Shoesmart.co.id, LONDON – Pasar keuangan global menunjukkan perubahan haluan yang signifikan hari ini setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan penundaan serangan militer terhadap fasilitas listrik dan infrastruktur energi Iran. Keputusan ini meredakan ketidakpastian dan kekhawatiran mendalam akan potensi guncangan yang lebih parah pada pasar minyak.
Reaksi pasar terhadap berita ini terbilang cepat dan dramatis. Harga minyak mentah Brent langsung merosot tajam, sementara nilai dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya. Di sisi lain, pasar saham justru mengalami penguatan, dan biaya pinjaman pemerintah pun menurun.
Fiona Cincotta, analis pasar senior di City Index, berpendapat, “Inilah yang dibutuhkan pasar untuk meralat ekspektasi terburuknya. Ini mengindikasikan potensi dibukanya kembali Selat Hormuz, dan hal ini langsung tercermin dalam pergerakan pasar.”
Lebih lanjut, Cincotta menambahkan, “Kelanjutan pemulihan di pasar saham ini sangat bergantung pada munculnya komentar-komentar positif lanjutan, terutama dari pihak Iran, yang menguatkan gagasan bahwa kemajuan tengah dicapai.”
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 13%, Trump Tunda Serangan ke Infrastruktur Energi Iran
Sentimen positif yang melanda pasar saham global ini dipicu oleh pernyataan Trump yang menyebutkan penundaan serangan dilakukan setelah percakapan yang produktif dengan Iran.
Namun, kantor berita Tasnim dari Iran, mengutip seorang pejabat, menyampaikan pernyataan yang bertentangan. Mereka menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi pra-perang dan pasar energi akan tetap labil. Selain itu, mereka juga membantah adanya negosiasi yang sedang berlangsung dengan AS.
Evelyne Gomez-Liechti, ahli strategi multi-aset di Mizuho, menyatakan bahwa berita utama dari media Iran yang bertentangan dengan komentar Trump ini sedikit meredam antusiasme pasar.
Meskipun demikian, optimisme tampaknya masih mendominasi pasar saat ini. Harga minyak mentah Brent terakhir tercatat turun 7% menjadi sekitar US$103 per barel, setelah sebelumnya sempat anjlok hingga US$15 dan menyentuh level US$96. Perlu dicatat bahwa Brent sempat mencapai US$119 per barel pada hari Jumat, 20 Maret 2026.
Imbal hasil obligasi pemerintah, yang sebelumnya mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya ekspektasi investor terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral di Eropa, kini justru mengalami penurunan tajam setelah pernyataan Trump.
Kontrak berjangka saham AS naik 1,4%, mengindikasikan pembukaan yang kuat di Wall Street. Bursa saham Eropa juga terpantau menguat 0,7%.
Investor Pangkas Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah Inggris untuk tenor acuan 2 tahun, yang paling terpukul oleh aksi jual obligasi sejak awal konflik, terakhir turun 6 basis poin pada hari itu, setelah sebelumnya sempat naik 13 bps. Imbal hasil 10 tahun juga turun dari level tertingginya sejak tahun 2008.
Investor kini memangkas taruhan mereka pada kenaikan suku bunga oleh Bank of England (BOE), dengan ekspektasi penuh hanya pada dua kenaikan pada akhir tahun, dibandingkan dengan lebih dari tiga kenaikan sebelumnya pada hari Senin, 23 Maret 2026. Pasar juga menurunkan ekspektasi untuk European Central Bank (ECB).
Di AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS turun 2-3 basis poin di seluruh kurva, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun terakhir turun menjadi 4,37%.
Harga Bitcoin Mulai Rebound, Tapi Sentimen Negatif Masih Besar
Dolar AS secara umum melemah setelah sebelumnya sempat menguat terhadap sebagian besar mata uang lainnya hingga berita penundaan serangan militer ini muncul.
Euro terakhir naik 0,1% menjadi $1,158, pulih dari titik terendah sebelumnya di US$1,1485.
“Ini jelas merupakan upaya untuk memperbaiki citra di tengah krisis yang kita saksikan. Kita melihat reaksi spontan terhadap berita positif ini,” kata Elias Haddad, kepala strategi pasar global di Brown Brothers Harriman.
Haddad menambahkan, “Tentu saja ada ruang untuk sedikit pelonggaran dalam perdagangan berbasis ketakutan. Reli yang lebih berkelanjutan pada aset berisiko akan bergantung pada apakah ini merupakan de-eskalasi yang sah atau hanya jeda sebelum eskalasi berikutnya.”
Ringkasan
Pasar keuangan global mengalami rebound setelah Presiden AS, Donald Trump, menunda serangan militer ke Iran. Keputusan ini meredakan kekhawatiran akan guncangan pada pasar minyak, yang langsung direspon dengan penurunan harga minyak mentah dan pelemahan nilai dolar AS. Sebaliknya, pasar saham menguat dan biaya pinjaman pemerintah menurun, menunjukkan optimisme pasar terhadap potensi de-eskalasi.
Meskipun ada pernyataan dari pejabat Iran yang membantah negosiasi dengan AS dan menegaskan ketidakstabilan pasar energi, sentimen positif masih mendominasi. Investor juga mulai memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral, sementara harga Bitcoin menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pemulihan berkelanjutan aset berisiko bergantung pada de-eskalasi yang sah dan bukan sekadar jeda sementara.