JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 16.828 per dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis (12 Februari 2026). Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,25% dibandingkan hari sebelumnya yang berada di posisi Rp 16.786 per dolar AS.
Di tengah fluktuasi mata uang Asia, rupiah menjadi satu-satunya mata uang yang mengalami penurunan terhadap dolar AS pada sore hari ini, dengan pelemahan yang sama, yaitu 0,25%. Kondisi ini kontras dengan kinerja mata uang regional lainnya.
Mayoritas mata uang Asia justru menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Won Korea memimpin dengan penguatan tertinggi, mencapai 0,44%. Diikuti oleh peso Filipina yang menguat 0,32%, dan yen Jepang yang menguat 0,20%.
Ringgit Malaysia juga tercatat menguat sebesar 0,14%, sementara yuan China naik 0,13%. Baht Thailand menguat tipis 0,10%, disusul rupee India dengan penguatan 0,09%. Dolar Taiwan mencatatkan penguatan 0,08%, dolar Hong Kong menguat 0,01%, dan dolar Singapura terpantau stagnan.
Sementara itu, indeks dolar yang menjadi tolok ukur kekuatan dolar AS terhadap mata uang utama dunia berada di level 96,89. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi hari sebelumnya yang berada di 96,83, mengindikasikan penguatan tipis pada mata uang Paman Sam tersebut.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, ditutup pada Rp 16.828 per dolar AS pada hari Kamis, 12 Februari 2026. Pelemahan ini sebesar 0,25% dibandingkan hari sebelumnya, menjadikannya satu-satunya mata uang Asia yang mengalami penurunan di tengah penguatan mata uang regional lainnya.
Mata uang Asia lainnya mayoritas menguat terhadap dolar AS, dipimpin oleh Won Korea. Sementara itu, indeks dolar menunjukkan penguatan tipis, mengindikasikan bahwa dolar AS secara umum juga mengalami penguatan terhadap mata uang utama dunia.