Shoesmart.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih bergulat dengan tekanan di pasar spot hingga penutupan perdagangan akhir pekan ini. Pada hari Jumat (27 Februari 2026), rupiah ditutup pada level Rp 16.787 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 0,17% dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.759 per dolar AS.
Kendati demikian, di tengah pelemahan harian, rupiah berhasil mencatatkan penguatan dalam kurun waktu sepekan. Jika dibandingkan dengan penutupan pada Jumat pekan lalu (20 Februari 2026) yang berada di level Rp 16.888 per dolar AS, mata uang Garuda ini masih menunjukkan kinerja yang positif.
Senada dengan itu, berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga mengalami penguatan sebesar 0,63% secara mingguan, mencapai posisi Rp 16.779 per dolar AS, dibandingkan dengan Rp 16.885 per dolar AS pada akhir pekan sebelumnya.
IHSG Tertekan Sentimen Global, Ini Proyeksi dan Saham Pilihan Pekan Depan
Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, berpendapat bahwa pergerakan rupiah selama sepekan terakhir lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen dari dalam negeri.
“Pergerakan rupiah pada pekan ini didominasi oleh faktor domestik, termasuk penerimaan pajak hingga Januari yang mengalami kenaikan signifikan. Hal ini meredakan kekhawatiran akan defisit anggaran, sehingga memberikan dukungan positif bagi rupiah,” jelas Lukman kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).
Dari sisi eksternal, pergerakan dolar AS cenderung terbatas. Namun, serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan penguatan, serta pernyataan hawkish dari para pejabat bank sentral AS, sempat mendorong penguatan dolar dan memberikan tekanan pada rupiah.
Para pelaku pasar juga turut mencermati dinamika geopolitik global, termasuk ekspektasi terhadap potensi perdamaian dari perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang sayangnya berakhir tanpa membuahkan hasil.
Wall Street Anjlok, Saham Keuangan dan Teknologi Terpukul
Menatap pekan depan, Lukman memperkirakan bahwa pergerakan rupiah berpotensi menjadi lebih fluktuatif seiring dengan padatnya agenda rilis data ekonomi penting.
Dari dalam negeri, pasar akan menantikan data inflasi, neraca perdagangan, serta posisi cadangan devisa.
Sementara itu, dari ranah eksternal, perhatian investor akan tertuju pada data manufaktur Amerika Serikat dan China, serta laporan ketenagakerjaan AS yang dikenal dengan istilah nonfarm payrolls (NFP).
Lukman memproyeksikan bahwa nilai rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 16.700 – Rp 16.900 per dolar AS pada pekan mendatang.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah ditutup pada Rp 16.787 per dolar AS pada Jumat (27 Februari 2026), melemah 0,17% dibandingkan hari sebelumnya. Namun, rupiah mencatatkan penguatan mingguan dibandingkan penutupan pekan lalu. Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sentimen domestik seperti penerimaan pajak yang meningkat dan sentimen eksternal seperti data ekonomi AS.
Untuk pekan depan, pergerakan rupiah diprediksi lebih fluktuatif karena rilis data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri. Data yang dinantikan termasuk inflasi, neraca perdagangan, cadangan devisa dalam negeri, serta data manufaktur dan ketenagakerjaan AS. Proyeksi pergerakan rupiah berada di rentang Rp 16.700 – Rp 16.900 per dolar AS.