Saham Anti Perang: Bukan Migas, Reli Panjang Justru di Sini!

Shoesmart.co.id JAKARTA – Gejolak geopolitik di penghujung Februari 2026, ditandai dengan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$100 per barel. Reaksi di pasar modal pun tak terhindarkan, saham-saham emiten minyak dan gas (migas) langsung melesat tinggi.

Indeks saham sektor energi (IDXENERGY) sempat mencuri perhatian sebagai satu-satunya sektor yang bertahan di zona hijau. Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) beserta seluruh indeks sektoral lainnya terjerembap ke zona merah.

Namun, euforia sektor migas tak bertahan lama. Risiko yang ditimbulkan oleh konflik global pada akhirnya menyeret IHSG untuk melanjutkan koreksi signifikan, diikuti oleh penurunan di seluruh saham sektoral. Harga minyak global pun mulai menunjukkan tren penurunan.

Di tengah pusaran konflik, muncul pertanyaan, sektor mana yang berpotensi meraup keuntungan? Sayangnya, reli singkat saham migas tak mampu bertahan lama.

Mereka yang Balik Arah di Medco (MEDC) Ketika Harga Minyak Mendidih

Pengamat Pasar Modal dan Co-Founder Pasardana, Yohanis Hans Kwee, berpendapat bahwa Presiden AS, Donald Trump, sebenarnya tidak memiliki niat untuk terlibat dalam perang berkepanjangan dengan Iran.

Menurutnya, Trump tengah berupaya menjaga citra politiknya menjelang Pemilihan Parlemen November 2026. Pemilu ini akan memilih anggota Kongres, termasuk seluruh 435 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan sepertiga kursi di Senat, serta gubernur di berbagai negara bagian.

“Donald Trump tentu tidak ingin popularitasnya tergerus, karena jika Partai Republik kalah dan Demokrat menang, ia akan menghadapi banyak impeachment (pemakzulan). Jadi, ia tentu sangat berhati-hati,” ujar Hans dalam Investor Relations Forum 2026 di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Terganggunya pasokan minyak global akibat serangan AS ke Iran turut membebani Trump. Hans menjelaskan bahwa harga minyak di AS telah melonjak 21%. Berdasarkan survei, 60% masyarakat AS menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap langkah Trump menyerang negara produsen keempat terbesar di OPEC tersebut.

Survei juga menunjukkan bahwa 61% masyarakat tidak puas dengan kebijakan ekonomi Donald Trump. Menyadari situasinya tidak menguntungkan, Hans menjelaskan bahwa Trump mengambil strategi dengan mengeluarkan pernyataan bahwa perang dengan Iran berakhir dengan kemenangan, padahal ia sedang berupaya menarik diri dari konflik yang lebih banyak merugikan AS.

“Melihat itu, kita tidak berpikir harga minyak ini akan sustainable naik tinggi. Seharusnya minyak akan turun dan ekonomi dunia memang melambat. Sehingga, normalnya harga minyak berada di US$60-US$70, dan spekulasi di minyak bukan menjadi pilihan utama,” jelasnya.

Kode Keras di Emiten Batu Bara Indo Tambangraya (ITMG)

Hans mengatakan bahwa tema sentral dunia ke depan masih berpusat pada sektor teknologi buatan atau AI. Menurutnya, bubble teknologi bisa terjadi apabila capital expenditure (capex) suatu industri telah mencapai 2-5% dari GDP. Saat ini, capex teknologi AI masih di bawah 1%, menjadi sinyal bahwa sektor ini memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.

Menurutnya, tantangan utama dalam pengembangan teknologi AI saat ini adalah kekurangan infrastruktur listrik. Secara bisnis, sumber energi listrik paling ekonomis saat ini adalah pembangkit tenaga nuklir, disusul oleh batu bara.

“Jadi, batu bara akan booming ke depan. Indonesia berada dalam kondisi yang cukup seksi. Kemudian juga nikel,” ujarnya.

Menurutnya, semua infrastruktur pendukung pengembangan teknologi AI, termasuk data center, akan memiliki daya tarik signifikan. Dalam konteks konflik geopolitik, Hans melihat perang global saat ini bukan lagi soal ideologi, melainkan perebutan sumber daya atau resources.

Sektor lain yang dinilai memiliki prospek jangka panjang adalah komoditas emas. Terlebih, nilai tukar dolar AS saat ini tidak lagi relevan sebagai aset lindung nilai. Emas pun mendapatkan momentumnya.

Ringkasan

Gejolak geopolitik yang dipicu oleh serangan AS dan Israel ke Iran sempat mendorong harga minyak dan saham sektor energi (IDXENERGY) melonjak. Namun, euforia ini tidak bertahan lama karena risiko konflik global dan potensi melambatnya ekonomi dunia. Analis memprediksi harga minyak akan kembali normal dan spekulasi di sektor migas bukan menjadi pilihan utama.

Sektor teknologi AI diprediksi menjadi tema sentral dengan potensi pertumbuhan jangka panjang. Untuk mendukung pengembangan AI, kebutuhan akan infrastruktur listrik akan meningkat, sehingga batu bara dan nikel akan mengalami booming. Selain itu, emas juga dinilai memiliki prospek jangka panjang sebagai aset lindung nilai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *