Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) menyoroti fenomena penurunan signifikan aliran modal asing ke Indonesia selama dua tahun terakhir. Kondisi fundamental ini utamanya dipicu oleh pelemahan pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju yang secara langsung membatasi pergerakan dana global menuju pasar keuangan domestik. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa pasar keuangan global saat ini memang sedang dilanda kelesuan. Akibatnya, meskipun instrumen keuangan Indonesia menawarkan imbal hasil yang tetap kompetitif dan menarik, arus modal asing yang masuk ke tanah air masih saja terbatas.
Destry menjelaskan lebih lanjut bahwa ketidakpastian ekonomi global telah secara konsisten mendorong para investor untuk mengalihkan portofolio mereka ke aset-aset safe haven. Fenomena ini tercermin dari bertahannya harga komoditas seperti emas dan perak di level tinggi, yang juga didukung oleh penguatan signifikan Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY).

Selain itu, peningkatan ketegangan geopolitik global dan kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat turut memperkeruh sentimen pasar. Konsekuensinya, penguatan dolar AS yang masif terhadap mata uang negara maju, seperti yang terekam jelas pada tingginya DXY, secara langsung menghambat laju aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Melihat kompleksitas tantangan tersebut, Destry menekankan pentingnya kewaspadaan yang tinggi serta penguatan fundamental kebijakan ekonomi domestik. Langkah-langkah ini krusial untuk menjaga daya tahan ekonomi Indonesia dari gejolak ketidakpastian global, sekaligus menjadi fondasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan di masa mendatang.
Dalam konteks domestik, Bank Indonesia mencermati bahwa nilai tukar rupiah saat ini telah mencapai titik depresiasi yang cukup dalam. Menanggapi kondisi ini, BI telah menyiapkan serangkaian langkah strategis untuk merespons tantangan dan memelihara stabilitas nilai tukar. Destry Damayanti secara lugas menyatakan, “Pergerakan tren rupiah saat ini sudah berada pada kondisi too depreciate. Ini sebenarnya adalah saatnya bagi rupiah untuk dapat menemukan level fundamental barunya.” Meskipun demikian, pada penutupan perdagangan Kamis (22/1/2026), nilai tukar rupiah sempat menunjukkan penguatan tipis, dengan data Bloomberg mencatat rupiah bertengger di level Rp16.896 per dolar AS.

Destry menguraikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah merupakan hasil kombinasi kompleks antara faktor-faktor global dan domestik. Guna meredam tekanan dari sisi domestik, BI sigap mengambil langkah intervensi melalui strategi triple intervention yang komprehensif. Strategi ini melibatkan intervensi aktif di tiga segmen pasar utama: pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pasar spot, dan pasar Surat Berharga Negara (SBN). Destry menambahkan, “NDF dan DNDF merupakan transaksi forward yang berfungsi sebagai lindung nilai (hedging). Jadi, apabila rupiah sedang bergejolak, dan Anda belum membutuhkan dana spot saat ini namun akan memerlukannya di kemudian hari untuk pembayaran utang misalnya, Anda bisa membeli DNDF atau NDF terlebih dahulu.”

Melalui penerapan strategi intervensi yang terukur ini, Bank Indonesia optimis stabilitas nilai tukar rupiah dapat senantiasa terjaga di tengah fluktuasi dan tekanan global. Lebih dari itu, langkah-langkah ini diharapkan dapat menopang ketahanan pasar keuangan dan memperkuat fondasi perekonomian nasional secara keseluruhan.
Ringkasan
Bank Indonesia (BI) menyoroti penurunan signifikan aliran modal asing ke Indonesia selama dua tahun terakhir, utamanya akibat perlambatan ekonomi negara maju dan ketidakpastian global yang mengalihkan investor ke aset *safe haven*. Kondisi ini memperkuat dolar AS dan membatasi modal ke pasar berkembang, termasuk Indonesia, meskipun imbal hasil domestik kompetitif. Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menekankan kewaspadaan dan penguatan fundamental ekonomi domestik untuk menjaga ketahanan.
Menyikapi depresiasi Rupiah yang dinilai “terlalu dalam,” BI telah menyiapkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar. BI melakukan intervensi melalui strategi *triple intervention* di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), spot, dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk meredam tekanan. Langkah ini diharapkan dapat menopang stabilitas Rupiah, ketahanan pasar keuangan, dan memperkuat fondasi perekonomian nasional.