Rupiah Terkoreksi: Penguatan 3 Hari Beruntun Terhenti di Rp 16.694

Shoesmart.co.id JAKARTA. Perjalanan penguatan rupiah yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut harus terhenti pada perdagangan Selasa, 11 November 2025. Mata uang Garuda ini terpantau melemah di tengah dinamika pasar global yang kompleks.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup dengan pelemahan 0,24%, mendarat di level Rp 16.694 per dolar AS. Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di Rp 16.654 per dolar AS, mengakhiri tren positif yang sempat dinikmati.

Pelemahan rupiah ini sejalan dengan pergerakan beberapa mata uang Asia lainnya, yang terjadi di tengah menguatnya dolar AS dan munculnya sentimen positif di pasar global. Sentimen ini terutama dipicu oleh kemajuan signifikan dalam pembahasan kesepakatan untuk mengakhiri penutupan pemerintahan (shutdown) Amerika Serikat yang telah berlangsung dalam waktu cukup lama.

Di panggung pasar global, yen Jepang mencatat kinerja yang kurang menguntungkan, anjlok ke posisi terlemahnya sejak Februari. Berlawanan arah, mata uang yang lebih sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia dan poundsterling justru menunjukkan penguatan signifikan terhadap dolar AS. Sementara itu, euro tercatat stabil di US$1,1555, dan poundsterling berhasil naik ke US$1,3165.

Kemajuan positif terkait shutdown AS berasal dari Senat AS yang pada hari Senin sebelumnya telah berhasil meloloskan rancangan undang-undang. RUU ini bertujuan untuk memulihkan pendanaan federal dan secara resmi mengakhiri shutdown terpanjang dalam sejarah AS. Langkah selanjutnya, RUU tersebut kini telah dikirim ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS. Ketua DPR, Mike Johnson, telah menyatakan komitmennya untuk segera mengesahkan RUU ini dan mengirimkannya kepada Presiden Donald Trump agar dapat disahkan menjadi undang-undang, yang diharapkan membawa stabilitas lebih lanjut ke ekonomi AS.

Sentimen pasar dorong pergerakan mata uang

Dolar Australia menjadi salah satu mata uang yang paling diuntungkan dari perkembangan ini, menguat 0,7% mencapai US$0,6536 setelah pemungutan suara di Senat AS. Meskipun demikian, penguatan tersebut sempat terkoreksi sedikit di sesi Asia sore hari, bergerak kembali ke sekitar US$0,6520.

Moh Siong Sim, Strategis dari Bank of Singapore, menjelaskan bahwa pasar valuta asing (valas) bergerak seiring dengan peningkatan selera risiko (risk-on sentiment). “Mata uang yang sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia mendapatkan keuntungan, sementara mata uang safe haven seperti yen justru melemah,” ujarnya, dilansir dari Reuters.

Yen Jepang terus berada di bawah tekanan. Kondisi ini diperparah oleh pernyataan Perdana Menteri baru, Sanae Takaichi, yang menyerukan kehati-hatian Bank of Japan dalam menaikkan suku bunga. Situasi ini kontras dengan pembuat kebijakan AS yang justru mulai menahan diri dari pemangkasan suku bunga lanjutan, menciptakan divergensi kebijakan moneter yang memengaruhi yen.

Bart Wakabayashi, Manajer Cabang State Street di Tokyo, mengomentari bahwa ekspektasi konvergensi suku bunga antara AS dan Jepang tampaknya tidak berjalan semulus yang diharapkan. “Kemungkinan investor yang sebelumnya mengambil posisi long pada yen mulai menutup posisi mereka, menambah tekanan jual pada mata uang Jepang,” tambahnya.

Dolar Selandia Baru dan won Korea tertekan

Sementara itu, dolar Selandia Baru (NZD) terpantau melemah 0,2% ke US$0,5635, mendekati level terendah dalam tujuh bulan terakhir. Pelemahan ini terjadi setelah sebuah survei menunjukkan ekspektasi inflasi yang lemah pada kuartal IV-2025 dan potensi penurunan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

“Pelemahan kiwi (julukan dolar Selandia Baru) mencerminkan perbedaan arah kebijakan moneter dengan Australia, di mana prospek ekonomi Selandia Baru masih menunjukkan tanda-tanda kelesuan,” demikian tulis laporan dari Reuters, menggarisbawahi tantangan ekonomi yang dihadapi negara tersebut.

Dari kawasan Asia Timur, won Korea Selatan juga menghadapi tekanan tajam, merosot ke posisi terendah dalam tujuh bulan dan mencatatkan pelemahan lebih dari 2% sepanjang bulan November. Kiyong Seong, Kepala Strategi Makro Asia di Societe Generale Hong Kong, menjelaskan bahwa kenaikan dolar terhadap won (USD/KRW) belakangan ini terutama didorong oleh arus keluar portofolio. “Khususnya, ini disebabkan oleh investasi domestik ke saham-saham AS yang kian meningkat,” pungkasnya, menunjukkan pergeseran minat investor Korea Selatan.

Ringkasan

Pada hari Selasa, 11 November 2025, rupiah mengalami koreksi dan mengakhiri penguatan tiga hari berturut-turut, melemah 0,24% ke level Rp 16.694 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring dengan penguatan dolar AS dan sentimen positif pasar global terkait kemajuan kesepakatan untuk mengakhiri penutupan pemerintahan AS (shutdown).

Pergerakan mata uang Asia lainnya juga turut terpengaruh, dengan yen Jepang melemah dan dolar Australia menguat. Sentimen pasar yang mendorong peningkatan selera risiko menjadi faktor utama, di mana mata uang safe haven seperti yen tertekan sementara mata uang yang sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia justru menguat. Dolar Selandia Baru dan won Korea Selatan juga mengalami tekanan pelemahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *