Rupiah Menguat! Waspada Level Rp 17.100: Zona Kritis?

JAKARTA. Rupiah menunjukkan sinyal pemulihan di pasar spot, bertengger di level Rp 16.983 per dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Rabu (1/4). Sebelumnya, mata uang Garuda ini sempat menyentuh titik terlemah di Rp 17.041 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari Selasa (31/3), setelah juga sempat menyentuh Rp 17.002 per dolar AS pada hari Senin (30/3).

Wahyu Laksono, Founder Traderindo.com, berpendapat bahwa level psikologis Rp 17.000 per dolar AS kini telah bergeser fungsi, bukan lagi menjadi resistensi, melainkan menjadi support bagi penguatan mata uang Paman Sam.

Dalam jangka pendek, Wahyu mewanti-wanti pelaku pasar untuk mewaspadai zona kritis di rentang Rp 17.100-Rp 17.150 per dolar AS.

“Jika level ini berhasil ditembus secara konsisten, maka target pelemahan rupiah berikutnya berpotensi menuju Rp 17.500,” ungkap Wahyu kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).

Rupiah Menguat ke Rp 16.983, Tekanan Eksternal dan Domestik Masih Membayangi

Pelemahan rupiah, lanjut Wahyu, akan berdampak langsung pada lonjakan harga barang-barang impor, terutama bahan baku industri dan pangan, yang pada akhirnya akan ditransmisikan ke harga konsumen.

Tak hanya itu, depresiasi rupiah juga akan memperberat beban pembayaran utang luar negeri, baik yang ditanggung oleh pemerintah maupun korporasi swasta.

Dampak lain yang perlu diantisipasi adalah tekanan terhadap neraca pembayaran. Hal ini terutama akan terasa jika kinerja ekspor Indonesia tidak mampu mengimbangi peningkatan nilai impor.

Senada dengan Wahyu, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, melihat area Rp 17.200 per dolar AS sebagai level kritis berikutnya dalam jangka pendek.

Rupiah Menguat pada Rabu (1/4) Siang, Ini Proyeksinya Hingga Akhir Perdagangan

“Jika level ini tertembus tanpa adanya intervensi yang kredibel, maka risiko terjadinya pelarian modal yang lebih sistemik dapat meningkat, karena ekspektasi pelemahan nilai tukar akan menjadi self-fulfilling prophecy,” jelas Sutopo.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pelemahan rupiah berpotensi memperbesar beban subsidi energi yang ditanggung oleh negara.

Kondisi ini dapat memaksa pemerintah untuk mengambil langkah-langkah sulit, seperti melakukan pemangkasan belanja di sektor lain atau menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), yang berisiko memicu gejolak sosial di masyarakat.

Menanti Data Penjualan Ritel AS, Begini Proyeksi Rupiah Besok (2/4)

Ringkasan

Rupiah menunjukkan penguatan ke level Rp 16.983 per dolar AS setelah sebelumnya sempat melemah hingga Rp 17.041. Analis mewaspadai zona kritis Rp 17.100-Rp 17.150, dimana jika level ini ditembus, rupiah berpotensi melemah lebih lanjut menuju Rp 17.500 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dapat berdampak pada kenaikan harga barang impor, beban utang luar negeri, dan tekanan pada neraca pembayaran. Level Rp 17.200 juga dianggap sebagai level kritis berikutnya, yang jika tertembus dapat memicu pelarian modal dan meningkatkan beban subsidi energi negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *