Saham Batu Bara: Peluang di Balik Permintaan China? Cek Rekomendasi!

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Sektor batubara di Indonesia menghadapi periode menantang, dengan sebagian besar emiten mencatat penurunan kinerja signifikan sepanjang Januari hingga September 2025. Namun, sejumlah faktor kunci, seperti dinamika permintaan dari China dan pergerakan harga komoditas global, diperkirakan akan menjadi penentu utama perbaikan kinerja sektor batubara di masa mendatang. Kondisi pasar yang fluktuatif ini menuntut para pelaku industri untuk merumuskan strategi adaptif demi menjaga stabilitas dan profitabilitas.

Inav Haria Chandra, seorang Analis dari Sinarmas Sekuritas, mengamati bahwa permintaan batubara termal China sedang mendekati titik puncak struktural, dan ia memprediksi puncaknya akan tercapai sebelum tahun 2030. Meskipun kekhawatiran akan keamanan energi terus mendorong peningkatan produksi batubara dan persediaan mencapai rekor tertinggi hingga tahun 2025, Inav menyoroti bahwa tren permintaan yang mendasarinya justru menunjukkan lintasan yang melambat. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran fundamental dalam konsumsi energi di salah satu pasar terbesar dunia.

Dalam risetnya yang dirilis pada 7 Januari 2026, Inav menjelaskan, “Pangsa batubara dalam bauran energi telah terus menurun, dan kami memperkirakan akan turun di bawah 50% pada akhir dekade ini seiring dengan peningkatan penyebaran energi terbarukan.” Pernyataan ini menegaskan bahwa transisi energi global mulai memberikan dampak nyata terhadap permintaan komoditas fosil. Lebih lanjut, ia mencatat bahwa panduan Rencana Lima Tahun China yang telah direvisi kini lebih fleksibel, dengan tujuan “mencari puncak” dalam penggunaan batubara dan minyak sepanjang periode 2026–2030, sebuah perubahan dari komitmen sebelumnya yang “mengurangi secara bertahap”.

Dorong Hilirisasi Batubara, Mind Id Menggandeng Pertamina, Simak Dampaknya ke PTBA

Inav menafsirkan revisi kebijakan China ini sebagai kalibrasi ulang jalur dekarbonisasi. Meskipun pembakaran batubara mungkin berlanjut dalam jangka pendek, ia meyakini bahwa permintaan di sektor energi telah memasuki fase pertumbuhan yang menurun. “Dengan latar belakang ini, kami melihat potensi kenaikan yang terbatas untuk harga batubara yang diangkut melalui laut dalam jangka panjang, dan memandang hambatan struktural akan terus membatasi valuasi produsen batubara murni,” ujar Inav. Pandangan ini menunjukkan bahwa investor perlu mempertimbangkan prospek jangka panjang yang lebih konservatif untuk emiten batubara.

Di sisi lain, Inav percaya bahwa revisi target produksi Indonesia untuk tahun 2026 akan bertindak sebagai penstabil harga batubara di tengah melemahnya permintaan impor dari Tiongkok. Ini memperkuat tesis bahwa batas bawah harga akan bertahan di level US$ 100/ton hingga US$ 110/ton. Pada kisaran harga ini, sekitar 10% dari produsen global, termasuk 74% pasokan dari Rusia, beroperasi di bawah biaya tunai mereka, yang secara logis meningkatkan kemungkinan pemotongan pasokan di masa mendatang. Kondisi ini dapat memberikan dukungan terhadap harga di tengah tekanan pasar.

Target 2026: PTBA Kejar Hilirisasi Batubara Jadi DME Ganti LPG

Meskipun disiplin di sisi pasokan ini berpotensi menahan risiko penurunan harga, Inav mencatat adanya tekanan yang meningkat pada kualitas pendapatan. “Volume ekspor Indonesia yang berkurang dan alokasi Domestic Market Obligation (DMO) yang lebih tinggi kemungkinan akan mengurangi harga jual rata-rata (ASP) dan menekan margin, terutama bagi produsen dengan paparan yang lebih besar terhadap batubara berkualitas tinggi, yang lebih bergantung pada pasar pengiriman laut yang sedang melemah,” terang Inav. Para penambang ini menghadapi risiko penurunan yang sangat besar karena ASP mereka lebih sensitif terhadap pergeseran harga dan memiliki perlindungan terbatas dari penetapan harga domestik yang diatur.

Inav menyimpulkan, “Secara keseluruhan, meskipun harga batubara mungkin tetap stabil, profitabilitas sektor batubara dapat terhambat secara struktural karena margin yang tertekan dan kualitas campuran yang memburuk.” Proyeksi ini menggarisbawahi tantangan mendasar yang dihadapi emiten batubara dalam menjaga keuntungan di tengah dinamika pasar dan regulasi yang terus berubah.

Adaro Andalan Indonesia (AADI) Coba Bertahan Di Tengah Tekanan Harga Batubara

Berbeda dengan pandangan terhadap pasar ekspor, Rizal Rafly, Analis Fundamental Ajaib Sekuritas Asia, memproyeksikan permintaan batubara domestik akan tetap stabil. Penggunaan batubara di dalam negeri diperkirakan sekitar 200 hingga 230 metrik ton (Mt) pada tahun 2026, sedikit berbeda dari 233 Mt pada tahun 2024 dan sekitar 220 Mt pada tahun 2025. Angka ini memicu perdebatan mengenai potensi peningkatan DMO sebesar 25%, mengingat produksi sebesar 750 Mt akan mengurangi volume DMO menjadi 188 Mt, di bawah kebutuhan domestik sekitar 230 Mt. Kebijakan ini akan sangat memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar lokal.

Secara keseluruhan, Rizal menjelaskan dalam risetnya pada 12 Desember 2025, bahwa pajak ekspor, disiplin produksi, dan potensi pengetatan DMO akan mendefinisikan kembali lanskap batubara Indonesia pada tahun 2026. Faktor-faktor ini juga akan menentukan kekuatan penetapan harga di pasar regional, di mana India dan Asia Tenggara menyumbang sekitar 35% dari total permintaan. “Kami memperkirakan harga batubara akan stabil atau secara bertahap pulih menuju kisaran US$ 120/ton – US$ 125/ton pada tahun 2026, didukung oleh pengetatan pasokan dan permintaan impor yang kuat secara struktural dari India dan Asia Tenggara,” ucap Rizal, memberikan harapan adanya sedikit pemulihan.

Kinerja Golden Energy (GEMS) Terdampak Anjloknya Ekspor Batubara, Ini Kata Analis

Sementara itu, Helen, Analis Philip Sekuritas Indonesia, mengidentifikasi beberapa faktor kunci yang mempengaruhi kinerja emiten batubara, antara lain paparan penjualan batubara yang signifikan terhadap pasar domestik dan rasio pembayaran dividen yang tinggi. Namun, risiko potensial juga perlu diperhatikan, termasuk fluktuasi harga batubara yang tak terduga dan kebijakan iklim yang terus berkembang secara global, yang bisa menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan sektor batubara.

Menanggapi kondisi pasar ini, para analis memberikan rekomendasi beragam bagi emiten batubara. Inav Haria Chandra merekomendasikan Buy saham PT Indika Energi Tbk (INDY) dengan target harga Rp 3.300 per saham. Rizal Rafly merekomendasikan Buy saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan target harga Rp 24.300 per saham. Adapun Helen merekomendasikan Hold saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga Rp 2.400 per saham, mencerminkan pandangan hati-hati terhadap prospek jangka pendek emiten tersebut.

Ringkasan

Sektor batubara di Indonesia menghadapi periode menantang dengan penurunan kinerja, namun permintaan dari China dan pergerakan harga komoditas global diperkirakan menjadi penentu utama. Analis Sinarmas Sekuritas, Inav Haria Chandra, memprediksi permintaan batubara termal China mendekati puncak sebelum 2030, seiring penurunan pangsa batubara dalam bauran energi akibat energi terbarukan. Revisi kebijakan China untuk “mencari puncak” penggunaan batubara mengindikasikan potensi kenaikan harga batubara yang terbatas dalam jangka panjang serta hambatan struktural bagi produsen. Secara keseluruhan, profitabilitas sektor diperkirakan terhambat secara struktural karena margin yang tertekan dan kualitas campuran yang memburuk.

Di sisi lain, revisi target produksi Indonesia untuk tahun 2026 diharapkan menstabilkan harga batubara di kisaran US$ 100-US$ 110/ton, didukung oleh potensi pemotongan pasokan global. Permintaan batubara domestik diproyeksikan stabil, meskipun potensi pengetatan Domestic Market Obligation (DMO) dan pajak ekspor akan membentuk lanskap batubara Indonesia ke depan. Analis Ajaib Sekuritas Asia, Rizal Rafly, memperkirakan harga batubara akan pulih bertahap menuju US$ 120-US$ 125/ton pada 2026, didukung pasokan ketat dan permintaan impor India serta Asia Tenggara. Beberapa rekomendasi saham diberikan: Inav merekomendasikan Buy INDY, Rizal Buy ITMG, dan Helen dari Philip Sekuritas Hold PTBA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *