
Shoesmart.co.id, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali gagal membendung tekanan di pasar spot, menutup perdagangan hari ini, Selasa (6/1/2026), dengan pelemahan. Mata uang kebanggaan Indonesia ini mengakhiri sesi di level Rp 16.758 per dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren negatif yang belum mampu dipecah.
Angka penutupan tersebut merefleksikan depresiasi sebesar 0,11% dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya, yang kala itu berada di level Rp 16.740 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tantangan bagi rupiah di hadapan mata uang Paman Sam.
Di tengah pergerakan rupiah yang melemah, dinamika mata uang di Asia menunjukkan gambaran yang bervariasi hingga pukul 15.00 WIB, dengan mayoritas cenderung menguat. Dalam kelompok ini, ringgit Malaysia tampil sebagai pemimpin dengan lonjakan impresif sebesar 0,6%, menjadikannya mata uang Asia dengan apresiasi terbesar.
Tren penguatan juga dirasakan oleh beberapa mata uang Asia lainnya. Baht Thailand berhasil menanjak 0,39%, diikuti oleh dolar Singapura yang terkerek 0,24%. Yuan China menunjukkan kenaikan solid 0,12%, sementara rupee India terapresiasi 0,07%. Tidak ketinggalan, yen Jepang juga naik tipis 0,03%, dan dolar Taiwan menutup perdagangan dengan penguatan minimal 0,02%.
Emiten Prajogo Pangestu, Chandra Asri (TPIA) Raih Rp 84 Miliar dari Jual Alat Usaha
Kontras dengan sebagian besar mata uang Asia yang menguat, beberapa justru harus menelan pil pahit pelemahan. Peso Filipina tercatat sebagai mata uang dengan depresiasi terdalam di kawasan ini, setelah terkoreksi 0,17% terhadap dolar AS. Diikuti oleh won Korea Selatan yang turun 0,05%, dan dolar Hongkong yang juga melemah tipis 0,02% di hadapan the greenback, julukan lain untuk dolar AS. Dinamika ini menunjukkan adanya divergensi performa di pasar mata uang Asia pada penutupan perdagangan hari ini.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah kembali melemah di pasar spot pada Selasa (6/1/2026), ditutup pada Rp 16.758 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan depresiasi sebesar 0,11% dari posisi sebelumnya di Rp 16.740 per dolar AS, melanjutkan tren negatif terhadap mata uang Paman Sam.
Di sisi lain, mayoritas mata uang Asia menunjukkan penguatan, dipimpin oleh ringgit Malaysia yang melonjak 0,6%, diikuti oleh baht Thailand dan dolar Singapura. Kontras, peso Filipina mengalami depresiasi terdalam sebesar 0,17%, sementara won Korea Selatan dan dolar Hongkong juga tercatat melemah terhadap dolar AS.