JAKARTA. Prospek nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2026 diproyeksikan masih memiliki ruang penguatan yang signifikan. Meskipun demikian, pergerakannya saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang relatif solid dan stabil.
Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia, mengungkapkan bahwa secara teoritis, rupiah seharusnya berada dalam tren penguatan. Pandangan ini ditopang oleh kinerja neraca perdagangan Indonesia yang konsisten mencatat surplus, serta derasnya arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik.
“Jika kita melihat prospek rupiah untuk tahun ini, sebenarnya ada ruang untuk menguat. Tren neraca dagang masih surplus, dan dari pasar keuangan juga terjadi inflow yang cukup besar, baik ke pasar saham maupun pasar surat utang negara,” terang Myrdal kepada Kontan.co.id pada Jumat malam (9/1/2026).
Harga Bitcoin dan Ethereum Masih Sideways, Investor Tunggu Likuiditas Baru
Dukungan terhadap penguatan nilai tukar rupiah juga datang dari instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menunjukkan penyerapan dana investor yang kuat. Minat investor asing terhadap berbagai aset keuangan domestik tetap tinggi, ditambah lagi dengan data current account kuartal III yang positif, semakin memperkuat potensi penguatan mata uang Garuda.
Namun, realitas pergerakan rupiah saat ini cenderung kontradiktif dibandingkan kondisi fundamental ekonomi makro yang positif. Salah satu penyebab utamanya adalah tingginya permintaan dolar AS di pasar domestik, baik untuk pembayaran impor, kebutuhan musiman menjelang periode puasa dan Lebaran, maupun untuk pelunasan pokok dan bunga utang.
Selain itu, dana hasil ekspor atau surplus neraca perdagangan belum sepenuhnya kembali ke dalam negeri. Pembayaran utang luar negeri oleh korporasi atau lembaga domestik kepada bank-bank di luar negeri juga turut menahan laju penguatan rupiah.
Myrdal menambahkan, meskipun tensi geopolitik global menunjukkan peningkatan, dampaknya terhadap pasar keuangan domestik relatif terbatas. Hal ini tercermin dari kondisi pasar saham dan surat utang negara yang masih menunjukkan stabilitas.
Bitcoin dan Ethereum Masih Volatil, Analis Ingatkan Investor Disiplin Kelola Risiko
Untuk ke depan, rupiah masih berpeluang menguat, meskipun dengan potensi yang terbatas. Dengan cadangan devisa Indonesia yang mencapai angka besar, sekitar US$ 156,5 miliar, Bank Indonesia dinilai memiliki “amunisi” yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Kalau outlook, level Rp 17.000 per dolar AS rasanya belum akan tercapai dalam waktu dekat. Paling tinggi masih di bawah Rp 16.900, dan kemungkinan masih akan bergerak dulu di kisaran Rp 16.800-an,” pungkasnya.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah diproyeksikan memiliki ruang penguatan yang signifikan sepanjang tahun 2026, meskipun pergerakannya saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang solid. Potensi penguatan ini didukung oleh surplus neraca perdagangan yang konsisten, derasnya arus modal asing ke pasar keuangan domestik, serta minat kuat investor pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan aset lainnya.
Namun, pergerakan rupiah terkendala tingginya permintaan dolar AS di pasar domestik untuk impor dan pembayaran utang, ditambah dana hasil ekspor yang belum sepenuhnya kembali ke dalam negeri. Bank Indonesia memiliki cadangan devisa kuat sebesar US$156,5 miliar untuk menjaga stabilitas, namun analis memprediksi rupiah belum akan mencapai Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat, melainkan akan bergerak di kisaran Rp 16.800-Rp 16.900.