Shoesmart.co.id, JAKARTA – Isu mengenai saham gorengan kembali mencuat dan menjadi perhatian publik setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan peringatan terkait aktivitas perdagangan saham berkapitalisasi kecil yang memiliki volatilitas tinggi di pasar modal Indonesia. Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan risiko investasi, terutama bagi investor ritel.
Sebagai informasi, MSCI adalah penyedia indeks global yang menjadi acuan utama bagi investor institusi di seluruh dunia, termasuk dana kelolaan besar seperti reksa dana global, dana pensiun, dan exchange traded fund (ETF).
Dalam pengumumannya, MSCI menyatakan akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS). Selain itu, mereka juga tidak akan mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
Ini Arti Saham Gorengan Menurut Bos Investasi Danantara
Lebih lanjut, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk perpindahan saham dari kategori Small Cap ke Standard. Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas, sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar untuk meningkatkan transparansi secara signifikan.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan saham gorengan? Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa saham gorengan adalah saham yang pergerakan harganya tidak mencerminkan mekanisme pasar yang sehat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Nafan menjelaskan bahwa kenaikan atau penurunan harga saham ini tidak didorong oleh keseimbangan permintaan dan penawaran yang wajar. “Pergerakan harga saham gorengan lebih banyak dipengaruhi oleh praktik manipulasi pasar,” ungkap Nafan pada Selasa (3/2/2026).
Ia mencontohkan pola pump and dump yang sering terjadi. Dalam skema ini, harga saham dinaikkan secara cepat untuk menarik minat investor. Setelah harga mencapai level tertentu, saham tersebut dilepas secara massal, menyebabkan harga anjlok dan menimbulkan kerugian bagi investor yang masuk belakangan.
Menurut Nafan, saham gorengan umumnya memiliki likuiditas yang rendah. Kondisi ini menyebabkan saham tersebut lebih mudah digerakkan oleh pihak-pihak tertentu karena volume transaksi yang tidak terlalu besar.
Investor Ritel Membanjir, Risiko Saham Gorengan Ikut Mengintai
Untuk menghindari risiko tersebut, investor disarankan untuk memilih saham-saham yang termasuk dalam indeks likuid BEI, seperti IDX30 dan LQ45. Selain itu, investor juga perlu membekali diri dengan analisis fundamental sebelum membuat keputusan investasi.
Sebagai informasi tambahan, IDX30 adalah indeks yang mengukur kinerja harga 30 saham dengan likuiditas tinggi, kapitalisasi pasar besar, serta fundamental perusahaan yang relatif kuat.
Saham-saham yang termasuk dalam IDX30 periode 2 Februari-30 April 2026 antara lain PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Indofood CBP Tbk (ICBP), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Indah Kiat Pulp & Paper Corp Tbk (INKP), dan beberapa saham lainnya.
Sementara itu, LQ45 merupakan kelompok yang terdiri dari 45 saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar. Saham-saham yang termasuk dalam Indeks LQ45 periode Februari – April 2026 antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan lainnya.
Ringkasan
MSCI mengeluarkan peringatan tentang saham berkapitalisasi kecil dengan volatilitas tinggi di Indonesia, berpotensi meningkatkan risiko investasi ritel. MSCI membekukan kenaikan FIF dan NOS serta penambahan saham baru ke dalam IMI untuk memitigasi risiko dan memberi waktu bagi otoritas meningkatkan transparansi.
Saham gorengan adalah saham yang pergerakan harganya dimanipulasi dan tidak mencerminkan mekanisme pasar yang sehat, seringkali melalui skema pump and dump. Investor disarankan memilih saham dalam indeks likuid seperti IDX30 dan LQ45, serta melakukan analisis fundamental sebelum berinvestasi untuk menghindari risiko.