Rupiah Terancam! Fitch Pesimis, Dolar AS Mendekati Rp 17.000

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah semakin tertekan dan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan pada hari Rabu, 4 Maret 2026.

Para ekonom berpendapat bahwa pelemahan mata uang Garuda ini disebabkan oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membayangi pasar keuangan.

Di pasar spot, rupiah memulai perdagangan Rabu (4/3/2026) pagi dengan posisi yang sudah melemah. Tekanan jual terus berlanjut hingga pada tengah hari, rupiah terpantau melemah 0,35% ke level Rp 16.931 per dolar AS.

Menjelang penutupan perdagangan, rupiah masih menunjukkan tren pelemahan meskipun sedikit mereda. Pada pukul 14.42 WIB, rupiah berada di posisi Rp 16.886 per dolar AS, atau melemah tipis 0,08%.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini terutama dipicu oleh dua faktor utama yang saling berkaitan.

Kirim Emas Perdana dari Pani, Simak Rekomendasi Saham Merdeka Gold Resources (EMAS)

Faktor pertama adalah eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai pengimpor bersih minyak.

Faktor kedua, yang dinilai lebih dominan pengaruhnya, adalah penurunan outlook rating Indonesia oleh Fitch Ratings. Lembaga pemeringkat kredit internasional ini baru saja menurunkan outlook atau prospek peringkat kredit utang pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, meskipun peringkat utang jangka panjang Indonesia tetap dipertahankan di level BBB.

Berdasarkan draf laporan yang beredar pada Rabu (4/3/2026), Fitch menilai bahwa perubahan outlook tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah dalam mengelola fiskal dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Penurunan outlook kali ini disebabkan karena dua faktor utama, dan faktor kedua memiliki pengaruh yang lebih besar,” ungkap Wijayanto saat dihubungi Kontan pada hari Rabu (4/2/2026).

Menyikapi kondisi ini, Wijayanto memprediksi bahwa peluang rupiah untuk menembus level Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat masih terbuka lebar. Namun, realisasi tersebut sangat bergantung pada respons kebijakan yang akan diambil oleh Bank Indonesia (BI).

Menurutnya, BI sebenarnya memiliki ruang gerak untuk melakukan intervensi secara agresif guna menjaga nilai rupiah tetap berada di bawah level psikologis tersebut.

“Tergantung pada strategi yang dipilih BI, mereka bisa saja melakukan intervensi habis-habisan untuk menjaga rupiah agar tidak menembus Rp 17.000 per dolar AS,” jelasnya.

Arah IHSG Hingga Akhir Kuartal I-2026 Dipengaruhi oleh Sentimen Ini

Namun demikian, Wijayanto juga mengingatkan bahwa BI perlu menjaga kecukupan cadangan devisa (cadev) agar tetap kuat dalam menghadapi potensi tekanan terhadap rupiah yang diperkirakan akan berlangsung cukup lama.

“Dugaan saya, BI akan bersikap lebih rasional dan hati-hati mengingat tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan berlangsung cukup lama. Cadangan devisa harus benar-benar dijaga,” pungkasnya.

Ringkasan

Rupiah mengalami tekanan dan mendekati level Rp 17.000 per dolar AS pada 4 Maret 2026. Pelemahan ini disebabkan oleh sentimen global dan domestik, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah dan penurunan outlook rating Indonesia oleh Fitch Ratings.

Fitch menurunkan outlook rating Indonesia menjadi negatif karena meningkatnya ketidakpastian kebijakan fiskal pemerintah. Ekonom memprediksi rupiah berpotensi menembus Rp 17.000 per dolar AS, tergantung pada respons Bank Indonesia yang perlu menjaga cadangan devisa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *