Rupiah Terancam! Timur Tengah Bergejolak, BI Siaga di Pasar Valas

Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) mewaspadai peningkatan volatilitas pasar keuangan global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Meski pasar valuta asing (valas) domestik tutup selama periode libur bersama Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, BI menjamin upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tetap berjalan optimal.

1. Perdagangan Rupiah di Pasar Luar Negeri dan Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa meskipun pasar keuangan dalam negeri tidak beroperasi selama libur Lebaran, aktivitas perdagangan rupiah di pasar internasional terus berlangsung. Fluktuasi nilai tukar rupiah di pasar luar negeri ini berpotensi memengaruhi kondisi perekonomian Indonesia.

2. BI Siaga Penuh Melakukan Intervensi di Pasar Valas

Menyikapi potensi dampak eskalasi konflik Timur Tengah, Destry menegaskan bahwa BI akan memaksimalkan seluruh instrumen kebijakan moneter yang tersedia untuk memperkuat ketahanan eksternal. “Termasuk mengambil langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan demi menjaga stabilitas perekonomian nasional,” ungkap Destry dalam keterangan resminya, Kamis (19/3/2026).

3. Sinergi dengan KPw BI di New York untuk Memantau Pergerakan Rupiah

Sebelumnya, usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diadakan pada Selasa (17/3), Destry mengungkapkan bahwa BI terus memantau secara seksama pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), atau yang dikenal juga sebagai pasar valuta asing offshore (luar negeri). “Inilah yang terus kami antisipasi. Kami memantau pasar rupiah terhadap dolar selama 24 jam, khususnya melalui pasar NDF. Pemantauan ini terus berjalan, bahkan selama libur Lebaran,” tegas Destry.

BI juga menjalin kerja sama erat dengan Kantor Perwakilan BI di New York untuk memastikan pemantauan yang komprehensif. “Jika diperlukan, kami siap melakukan intervensi di pasar NDF,” imbuh Destry.

Selain upaya intervensi, BI terus berupaya menstabilkan nilai tukar rupiah melalui peningkatan transaksi menggunakan mata uang selain dolar AS, yang dikenal dengan istilah Local Currency Transaction (LCT). Destry menjelaskan, “Nilai transaksi LCT pada bulan Februari mencapai 4,1 miliar dolar AS. Kontributor terbesar adalah China, dengan nilai transaksi bulanan mencapai tiga miliar dolar AS. Totalnya mencapai 4,12 miliar dolar AS per Februari. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan mata uang selain dolar semakin meningkat di Indonesia.”

Ringkasan

Bank Indonesia (BI) mewaspadai volatilitas pasar keuangan global akibat konflik di Timur Tengah dan memastikan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga meskipun pasar valas domestik tutup selama libur. Fluktuasi nilai tukar rupiah di pasar internasional berpotensi memengaruhi perekonomian Indonesia.

BI siap memaksimalkan instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal dan melakukan intervensi di pasar valas, termasuk di pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Selain itu, BI juga terus mendorong penggunaan Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *