Saham Jumbo Minim Likuiditas Kuasai Peta Kapitalisasi Pasar BEI

Shoesmart.co.id JAKARTA. Peta persaingan saham dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai berubah. Rotasi sektor yang tengah berlangsung menjadi penyebab utama, dengan emiten new economy masih mendominasi daftar teratas.

Data BEI per penutupan perdagangan Selasa (24/2/2026) menunjukkan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berhasil menduduki peringkat pertama dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 1.064 triliun. Pencapaian ini menandakan kekuatan sektor energi terbarukan di pasar modal Indonesia.

Di posisi kedua, bercokol PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 882 triliun. BBCA, sebagai representasi sektor perbankan, terus menunjukkan performa solidnya. Sementara itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menempati urutan ketiga dengan kapitalisasi pasar Rp 651 triliun.

Petrosea (PTRO) Umumkan Restrukturisasi Internal di Anak Usaha Rp 2,55 Miliar

Menariknya, tidak semua saham dalam jajaran 10 besar memiliki tingkat likuiditas yang tinggi. Pergerakan saham DSSA dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi contoh nyata. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai representasi kekuatan pasar yang sebenarnya.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory, Ekky Topan, menyoroti bahwa masuknya saham seperti DSSA dan DCII mengonfirmasi validitas perhitungan market cap, namun tidak selalu mencerminkan kekuatan riil di pasar. Likuiditas saham menjadi isu krusial yang perlu diperhatikan.

Ekky menjelaskan bahwa dengan jumlah saham yang beredar terbatas, kenaikan harga menjadi lebih mudah terjadi, sehingga market cap tampak besar secara artifisial. Bagi investor institusi, faktor investability tetap menjadi kunci utama dalam pengambilan keputusan investasi.

“Jadi, perdebatan muncul bukan karena nilai kapitalisasi pasar salah, akan tetapi karena profil likuiditasnya tidak selalu sebanding dengan besarnya kapitalisasi,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (24/2/2026), menegaskan pentingnya mempertimbangkan likuiditas selain market cap.

Pergerakan Rupiah Dibayangi Sentimen Geopolitik, Cek Proyeksinya untuk Rabu (25/2)

Lebih lanjut, Ekky menilai bahwa dengan adanya narasi rotasi ke saham fundamental bagus dan valuasi murah, peluang pergeseran klasemen tetap terbuka hingga akhir tahun. Meski demikian, perubahan drastis dalam waktu singkat dinilai tidak mungkin terjadi. Perubahan komposisi akan berlangsung bertahap.

“Perubahan market cap sangat tergantung arus dana institusi. Jika risk appetite membaik dan dana mulai kembali ke saham yang lebih rasional secara valuasi, maka pergeseran akan terjadi bertahap,” imbuhnya, menekankan peran penting sentimen pasar dan valuasi saham.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa saat ini sedang terjadi rotasi dari saham berbasis konsumsi menuju sektor komoditas dan old economy berbasis aset solid. Perubahan ini mencerminkan strategi investasi yang lebih konservatif.

Menurut Nafan, aliran dana investor besar atau smart money mulai terakumulasi pada saham berbasis logam dan komoditas. Hal ini menyebabkan saham konglomerasi tertentu mengalami penguatan lebih cepat dibandingkan saham perbankan. Logam dan komoditas menjadi daya tarik utama.

Diversifikasi Pasar, Kinerja Adaro Andalan (AADI) Diproyeksi Stabil di Kuartal I-2026

Nafan juga menyampaikan bahwa saham big caps saat ini mulai berada pada area undervalued dan menunjukkan potensi pembalikan tren. Momentum ini didukung oleh peluang pelonggaran kebijakan moneter. Pelonggaran moneter diharapkan menjadi katalis positif.

“Kalau suku bunga diturunkan tentu bagus karena likuiditas meningkat, apalagi saham big caps didukung dividend yield yang menarik,” kata Nafan, menggarisbawahi potensi keuntungan dari penurunan suku bunga dan daya tarik dividen saham-saham berkapitalisasi besar.

Lebih lanjut, dari jajaran 10 saham dengan market cap terbesar di BEI, Nafan menyukai saham BBCA, BBRI, AMMN, BMRI, TLKM, dan TPIA. Pilihan ini mencerminkan preferensi terhadap saham-saham dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan yang menjanjikan. Sementara itu, Ekky lebih menyukai saham dari sektor tambang dan energi.

Ekky menjelaskan bahwa fokus pemerintah pada hilirisasi, ditambah kondisi harga komoditas yang membaik, memberikan ruang bagi emiten-emiten sektor ini untuk kembali menjadi tujuan rotasi dana. Hilirisasi dan harga komoditas menjadi pendorong utama.

Selain itu, kata Ekky, emiten terkait kapal/logistik energi juga menarik karena story-nya lebih berbasis kebutuhan operasional dan kontrak, bukan hanya euforia jangka pendek. Investasi pada sektor ini dinilai lebih berkelanjutan.

“Sektor pangan juga layak diperhatikan karena kebutuhan cenderung stabil, potensi harga pakan yang lebih terkendali bisa bantu margin, dan dukungan permintaan dari program seperti MBG dapat menjadi katalis tambahan,” jelasnya, menambahkan sektor pangan sebagai alternatif investasi yang menarik karena stabilitas permintaannya.

Ringkasan

Peta kapitalisasi pasar di BEI mengalami perubahan dengan BREN menduduki peringkat pertama, diikuti oleh BBCA dan DSSA. Rotasi sektor ke new economy dan energi terbarukan menjadi penyebab utama, meskipun beberapa saham berkapitalisasi besar memiliki likuiditas yang rendah.

Analis menyoroti pentingnya mempertimbangkan likuiditas selain kapitalisasi pasar, karena kenaikan harga saham dengan jumlah saham beredar terbatas dapat memicu market cap yang besar secara artifisial. Rotasi ke saham fundamental bagus dan valuasi murah berpotensi terjadi, didorong oleh sentimen pasar dan valuasi saham yang menarik, terutama pada sektor komoditas dan old economy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *