeks MSCI atau yang sering menjadi incaran investor karena potensi masuk ke dalam indeks tersebut. Sementara itu, saham lapis dua umumnya lebih rentan terhadap efek domino dari aksi panic selling.
Bitcoin vs Emas: Analis Ragukan Rotasi Dana ke Kripto dalam Waktu Dekat
“Jadi, jika sentimen negatif mulai mereda, saham lapis dua yang memiliki fundamental kuat biasanya akan lebih cepat pulih, bahkan mampu bergerak secara independen,” ujar Ekky kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).
Senada dengan hal tersebut, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, berpendapat bahwa di tengah tekanan yang dialami IHSG, saham lapis dua justru memperlihatkan daya tahan yang lebih baik. Hal ini disebabkan oleh eksposur asing yang lebih kecil dan valuasi yang belum semahal saham-saham berkapitalisasi besar (big caps).
“Secara historis, segmen ini juga cenderung pulih lebih cepat ketika sentimen pasar membaik. Basis kapitalisasi yang lebih kecil membuat pergerakan harga saham lapis dua lebih responsif terhadap katalis fundamental dan aksi korporasi,” jelas Abida kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).
Saham yang Layak Dicermati
Abida menambahkan bahwa saham-saham seperti BULL, AMRT, HRTA, dan PNLF dinilai menarik karena memiliki fundamental operasional yang solid, neraca keuangan yang relatif sehat, serta katalis pertumbuhan yang spesifik, seperti ekspansi bisnis, pemulihan volume perdagangan, atau peningkatan margin keuntungan.
“Emiten-emiten ini juga relatif belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi pasar dibandingkan dengan saham-saham lapis satu,” terang Abida.
Sementara itu, Ekky berpendapat bahwa saham lapis dua yang layak untuk dicermati investor adalah emiten dengan katalis yang jelas dan didukung oleh likuiditas yang memadai.
Salah satu contohnya adalah BULL, yang belakangan ini menjadi sorotan pasar dan sempat masuk dalam radar Unusual Market Activity (UMA). Hal ini mengindikasikan bahwa pergerakan saham tersebut sangat dipengaruhi oleh sentimen dan arus transaksi (flow), sehingga cenderung bersifat trader-driven.
Selain faktor sentimen, terdapat juga narasi fundamental dan operasional yang mendukung, seperti penambahan armada kapal LNG serta rencana ekspansi bisnis yang berpotensi menopang pertumbuhan hingga tahun 2026. Meskipun demikian, realisasi dari rencana-rencana tersebut tetap perlu dicermati.
Sementara itu, KIJA sering dikaitkan dengan meningkatnya aktivitas di kawasan industri dan harapan akan perbaikan kinerja. Namun, saham ini juga sempat masuk dalam daftar UMA, yang menandakan volatilitas pergerakannya cukup tinggi dan dipengaruhi oleh faktor teknikal serta flow. Selain itu, terdapat faktor korporasi berupa rencana pelepasan saham treasuri hingga pertengahan tahun 2026 yang berpotensi memengaruhi pasokan saham di pasar.
Dari sisi strategi investasi, Ekky menekankan bahwa saham lapis dua sebaiknya tidak diperlakukan layaknya saham blue chip.
“Instrumen ini lebih cocok bagi investor atau trader yang aktif,” jelas Ekky.
Strategi utama yang perlu diterapkan meliputi pengaturan porsi investasi yang konservatif, disiplin dalam menerapkan cut loss, serta selektif dalam memilih saham dengan likuiditas yang baik dan katalis yang jelas, bukan hanya mengandalkan kenaikan yang terjadi secara beruntun tanpa dasar fundamental yang kuat.
Pendekatan buy on weakness dan mengambil keuntungan secara bertahap di area resistance dinilai lebih aman, mengingat kondisi IHSG yang masih rentan sehingga aksi profit taking berpotensi terjadi lebih cepat.
Untuk profil investor yang lebih konservatif, fokus dapat diarahkan pada saham lapis dua dengan katalis operasional atau korporasi yang konkret serta didukung oleh aktivitas transaksi yang sehat, bukan sekadar euforia pasar.
Adapun Abida menyarankan agar investor fokus pada saham lapis dua yang memiliki arus kas yang stabil, pertumbuhan laba yang konsisten, serta likuiditas perdagangan yang memadai. Menurutnya, pendekatan bertahap melalui akumulasi saat terjadi koreksi dan disiplin dalam manajemen risiko menjadi penting, karena volatilitas saham lapis dua umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan saham-saham big cap.
Dengan mempertimbangkan prospek fundamental dan valuasi saat ini, Abida merekomendasikan untuk buy saham AMRT, SMDR, HRTA, dan PNLF dengan target harga masing-masing Rp 2.000, Rp 450, Rp 2.400, dan Rp 300.
Mahendra Siregar dan Inarno Djajadi Mundur dari OJK
Ringkasan
Di tengah volatilitas pasar modal, saham lapis dua yang tergabung dalam indeks IDX SMC Composite menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik dibandingkan IHSG. Saham-saham ini dinilai lebih defensif karena eksposur asing yang lebih kecil dan valuasi yang belum setinggi saham-saham berkapitalisasi besar. Para analis melihat potensi pemulihan yang lebih cepat pada saham lapis dua dengan fundamental yang kuat jika sentimen pasar membaik.
Beberapa saham lapis dua yang direkomendasikan untuk dicermati investor adalah emiten dengan katalis yang jelas, likuiditas memadai, dan fundamental operasional yang solid. Strategi investasi yang disarankan meliputi pengaturan porsi investasi konservatif, disiplin cut loss, serta fokus pada saham dengan arus kas stabil dan pertumbuhan laba konsisten. Pendekatan buy on weakness dan akumulasi bertahap saat koreksi juga disarankan.