Shoesmart.co.id Jakarta. Pasar modal Indonesia menunjukkan pergeseran yang kian nyata. Jika sebelumnya saham-saham konglomerasi mendominasi, kini giliran sektor pertambangan yang mencuri perhatian investor.
Harga saham emiten tambang batubara di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menikmati tren positif pada Maret 2026. Di tengah penguatan ini, para analis tetap merekomendasikan pembelian saham sektor batubara, didorong oleh prospek kinerja yang dinilai masih menjanjikan.
Kinerja emiten batubara di tahun 2026 diproyeksikan membaik, terutama didorong oleh lonjakan harga batubara global. Pemicunya adalah kekhawatiran krisis energi akibat konflik geopolitik yang berkecamuk di Timur Tengah.
Saham PTBA dan ITMG Melonjak Signifikan
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menjadi salah satu emiten yang mencatatkan penguatan signifikan. Pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026, saham PTBA ditutup pada level Rp 2.970, naik 110 poin atau setara dengan 3,85% dibandingkan hari sebelumnya.
Dalam lima hari perdagangan terakhir, saham PTBA telah mengakumulasikan kenaikan sekitar 13,79%, menunjukkan kepercayaan investor yang tinggi.
Kenaikan serupa juga dialami oleh saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Di hari yang sama, saham ITMG melesat 975 poin atau 3,90% hingga mencapai level Rp 25.975 per saham.
Bahkan, dalam periode lima hari perdagangan terakhir, saham ITMG meroket hingga 15,7%, mengungguli kinerja PTBA.
Pasar Saham Tertekan, Investor Bisa Bidik Peluang Cuan di Saham LQ45
Harga Batubara Global Sentuh Titik Tertinggi dalam 15 Bulan Terakhir
Menurut data dari Trading Economics, harga batubara global sempat melonjak 7,23% ke level US$ 138 per ton pada Rabu, 4 Maret 2026. Angka ini merupakan level tertinggi dalam 15 bulan terakhir, menggambarkan betapa tingginya permintaan dan kekhawatiran pasar.
Namun, pada Kamis, 5 Maret 2026 pukul 16.40 WIB, harga batubara mengalami koreksi sekitar 3,70% ke level US$ 132,90 per ton. Meskipun terkoreksi, tren secara keseluruhan masih menunjukkan penguatan.
Secara bulanan, harga batubara tetap menunjukkan tren positif dengan kenaikan sekitar 14,57%.
Lonjakan harga batubara ini dipicu oleh penghentian operasional fasilitas Liquefied Natural Gas (LNG) di Qatar, yang menyumbang sekitar 20% dari kebutuhan LNG global. Gangguan ini disebabkan oleh eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, yang mendorong peralihan konsumsi energi ke batubara sebagai alternatif.
Analis: Kenaikan Harga Batubara Berdampak Positif bagi Emiten
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, berpendapat bahwa lonjakan harga batubara saat ini merupakan kombinasi dari premi risiko energi akibat konflik di Timur Tengah dan kebijakan pemangkasan produksi batubara dari Indonesia yang memperketat pasokan.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan *average selling price* (ASP) emiten batubara, yang pada gilirannya dapat meningkatkan profitabilitas.
Namun, Ekky mengingatkan bahwa dampak kenaikan harga komoditas tidak serta merta langsung tercermin dalam kinerja keuangan perusahaan. Hal ini disebabkan adanya kontrak jangka waktu tertentu dan proses pengiriman batubara yang membutuhkan waktu.
“Dampaknya terhadap kinerja kuartal I-2026 bisa mulai terlihat jika harga batubara bertahan selama beberapa pekan dan porsi kontrak jangka pendek cukup besar,” jelas Ekky.
Strategi Emiten Batubara di Tengah Harga Tinggi
Ekky menyarankan beberapa strategi yang perlu diperkuat oleh emiten batubara dalam kondisi harga komoditas yang tinggi, antara lain:
- Mengoptimalkan penjualan tanpa mengorbankan kepastian volume
- Menjaga efisiensi biaya dan logistik
- Disiplin dalam pengelolaan arus kas dan belanja modal (capex)
- Menjaga komunikasi terkait kebijakan dividen kepada investor
Optimalisasi ekspor juga menjadi strategi penting, terutama saat dolar AS menguat. Namun, perusahaan tetap perlu memperhatikan faktor *Domestic Market Obligation* (DMO), kuota ekspor, serta kebijakan energi domestik.
Menanti Persetujuan RKAB, Ini Prospek Kinerja Antam (ANTM) pada 2026
Peluang Ekspor di Tengah Penguatan Dolar AS
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menambahkan bahwa emiten batubara dapat memaksimalkan penjualan ekspor untuk memanfaatkan tingginya harga batubara global. Penguatan dolar AS juga berpotensi meningkatkan pendapatan dan margin perusahaan.
Selain itu, strategi kontrak jangka menengah dinilai penting untuk menangkap peluang dari harga pasar yang sedang tinggi.
Namun, Abida mengingatkan bahwa risiko tetap ada, mulai dari fluktuasi permintaan global, kenaikan biaya logistik, hingga tekanan kebijakan energi bersih yang berpotensi membatasi permintaan batubara dalam jangka panjang.
Tonton: Prabowo Perintahkan Cadangan Minyak RI 3 Bulan! Antisipasi Perang Timur Tengah
Rekomendasi Saham Batubara
Secara umum, analis menilai saham sektor batubara masih menarik selama harga komoditas tetap tinggi. Meski demikian, investor disarankan untuk menerapkan strategi yang lebih konservatif seperti *buy on weakness* dan disiplin melakukan *profit taking*.
Saham yang direkomendasikan antara lain PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), yang dinilai memiliki likuiditas baik serta kebijakan dividen yang menarik bagi investor.
Ekky Topan menargetkan harga saham PTBA dalam jangka pendek dapat mencapai Rp 3.200 per saham, sedangkan ITMG berpotensi menuju Rp 25.400 per saham.
Sementara itu, Abida Massi Armand juga merekomendasikan kedua saham tersebut dengan target harga Rp 3.100 per saham untuk PTBA dan Rp 27.300 per saham untuk ITMG.
Ringkasan
Saham emiten batubara di Bursa Efek Indonesia mengalami tren positif pada Maret 2026, didorong oleh lonjakan harga batubara global akibat kekhawatiran krisis energi terkait konflik geopolitik di Timur Tengah. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatatkan penguatan signifikan, dengan harga batubara global menyentuh titik tertinggi dalam 15 bulan terakhir.
Analis merekomendasikan pembelian saham sektor batubara dengan strategi konservatif seperti *buy on weakness* dan *profit taking*. Kenaikan harga batubara berpotensi meningkatkan *average selling price* (ASP) emiten, namun dampaknya tidak langsung terasa karena adanya kontrak jangka waktu tertentu. PTBA dan ITMG direkomendasikan karena likuiditas yang baik dan kebijakan dividen yang menarik.