JAKARTA – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih akan menghadapi tekanan signifikan sepanjang pekan ini. Sentimen eksternal global yang kuat dinilai belum mampu diimbangi secara optimal oleh intervensi Bank Indonesia (BI) maupun berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah.
Sebagai gambaran situasi terkini, pada Senin (19/1/2026) pukul 13.15 WIB, mata uang Garuda tercatat terus melemah 0,22%, mencapai level Rp 16.925 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini sekaligus menandai posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah, memicu kekhawatiran di pasar keuangan.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, secara tegas menyatakan bahwa tren pelemahan rupiah diperkirakan akan berlanjut. Berdasarkan analisis teknikal, rupiah berpotensi besar tertekan hingga mendekati level Rp 17.100 per dolar AS dalam waktu dekat. “Pelemahan rupiah kemungkinan besar terjadi di minggu ini di Rp 17.100,” ujar Ibrahim pada Minggu (18/1/2026).
Ibrahim menekankan bahwa efektivitas intervensi BI dan kebijakan pemerintah sejauh ini belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah secara signifikan. Meskipun data ekonomi domestik menunjukkan kinerja yang cukup positif, faktor-faktor tersebut belum mampu menjadi penopang utama untuk menahan laju pelemahan mata uang.
Harga Emas Logam Mulia Berpotensi Capai Rp 2,8 juta per Gram Pekan Ini, Cek Pemicunya
Tekanan utama, jelas Ibrahim, justru bersumber dari kondisi eksternal yang sangat dominan. Faktor-faktor seperti ketegangan geopolitik global yang meningkat, dinamika politik di Amerika Serikat yang memengaruhi sentimen pasar, hingga arah kebijakan bank sentral global yang cenderung ketat, semuanya berkontribusi menekan nilai tukar rupiah.
Menyikapi kondisi ini, Ibrahim menyarankan pemerintah untuk kembali mengoptimalkan kebijakan stimulus, terutama yang berfokus pada peningkatan daya beli masyarakat. Langkah tersebut dianggap krusial guna membangun basis fundamental yang kuat dari dalam negeri untuk menopang penguatan rupiah. “Stimulus harus kembali diterapkan untuk merangsang daya beli. Tanpa itu, rupiah akan sulit kembali menguat,” tegasnya.
Lebih jauh, Ibrahim memperingatkan mengenai potensi pelemahan rupiah yang lebih dalam sepanjang tahun ini. Ia memperkirakan, nilai tukar rupiah berpeluang menyentuh angka Rp 17.500 per dolar AS jika tekanan global tidak mereda, bahkan skenario ini bisa terwujud sejak kuartal II 2026.
Dalam perspektif jangka menengah hingga panjang, Ibrahim menilai pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan struktural yang lebih komprehensif. Salah satu usulan yang diajukan adalah rencana redenominasi rupiah, yang diyakini dapat membantu menahan laju pelemahan rupiah di masa mendatang dan memberikan stabilitas ekonomi yang lebih baik.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih menghadapi tekanan signifikan akibat sentimen eksternal global yang kuat, yang belum mampu diimbangi secara optimal oleh intervensi Bank Indonesia maupun kebijakan pemerintah. Pada 19 Januari 2026, rupiah melemah 0,22% mencapai Rp 16.925 per dolar AS, menandai posisi terlemah sepanjang sejarah. Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berpotensi tertekan hingga Rp 17.100 per dolar AS dalam waktu dekat.
Tekanan utama bersumber dari faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik global, dinamika politik di Amerika Serikat, serta kebijakan ketat bank sentral global. Ibrahim menyarankan pemerintah mengoptimalkan stimulus untuk meningkatkan daya beli masyarakat sebagai penopang penguatan rupiah. Ia juga memperingatkan potensi pelemahan hingga Rp 17.500 per dolar AS sepanjang tahun 2026 dan mengusulkan redenominasi rupiah sebagai kebijakan struktural jangka panjang.