Rupiah Berpotensi Lanjutkan Pelemahan, Ini Sentimen Penggeraknya Kamis (25/9)

Pembaca setia Shoesmart.co.id Jakarta, nilai rupiah menunjukkan tren pelemahan yang berlanjut, didorong oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) pasca pidato penting Ketua The Fed, Jerome Powell, baru-baru ini. Situasi ini diperkirakan akan terus membayangi pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan Kamis (25/9/2023).

Pada perdagangan Rabu (24/9/2023), pergerakan rupiah menunjukkan dinamika yang menarik. Mengutip data Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot sebenarnya ditutup menguat tipis 0,02% ke level Rp 16.685 per dolar AS. Namun, gambaran berbeda terlihat dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), di mana rupiah justru ditutup melemah signifikan 0,26% menjadi Rp 16.680 per dolar AS, menegaskan tekanan jual yang masih dominan.

Awas! Rupiah Jisdor Melemah 6 Hari Beruntun Hingga Rabu (24/9)

Kesenjangan ini mengindikasikan volatilitas yang tinggi. Menambah perspektif, Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas terkemuka, menjelaskan bahwa gejolak rupiah tak lepas dari kekuatan dolar AS yang sedang menguat. Penguatan ini, menurut Ibrahim, dipicu oleh pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang menyoroti dilema sulit dalam menyeimbangkan target inflasi dengan risiko pada pasar tenaga kerja.

“Powell secara gamblang menyoroti tidak adanya ‘jalur bebas risiko’ bagi The Fed dalam upaya menavigasi inflasi yang masih persisten,” papar Ibrahim, menjelaskan inti dari ketidakpastian pasar. Meskipun pasar telah mengantisipasi potensi dua kali penurunan suku bunga tambahan tahun ini, sejalan dengan proyeksi bank sentral, Powell justru memilih untuk tidak memberikan sinyal waktu yang pasti mengenai langkah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Keengganan ini, menurut Ibrahim, secara signifikan telah menimbulkan keraguan dan kehati-hatian di kalangan pelaku pasar terhadap arah kebijakan The Fed di masa mendatang, menjadikan dolar AS kian kokoh dan menekan mata uang lainnya, termasuk rupiah.

Rupiah Menguat Tipis pada Rabu (24/9), Berpeluang Berbalik Melemah pada Kamis (25/9)

Beralih ke prospek perdagangan Kamis (25/9/2023), Ibrahim Assuaibi mengidentifikasi beberapa faktor domestik yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah ruang bagi aktivitas ekonomi yang lebih luas berkat pelonggaran kebijakan moneter. Selain itu, investasi publik yang kuat terus menopang pembangunan infrastruktur, diiringi oleh konsumsi domestik yang tangguh dan tetap menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

Dengan mempertimbangkan berbagai dinamika tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa rupiah atau mata uang Garuda berpotensi ditutup melemah. Ia memperkirakan kurs rupiah akan bergerak di rentang Rp 16.680 hingga Rp 16.730 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (25/9/2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *