Rupiah Volatil Pekan Depan? Ini Sentimen yang Wajib Kamu Pantau!

JAKARTA. Nilai tukar rupiah terpantau melemah di pasar spot pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026). Data menunjukkan penurunan sebesar 0,12% ke level Rp 16.925 per dolar Amerika Serikat (AS). Jika dibandingkan dengan posisi Jumat (27/2/2026) di level Rp 16.787 per dolar AS, rupiah mengalami pelemahan sebesar 0,82% dalam sepekan.

Menjelang pekan depan, proyeksi pergerakan rupiah masih menunjukkan potensi volatile, menghadirkan tantangan bagi para pelaku pasar.

Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, menyoroti langkah lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. Menurutnya, keputusan ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah yang perlu segera direspons.

Sebagai respons terhadap situasi ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwa pemerintah tengah berupaya menggenjot penerimaan negara. Salah satu langkah utama yang sedang didorong bersama Kementerian Keuangan adalah implementasi pembaruan sistem inti administrasi perpajakan, yang dikenal dengan istilah Coretax.

Adaro Andalan Indonesia (AADI) Bukukan Penurunan Pendapatan dan Laba Bersih pada 2025

“Pemerintah akan melakukan evaluasi mendalam dan memperbaiki arah kebijakan ke depan, terutama dalam memitigasi risiko dari sisi penerimaan negara yang dinilai lemah oleh Fitch,” tegasnya, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani masalah ini.

Mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi, Ibrahim memprediksi bahwa pergerakan rupiah dalam sepekan mendatang akan berada di rentang Rp 16.850 hingga Rp 17.100 per dolar AS. Proyeksi ini memberikan gambaran tentang potensi fluktuasi yang perlu diantisipasi.

Mengulas pergerakan rupiah selama sepekan terakhir, Ibrahim menjelaskan bahwa kombinasi sentimen global dan domestik telah meningkatkan kehati-hatian di kalangan pelaku pasar. Ketidakpastian global dan tantangan internal menjadi faktor utama yang mempengaruhi sentimen pasar.

Dari sisi eksternal, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama ketidakpastian di pasar global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah berlangsung selama tujuh hari tanpa menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran yang signifikan bagi investor.

Menurut Ibrahim, meningkatnya serangan rudal dan aksi balasan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran akan potensi terganggunya pasokan energi global. Kondisi ini mendorong investor untuk mengalihkan dana mereka ke aset-aset yang dianggap lebih aman, sebagai upaya untuk melindungi nilai investasi di tengah ketidakpastian.

“Presiden AS Donald Trump mengatakan ia ingin berperan dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya setelah perang berakhir, pernyataan yang menggarisbawahi meningkatnya ketidakpastian tentang masa depan politik kawasan tersebut,” jelas Ibrahim pada Jumat (6/3/2026), menyoroti dampak geopolitik terhadap pasar keuangan.

Raih Pendapatan US$ 3,9 Miliar, Simak Capaian Operasional PGN (PGAS) pada 2025

Sementara itu, dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari keputusan lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. Penurunan ini menambah tekanan pada rupiah dan pasar keuangan domestik.

Salah satu pertimbangan utama Fitch adalah rendahnya rasio pajak Indonesia yang stagnan di kisaran 9% hingga 10% terhadap produk domestik bruto (PDB) selama satu dekade terakhir. Bahkan pada tahun 2025, rasio pajak tercatat turun dari 10,08% pada tahun 2024 menjadi 9,31%, menunjukkan adanya tantangan dalam penerimaan negara.

Fitch juga memproyeksikan rasio pendapatan negara terhadap PDB Indonesia hanya sekitar 13,3% pada periode 2026-2027. Angka ini jauh di bawah median negara dengan peringkat BBB yang mencapai 25,5%, mengindikasikan perlunya upaya lebih besar untuk meningkatkan penerimaan negara.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah melemah sebesar 0,82% dalam sepekan terakhir dan diprediksi akan volatil pada pekan depan. Sentimen negatif dipicu oleh keputusan Fitch Ratings yang menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, serta eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan ketidakpastian global.

Pemerintah merespons dengan berupaya menggenjot penerimaan negara melalui implementasi sistem inti administrasi perpajakan (Coretax) dan evaluasi mendalam terhadap arah kebijakan. Pergerakan rupiah pada pekan depan diperkirakan berada di rentang Rp 16.850 hingga Rp 17.100 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *