Saham Energi Bersih Tertekan Sentimen Global? Fundamental Jadi Penentu!

Shoesmart.co.id , JAKARTA – Penarikan diri Amerika Serikat (AS) dari sejumlah organisasi internasional di sektor energi bersih (EBT) telah memicu gelombang kegelisahan di pasar global. Namun, menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, dampak fenomena ini terhadap emiten EBT di Indonesia justru dinilai cenderung terbatas dan tidak bersifat langsung.

Meskipun demikian, tekanan sentimen tersebut segera tercermin pada pergerakan harga saham emiten energi baru terbarukan. Sehari setelah pengumuman penarikan AS, tepatnya pada penutupan perdagangan Rabu (8/1/2027), sejumlah saham EBT mengalami koreksi. Saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) ditutup turun 1,67%. Sementara itu, PT Maharaksa Biru Energi Tbk. (OASA), yang memiliki portofolio proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL), tergerus 9,71%.

Koreksi serupa juga melanda saham PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA), emiten yang tengah bertransformasi dari energi fosil ke energi bersih, merosot tajam 10,42%. Adapun saham PT Barito Renewable Energy Tbk. (BREN), yang fokus pada pembangkit listrik panas bumi dan energi angin, turun tipis 0,52%.

: Risiko Pendanaan Meningkat, Emiten Energi Bersih jadi Perhatian Investor

Namun, pada perdagangan berikutnya, Jumat (9/1/2026), sebagian saham EBT menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Saham PGEO menguat 1,27% ke Rp 1.195, OASA naik 2,15% ke Rp 380, dan TOBA tumbuh 1,16% ke Rp 870. Kendati demikian, saham BREN masih melanjutkan tren koreksi sebesar 0,79% ke Rp 9.475.

Menanggapi fluktuasi ini, Imam Gunadi menjelaskan bahwa “Koreksi harga saham yang terjadi lebih merefleksikan respons jangka pendek investor terhadap perubahan sentimen global, bukan perubahan mendasar pada prospek bisnis emiten EBT domestik.” Ia menegaskan bahwa secara struktural, proyek-proyek EBT di Indonesia tetap solid. Hal ini ditopang oleh kuatnya kebutuhan energi nasional dan komitmen pada kebijakan transisi energi dalam negeri. Pernyataan tersebut disampaikannya kepada Bisnis, Jumat (9/1/2026).

: : Saham Energi Bersih Fluktuasi, Investor Cermati Dampak Kebijakan AS

TBS Energi Utama Tbk. – TradingView

Dukungan pemerintah Indonesia terhadap pengembangan EBT terwujud melalui berbagai kebijakan strategis. Salah satunya adalah penetapan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Dokumen ini berfungsi sebagai peta jalan krusial bagi pengembangan pembangkit listrik nasional, termasuk target ambisius untuk meningkatkan bauran energi bersih yang saat ini masih didominasi energi fosil.

Jaminan pemerintah juga diperkuat dengan kebijakan pembelian listrik dari pembangkit EBT. Ini diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 5 Tahun 2025 tentang Pedoman Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) dari Pembangkit Listrik yang Memanfaatkan Sumber Energi Terbarukan, memberikan kepastian bagi investor energi bersih.

: : Profil Feisal Hamka, Putra Mahkota Raja Tol Jusuf Hamka yang Rajin Tambah Saham CMNP

Fokus khusus diberikan pada energi bersih berbasis limbah. Presiden Prabowo Subianto telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, yang menjadi dasar kuat bagi pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Skema pendanaan untuk PSEL ini juga didukung oleh Danantara, antara lain melalui penerbitan Patriot Bond, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menggalakkan energi terbarukan.

Lebih lanjut, Imam Gunadi menambahkan bahwa keluarnya AS dari organisasi energi bersih global tidak lantas mengganggu secara signifikan akses pendanaan emiten EBT di Indonesia. Menurutnya, pendanaan proyek EBT nasional sebagian besar bersumber dari perbankan domestik, badan usaha milik negara (BUMN), serta kerja sama jangka panjang dengan offtaker seperti PT PLN (Persero). Hal ini menggarisbawahi independensi sumber pendanaan dalam negeri.

“Selama proyek memiliki kepastian kontrak dan arus kas yang jelas, minat pendanaan akan tetap terjaga,” tegas Imam. Ia menyimpulkan bahwa isu global ini lebih berpengaruh pada sentimen jangka pendek pasar, sementara fundamental emiten EBT Indonesia secara keseluruhan tetap relatif solid dan prospektif.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Penarikan diri Amerika Serikat dari organisasi energi bersih global memicu kegelisahan pasar dan menyebabkan koreksi singkat pada saham emiten energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Namun, Equity Analyst Imam Gunadi menilai dampak terhadap emiten EBT domestik terbatas dan tidak langsung. Menurutnya, koreksi harga saham ini lebih merefleksikan respons jangka pendek investor terhadap sentimen global, bukan perubahan mendasar pada prospek bisnis.

Proyek-proyek EBT di Indonesia dinilai tetap solid, ditopang oleh kebutuhan energi nasional dan komitmen kebijakan transisi energi dalam negeri. Pemerintah mendukung pengembangan EBT melalui RUPTL 2025–2034, Peraturan Menteri ESDM tentang pembelian listrik EBT, serta Perpres untuk proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Pendanaan proyek EBT nasional juga sebagian besar bersumber dari perbankan domestik, BUMN, dan PLN, sehingga akses pendanaan tidak terganggu secara signifikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *