Shoesmart.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan akan kembali menghadapi tekanan dan melanjutkan tren pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan hari ini, 21 Januari 2026.
Pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026), rupiah spot tercatat melemah tipis 0,01% menjadi Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat (AS), sedikit terkoreksi dari posisi Rp 16.955 sehari sebelumnya. Senada dengan pergerakan spot, nilai tukar rupiah di Jisdor BI juga mengalami depresiasi signifikan sebesar 0,27%, mencapai level Rp 16.981 per dolar AS. Angka ini sekaligus menandai rekor terendah sepanjang masa bagi rupiah Jisdor.
Menurut analisis Ibrahim Assuaibi, seorang Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas, tekanan utama yang membayangi pergerakan nilai tukar rupiah saat ini bersumber dari sentimen global. Faktor dominan yang dimaksud adalah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang terus berubah.
Daftar Saham Batubara Berpotensi Cuan: Cek Rekomendasi Saham Pilihan Analis!
Salah satu pemicu utama datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Senin (19/1/2026) yang kembali menegaskan klaimnya atas Greenland. Dalam sebuah wawancara dengan NBC News, Trump bahkan tidak mengesampingkan opsi pengerahan militer ke pulau tersebut, sebuah pernyataan yang sontak memicu gelombang kekhawatiran baru di pasar global, jelas Ibrahim.
Kekhawatiran ini kian memuncak menyusul tindakan AS yang sebelumnya melancarkan serangan ke Venezuela dan menahan Presiden Nicolas Maduro. Kondisi geopolitik yang memanas ini secara langsung mendorong para pelaku pasar untuk menjauhi aset-aset berisiko. Mereka beralih mencari “aset aman” seperti dolar Amerika Serikat (AS), yang pada gilirannya memperkuat mata uang tersebut dan secara signifikan menekan mata uang negara berkembang, termasuk nilai tukar rupiah.
Laba Bersih Avia Avian (AVIA) Diproyeksi Capai Rp 1,79 Triliun pada Tahun 2026
Ibrahim Assuaibi juga menyoroti ancaman kebijakan perdagangan dari Trump. Ia menyebutkan bahwa rencana penerapan tarif impor tambahan sebesar 10% mulai 1 Februari terhadap sejumlah negara Eropa seperti Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, berpotensi besar menjadi penghambat serius bagi penguatan rupiah. Bahkan, ancaman ini bisa berlipat ganda, di mana tarif tersebut berpotensi melonjak hingga 25% pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan yang tercapai terkait isu Greenland.
Beralih ke aspek kebijakan moneter, pasar global juga masih secara ketat memantau arah suku bunga Amerika Serikat. Para pelaku pasar secara luas memprediksi Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan akhir Januari ini, mengingat kondisi pasar tenaga kerja AS yang dinilai tetap stabil dan kuat. Dengan demikian, probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan Januari dianggap sangat kecil.
Sebagai respons terhadap berbagai dinamika tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah saat ini menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap gejolak global dan arus modal internasional. Untuk perdagangan hari ini, 21 Januari 2026, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun dengan kecenderungan melemah. Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 16.950 hingga Rp 16.980 per dolar AS.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah diperkirakan akan melanjutkan pelemahannya hari ini, 21 Januari 2026, setelah kemarin rupiah spot dan Jisdor BI melemah signifikan, dengan Jisdor mencapai rekor terendah sepanjang masa di Rp 16.981 per dolar AS. Tekanan utama bersumber dari sentimen global, yakni meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang berubah. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai Greenland dan tindakan AS di Venezuela mendorong pelaku pasar mencari aset aman seperti dolar AS, menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Ancaman kebijakan perdagangan Trump berupa penerapan tarif impor tambahan 10% terhadap negara-negara Eropa, yang berpotensi melonjak hingga 25%, juga menjadi penghambat serius bagi penguatan rupiah. Di sisi moneter, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan akhir Januari, mengingat pasar tenaga kerja AS yang stabil. Akibatnya, rupiah diproyeksikan akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah hari ini, dalam rentang Rp 16.950 hingga Rp 16.980 per dolar AS.