
JAKARTA – Pergerakan harga saham sektor perbankan di pekan-pekan awal tahun 2026 menunjukkan tren yang bervariatif, sebuah kondisi yang dinilai masih dipengaruhi oleh efek teknikal pasar. Meskipun sejumlah bank besar atau big banks terlihat masih lesu, optimisme membayangi karena berbagai sentimen positif diperkirakan akan muncul di kuartal I-2026, berpotensi mendorong kenaikan harga saham perbankan tersebut.
Pada penutupan perdagangan Jumat (9/1/2026), saham big banks memang menampilkan pergerakan yang tidak seragam. Hanya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang berhasil menguat secara harian, naik 0,93% menjadi Rp 8.125. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terkoreksi 0,71% ke Rp 4.180, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 0,81% ke Rp 3.680, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah 1,04% menjadi Rp 4.760.
Namun, jika diamati dalam rentang waktu sepekan, BBCA tidak sendirian dalam tren penguatan, mencatatkan kenaikan 1,25%. BBRI juga berhasil menguat 1,10%. Kontras dengan itu, BBNI dan BMRI masih membukukan koreksi signifikan, masing-masing sebesar 1,88% dan 6,21% dalam periode yang sama.
Menariknya, di tengah fluktuasi saham big banks, beberapa bank digital justru mampu mempertahankan tren penguatan selama sepekan terakhir. Contohnya, PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) melonjak 3,45% mencapai Rp 240 dan PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) naik 5,45% ke Rp 232.
Tak hanya itu, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) juga menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan 0,42% menjadi Rp 482, diikuti oleh PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang menguat 0,25% ke Rp 1.975. Kinerja yang lebih baik dari saham bank digital ini, yang juga terlihat sepanjang tahun 2025, menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, lebih banyak didorong oleh faktor teknikal dan sentimen pasar.
Abida menjelaskan kepada Kontan pada Jumat (9/1/2026) bahwa faktor-faktor seperti rebalancing portofolio, aksi ambil untung, dan minimnya katalis baru menjadi pendorong utama. Pasar masih dalam fase wait and see dan penyesuaian setelah reli selektif sebelumnya. Oleh karena itu, Abida memprediksi tren outperformance ini kemungkinan hanya akan bertahan hingga adanya data kinerja perbankan terbaru atau kebijakan yang lebih jelas, dan tidak didukung oleh fundamental jangka panjang.
Secara kinerja fundamental, Abida mengakui bahwa big banks menghadapi tekanan pada tahun 2025 akibat margin bunga bersih yang sempit dan biaya beban yang relatif tinggi. Namun, ia melihat adanya potensi perbaikan pada tahun 2026. Potensi ini didukung oleh stabilisasi margin bunga seiring dengan siklus BI Rate yang cenderung akomodatif, proyeksi pertumbuhan kredit yang lebih solid (khususnya kredit korporasi dan konsumsi), serta valuasi saham perbankan yang relatif menarik dan berpeluang menarik kembali minat investor, baik domestik maupun asing.
Senada dengan pandangan tersebut, Analis Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer berpendapat bahwa perbedaan kinerja antara saham big banks dan bank digital dipengaruhi oleh ekspektasi pasar yang lebih condong ke arah bank-bank digital. Sebelumnya, rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menghapus kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) I telah memicu ekspektasi kenaikan nilai buku perusahaan pada bank digital demi memenuhi syarat KBMI II.
Selain itu, Miftahul juga menyoroti bahwa porsi saham bank digital cenderung lebih kecil dibandingkan dengan saham big banks. Hal ini menyebabkan dampak pergerakan saham-saham tersebut menjadi lebih volatil dan tidak memerlukan modal besar untuk mendorong kenaikan harganya. Miftahul meyakini bahwa performa saham big banks tahun ini berpotensi membaik, didorong oleh tren suku bunga serta perbaikan kualitas dan penyerapan kredit. Ia merekomendasikan BBRI dengan target harga akhir tahun di Rp 4.620 per saham.
Secara keseluruhan, Abida memproyeksikan pergerakan saham perbankan akan cenderung sideways hingga moderat. Katalis lain yang akan memengaruhi meliputi arus modal asing, serta pembagian dividen dan aksi korporasi yang umumnya terjadi pada kuartal I dan II. Pilihan saham perbankan Abida masih jatuh pada big banks, yaitu BBCA, BBNI, dan BMRI, masing-masing dengan target harga tiga bulan di level Rp 10.800, Rp 4.700, dan Rp 5.500. Di samping itu, ia juga merekomendasikan saham lapis dua, seperti PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), dengan target harga tiga bulan masing-masing di level Rp 1.300 dan Rp 3.200.
Ringkasan
Pergerakan harga saham sektor perbankan di awal tahun 2026 menunjukkan tren bervariasi, dipengaruhi efek teknikal pasar. Meskipun beberapa bank besar awalnya lesu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berhasil menguat dalam sepekan. Sebaliknya, saham bank digital seperti AGRO dan AMAR justru mencatatkan penguatan signifikan, yang menurut analis lebih didorong oleh faktor teknikal, rebalancing portofolio, dan sentimen pasar.
Analis memprediksi adanya potensi perbaikan fundamental untuk bank-bank besar pada tahun 2026, didukung oleh stabilisasi margin bunga, proyeksi pertumbuhan kredit yang solid, dan valuasi yang menarik. Perbedaan kinerja dengan bank digital juga dipengaruhi ekspektasi pasar serta porsi saham yang lebih kecil dan volatil. Rekomendasi analis meliputi saham bank besar seperti BBCA, BBNI, BMRI, dan BBRI, serta bank lapis dua seperti BBTN dan BRIS.