Saham Emas Koreksi Saat Harga Naik? Ini Rekomendasi Terbaik!

Shoesmart.co.id JAKARTA. Harga emas global terus meroket di tengah ketegangan geopolitik yang membara di Timur Tengah. Ironisnya, lonjakan harga emas kali ini tidak serta merta mendongkrak harga saham perusahaan-perusahaan tambang emas.

Berdasarkan data Bloomberg pada hari Rabu (11/3/2026), harga emas spot ditutup melemah tipis 0,3% menjadi US$ 5.176,46 per ons troi. Meskipun demikian, secara akumulatif, harga emas masih mencatatkan kenaikan sebesar 0,7% dalam sepekan terakhir. Bahkan, sempat menyentuh level di atas US$ 5.200 per ons troi pada hari sebelumnya.

Akan tetapi, fenomena berbeda justru terjadi pada pergerakan saham sejumlah emiten emas yang justru mengalami tren penurunan. Sebagai contoh, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terkoreksi sebesar 1,98% dalam sepekan terakhir, berada pada level Rp 3.970 per saham hingga Rabu (11/3/2026). Nasib serupa juga dialami oleh saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang turun 1,18% menjadi Rp 840 per saham dalam periode yang sama.

Penurunan juga menghampiri dua emiten yang tergabung dalam Grup Merdeka, yaitu PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS). Harga saham MDKA menyusut 1,75% ke level Rp 3.370 per saham, sementara EMAS terkoreksi 1,23% menjadi Rp 8.000 per saham dalam sepekan terakhir.

Bareksa Catat Lonjakan Transaksi Emas 331% dan Saham 271% Secara Tahunan

Penurunan paling signifikan terjadi pada saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang anjlok 9,84% ke level Rp 5.500 per saham dalam sepekan terakhir. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga tak luput dari tren negatif ini, dengan harga sahamnya melorot 3,67% ke level Rp 1.705 per saham dalam periode yang sama.

Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, menjelaskan bahwa pelemahan saham emiten emas ini sangat dipengaruhi oleh sentimen negatif pasar global terkait eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Menurut Liza, potensi disrupsi energi menciptakan risiko makro yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan, serta bursa saham global. Akibatnya, kinerja saham produsen emas ikut terdampak oleh pelemahan indeks secara kolektif.

Lebih lanjut, Liza menambahkan bahwa investor cenderung mengambil posisi untuk mengurangi risiko di tengah konflik yang berkecamuk. “Hal ini juga mempengaruhi penurunan harga saham, meskipun komoditas safe haven tersebut masih meningkat,” ujarnya pada hari Rabu (11/3/2026).

Senada dengan Liza, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, berpendapat bahwa tekanan yang dialami oleh saham-saham produsen emas disebabkan oleh sentimen *risk off* secara umum, termasuk adanya *capital outflow* di pasar saham. Wafi juga menyoroti bahwa saham MDKA dan AMMN turut terbebani oleh eksposur yang besar pada komoditas nikel dan tembaga.

“Valuasi mayoritas emiten sekarang sudah tergolong wajar dan beberapa sudah premium karena pasar sudah *priced in* reli emas,” imbuhnya pada hari Rabu (11/3/2026).

Cermati Rekomendasi Saham Teknikal AMRT, PTBA, TLKM untuk Kamis (12/3)

Wafi memperkirakan bahwa kinerja keuangan emiten-emiten emas berpotensi melampaui capaian tahun 2025, seiring dengan tingginya harga jual rata-rata komoditas emas.

Namun, dari sisi operasional, pertumbuhan volume penjualan emas berpeluang tertahan oleh batasan operasional pabrik dan kuota produksi yang ditetapkan pemerintah dalam Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB). Hal ini menyebabkan pasokan fisik emas seringkali tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan yang terjadi secara tiba-tiba.

Kendati demikian, Liza tetap optimistis terhadap prospek emiten emas pada tahun 2026, yang didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, penguatan harga emas dunia dan aksi akumulasi berkelanjutan oleh bank sentral global menjadi katalis utama.

Sementara itu, dari sisi internal, kemampuan emiten emas dalam meningkatkan volume produksi dan menjaga biaya menjadi faktor krusial bagi pertumbuhan kinerja keuangan mereka di masa mendatang.

“Terkait dinamika pasar, kami mengamati minat masyarakat terhadap emas fisik tetap sangat tinggi, yang tercermin dari premi harga ritel yang seringkali melampaui harga spot dunia,” jelasnya.

Lebih lanjut, Liza menekankan bahwa emiten produsen emas perlu memprioritaskan strategi pengendalian biaya produksi dalam menghadapi volatilitas pasar. Langkah ini dinilai sangat krusial agar emiten dapat memaksimalkan ekspansi margin laba di tengah momentum penguatan harga komoditas. Dengan demikian, kenaikan harga emas dunia dapat terkonversi secara optimal menjadi pertumbuhan laba bersih.

BRMS Chart by TradingView

Di sisi lain, Wafi berpendapat bahwa biaya pemeliharaan menyeluruh perlu ditekan dan realisasi ekspansi fasilitas pengolahan perlu dipercepat oleh emiten emas.

Emiten yang murni bergerak di industri emas dan sedang dalam fase peningkatan kapasitas produksi berpeluang menjadi pihak yang paling diuntungkan dari momentum kenaikan harga emas.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, Wafi merekomendasikan saham BRMS, ANTM, dan MDKA untuk dipertimbangkan oleh investor, dengan target harga masing-masing di level Rp 900 per saham, Rp 4.000 per saham, dan Rp 3.700 per saham.

Ringkasan

Meskipun harga emas global meningkat, saham perusahaan tambang emas seperti ANTM, BRMS, MDKA, EMAS, AMMN, dan ARCI justru mengalami penurunan. Penurunan ini dipengaruhi sentimen negatif pasar global akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, yang menekan IHSG dan bursa saham global secara keseluruhan.

Analis merekomendasikan saham BRMS, ANTM, dan MDKA karena valuasi emiten sudah wajar dan beberapa premium, dengan target harga masing-masing Rp 900, Rp 4.000, dan Rp 3.700. Emiten emas perlu memprioritaskan pengendalian biaya produksi dan mempercepat realisasi ekspansi fasilitas pengolahan agar dapat memaksimalkan ekspansi margin laba di tengah momentum penguatan harga komoditas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *