Rupiah Jebol Rp17.000: Menkeu Bingung, Lempar ke BI!

Jakarta, IDN Times – Rupiah mengalami tekanan dan sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS pada pukul 14.39 WIB hari ini. Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab pelemahan tersebut.

Menkeu Purbaya menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi yang baik. Indikator-indikator ekonomi pun menunjukkan tren positif. Kondisi ini, menurutnya, seharusnya tidak menjadi pemicu pelemahan rupiah.

“Jika ekonomi tumbuh kuat dan fundamentalnya baik, dalam kondisi normal, seharusnya rupiah cenderung menguat,” jelas Purbaya usai menghadiri rapat di Kemenko Perekonomian, Senin (16/3/2026).

Stabilitas Rupiah Tanggung Jawab Bank Indonesia

Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah merupakan wewenang dan tanggung jawab Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral. Pemerintah, kata dia, tidak dalam posisi untuk memberikan penjelasan terkait dinamika nilai tukar.

“Kenapa Anda menanyakan hal itu kepada saya?” tanya Purbaya. “Tanggung jawab bank sentral itu hanya satu, yaitu menjaga stabilitas nilai tukar. Jadi, sebaiknya Anda menanyakan langsung kepada Bank Indonesia mengenai apa yang terjadi.”

Rupiah melanjutkan pelemahan, ditutup pada level Rp16.997 per Dolar AS.

Menkeu Enggan Berspekulasi, Hindari Persepsi Intervensi

Purbaya enggan memberikan komentar lebih detail mengenai pergerakan nilai tukar rupiah. Ia khawatir, jika dirinya memberikan penjelasan, hal tersebut dapat memunculkan persepsi bahwa pemerintah melakukan intervensi terhadap kebijakan moneter yang seharusnya independen.

“Kalau saya yang berbicara, nanti bisa dianggap sebagai intervensi terhadap kebijakan bank sentral. Jadi, sebaiknya ditanyakan langsung kepada bank sentral,” tegasnya.

Konflik Iran dan Kondisi Fiskal Domestik Jadi Sorotan

Sementara itu, pengamat pasar uang, Lukman Leong, menilai bahwa nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan terus berada dalam tekanan. Kekhawatiran pasar terhadap konflik di kawasan Timur Tengah yang semakin memanas, serta harga minyak dunia yang tetap tinggi menjadi faktor utama. Selain itu, sentimen domestik terkait ketahanan fiskal dalam menghadapi gejolak global juga turut mempengaruhi.

Ketegangan geopolitik global memicu peningkatan permintaan terhadap aset-aset safe haven, yang pada gilirannya menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia karena meningkatnya biaya impor energi.

“Iya, sentimen domestik memang sudah lama negatif, tentunya Perppu ini makin mengkhawatirkan investor,” pungkas Lukman Leong.

Purbaya Pastikan Belum Berencana Terbitkan Perppu Pelebaran Defisit.

Ringkasan

Rupiah mengalami pelemahan hingga menyentuh Rp17.000 per dolar AS, membuat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku tidak mengetahui penyebabnya, meskipun fundamental ekonomi Indonesia dinilai baik. Menkeu Purbaya menyatakan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah adalah tanggung jawab Bank Indonesia dan menolak berkomentar lebih lanjut agar tidak dianggap mengintervensi kebijakan moneter.

Pengamat pasar uang, Lukman Leong, berpendapat bahwa rupiah akan terus tertekan akibat kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah, harga minyak yang tinggi, dan sentimen domestik terkait ketahanan fiskal. Ketegangan geopolitik global meningkatkan permintaan aset safe haven dan kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *