
Shoesmart.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat (16/1/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot berhasil menguat tipis 0,05% secara harian, mencapai level Rp 16.887 per dolar AS.
Namun, performa rupiah sedikit berbeda sehari sebelumnya. Pada Kamis (15/1/2026), berdasarkan kurs referensi Jisdor Bank Indonesia (BI), mata uang domestik ini justru melemah 0,05% secara harian, berada di posisi Rp 16.880 per dolar AS.
Menanggapi pergerakan ini, Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengungkapkan bahwa rupiah kini bergerak di rentang yang sangat krusial, yakni antara Rp 16.860 hingga Rp 16.890 per dolar AS. Menurutnya, tekanan depresiasi rupiah masih cukup kuat di level tersebut.
Sutopo menambahkan, analisis teknikal menunjukkan bahwa rupiah tengah menguji level psikologis penting di Rp 16.900 per dolar AS. Level ini menjadi penentu signifikan bagi arah pergerakan mata uang selanjutnya.
Untuk memprediksi prospek rupiah pada Senin (19/1/2026), Sutopo menyoroti tiga variabel utama. Pertama adalah finalisasi draf hukum Perjanjian Tarif antara Republik Indonesia dan Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 12 – 19 Januari. Senin depan merupakan batas akhir pertemuan teknis di Washington D.C. yang membahas kesepakatan tarif perdagangan timbal balik (Agreement on Reciprocal Trade) antara kedua negara.
Sutopo optimis, jika terdapat kabar positif mengenai kemajuan draf ini, terutama terkait akses mineral kritis Indonesia ke pasar AS, rupiah berpotensi mendapatkan dukungan kuat dari fundamental perdagangan.
Variabel kedua yang patut dicermati adalah antisipasi terhadap Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Pelaku pasar telah mulai memperhitungkan keputusan terkait suku bunga BI yang akan diumumkan pada Rabu, 21 Januari 2026.
Spekulasi, termasuk dari HSBC, mengindikasikan bahwa Bank Indonesia kemungkinan akan mulai memangkas suku bunga acuannya (BI Rate) dari level 4,75% pada kuartal I-2026. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
Namun, Sutopo memperingatkan, jika pasar berekspektasi Bank Indonesia terlalu agresif dalam memangkas suku bunga ketika dolar AS masih perkasa, rupiah berisiko mengalami pelemahan signifikan akibat menyempitnya selisih imbal hasil (yield differential).
Variabel ketiga adalah partisipasi Indonesia dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Presiden Prabowo beserta tim ekonomi, termasuk pengelola investasi Danantara, dijadwalkan akan mulai aktif pada 19 Januari. Narasi utama yang diusung, yakni transisi energi dan hilirisasi nikel, diharapkan mampu menarik minat investor asing (capital inflow) ke pasar obligasi dan saham, sehingga secara tidak langsung dapat menopang stabilitas nilai tukar rupiah.
Selain ketiga variabel tersebut, Sutopo juga menyoroti potensi dampak dari perkembangan geopolitik Timur Tengah. Investor diminta untuk terus memantau eskalasi di Iran. Peningkatan ketegangan di wilayah tersebut dapat memicu investor global untuk mencari aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas, yang secara otomatis akan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Faktor lain yang membatasi potensi penguatan rupiah adalah Indeks Dolar (DXY), di mana selama DXY bertahan di atas level 99, ruang gerak rupiah akan sangat terbatas.
Sementara itu, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengemukakan pandangan bahwa dolar AS masih berpotensi menguat. Penguatan ini ditopang oleh data ekonomi AS yang solid serta retorika hawkish dari para pejabat Federal Reserve (The Fed). Lukman menambahkan, tidak ada data ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri yang dirilis hingga Senin mendatang, sehingga pergerakan pasar kemungkinan akan bergantung pada sentimen yang ada.
Lukman juga mengingatkan para investor untuk mencermati perkembangan situasi geopolitik di sekitar Venezuela, khususnya setelah adanya perubahan dalam pemungutan suara Senat AS yang gagal membatasi wewenang Trump terkait negara tersebut.
Untuk hari Senin (19/1/2026), Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 16.850 – Rp 16.950 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, Sutopo Widodo juga memperkirakan rupiah pada Senin (19/1/2026) akan berada di kisaran yang serupa, yaitu antara Rp 16.850 hingga Rp 16.920 per dolar AS.
Prospek Kinerja Siloam (SILO) Dinilai Kian Menarik pada 2026, Ini Rekomendasi Analis
Ringkasan
Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan tipis 0,05% menjadi Rp 16.887 per dolar AS pada Jumat (16/1/2026) setelah sempat melemah sehari sebelumnya. Saat ini, rupiah bergerak di rentang krusial Rp 16.860-Rp 16.890, dengan tekanan depresiasi yang kuat dan sedang menguji level psikologis Rp 16.900. Prospek rupiah pada Senin (19/1/2026) akan sangat dipengaruhi oleh finalisasi draf Perjanjian Tarif RI-AS, antisipasi Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), dan partisipasi Indonesia di World Economic Forum (WEF) Davos.
Jika ada kabar positif dari perjanjian tarif atau menariknya investasi dari WEF, rupiah berpotensi mendapat dukungan. Namun, potensi pemangkasan suku bunga BI yang agresif dapat melemahkan rupiah jika dolar AS masih perkasa, menyempitkan selisih imbal hasil. Selain itu, sentimen geopolitik Timur Tengah dan penguatan dolar AS yang didukung data ekonomi AS solid juga membatasi ruang gerak rupiah. Para analis memproyeksikan rupiah pada Senin (19/1/2026) akan bergerak di kisaran Rp 16.850 hingga Rp 16.950 per dolar AS.