
Shoesmart.co.id JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan performa positif dengan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan ini terjadi menyusul keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026.
Pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026, kurs rupiah di pasar spot tercatat menguat signifikan sebesar 0,24%. Ini mendorong posisinya menjadi Rp 16.895 per dolar AS, naik dari level sebelumnya di Rp 16.936 per dolar AS.
Tren penguatan ini tidak berhenti di pasar spot. Rupiah juga perkasa di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), di mana kursnya berada di level Rp 16.902 per dolar AS. Angka ini mencerminkan penguatan sebesar 0,35% dibandingkan hari sebelumnya yang tercatat Rp 16.963 per dolar AS.
Menurut analisis Lukman Leong, seorang analis mata uang dan komoditas dari Doo Financial Futures, penguatan rupiah tersebut didorong oleh membaiknya sentimen global. Kondisi ini memicu kembali masuknya pelaku pasar ke aset-aset berisiko (risk on), yang mengindikasikan peningkatan optimisme di pasar keuangan global.
Rupiah Perkasa di Asia, Ditutup Menguat ke Rp 16.896 Per Dolar AS Hari Ini (22/1)
Lukman menjelaskan lebih lanjut bahwa sentimen positif tersebut berasal dari meningkatnya harapan terhadap kelanjutan pembicaraan diplomatik mengenai isu Greenland. Harapan ini berhasil meredakan kekhawatiran akan potensi eskalasi geopolitik dalam jangka pendek, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi mata uang berisiko seperti rupiah.
“Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk on oleh harapan pada pembicaraan seputar Greenland,” ujar Lukman saat diwawancarai Kontan pada Kamis, 22 Januari 2026.
Namun demikian, Lukman juga mengingatkan bahwa potensi ruang penguatan rupiah ke depan mungkin akan terbatas. Ada sejumlah faktor domestik yang berpotensi membayangi pergerakan mata uang Garuda ini.
Faktor-faktor penghambat tersebut meliputi isu independensi Bank Indonesia (BI) yang masih menjadi perhatian pasar, serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi pelebaran defisit fiskal negara. Kedua isu ini dapat memicu sentimen negatif dan membatasi laju apresiasi rupiah.
Menatap perdagangan Jumat, 23 Januari 2026, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati dengan saksama sejumlah katalis eksternal, terutama yang berkaitan dengan rilis data ekonomi Amerika Serikat.
Investor akan menanti data revisi final Produk Domestik Bruto (PDB) AS serta data inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) AS yang dijadwalkan rilis malam ini. Data-data ini akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter The Federal Reserve di masa mendatang.
Berdasarkan proyeksi Lukman, rupiah pada perdagangan Jumat, 23 Januari 2026, diperkirakan akan bergerak dalam rentang konsolidasi antara Rp 16.850 hingga Rp 16.950 per dolar AS.
Perma Plasindo (BINO) Kantongi Kontrak Penjualan Produk Kustom dari Deli Group
Ringkasan
Nilai tukar rupiah menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis, 22 Januari 2026, mencapai Rp 16.895 di pasar spot dan Rp 16.902 di JISDOR. Penguatan ini didorong oleh membaiknya sentimen global (“risk on”) serta keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan di 4,75%. Analis Lukman Leong menyebut harapan pada pembicaraan diplomatik seputar Greenland meredakan kekhawatiran geopolitik, mendorong masuknya pelaku pasar ke aset berisiko.
Namun, potensi penguatan rupiah ke depan diperkirakan terbatas karena adanya faktor domestik seperti isu independensi BI dan potensi pelebaran defisit fiskal. Pelaku pasar akan menanti rilis data ekonomi AS, termasuk revisi PDB dan inflasi PCE, pada Jumat, 23 Januari 2026. Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak konsolidatif di kisaran Rp 16.850 hingga Rp 16.950 per dolar AS pada perdagangan tersebut.