Rupiah Anjlok! Purbaya Dorong Thomas Jadi Gubernur BI?

Shoesmart.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan tren pelemahan signifikan. Pada Senin, 19 Januari 2026, kurs mata uang Garuda terpantau berada di level Rp16.935 per USD, mengalami kenaikan sebesar Rp575 dari posisi penutupan sebelumnya di angka Rp16.880 per USD. Pergerakan ini mencerminkan depresiasi rupiah sekitar +3,51 persen dalam periode tersebut.

Pelemahan rupiah ini tidak lepas dari beragam faktor, baik internal maupun eksternal. Penguatan dolar AS sering kali dipicu oleh kebijakan moneter Federal Reserve, termasuk potensi kenaikan suku bunga, serta data ekonomi Amerika Serikat yang positif. Di samping itu, ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi harga komoditas turut mendorong permintaan dolar sebagai aset investasi yang dianggap lebih aman.

Secara domestik, permintaan dolar yang tinggi untuk keperluan impor serta pembayaran utang luar negeri juga memberikan tekanan pada rupiah. Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia (BI) kerap melakukan intervensi melalui pasar valuta asing dan penyesuaian suku bunga acuan. Implikasi dari pelemahan rupiah ini beragam: biaya barang impor, seperti elektronik dan otomotif, akan meningkat signifikan, yang pada akhirnya dapat menggerus daya beli masyarakat. Namun, di sisi lain, bagi eksportir dengan pendapatan dalam dolar, konversi ke rupiah berpotensi menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

Menkeu Purbaya Dukung Thomas Djiwandono jadi Gubernur Bank Indonesia (BI)

Di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang terus melemah dalam sepekan terakhir, nama Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Thomas Djiwandono, muncul sebagai salah satu kandidat kuat Gubernur Bank Indonesia (BI). Pencalonan ini menyusul pengunduran diri Gubernur BI sebelumnya, Juda Agung.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyerahkan Surat Presiden (Surpres) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI terkait calon Gubernur BI pengganti Juda Agung. Prasetyo menyebutkan bahwa Surpres tersebut berisi tiga nama calon, dengan Thomas Djiwandono menjadi salah satunya. Namun, ia enggan merinci dua nama kandidat lainnya.

“Ada beberapa nama dan salah satu nama yang diusulkan memang Pak Wamenkeu, Pak Tommy (Thomas),” ungkap Prasetyo pada Senin, 19 Januari 2026. Setelah Surpres diterima, DPR akan melanjutkan proses dengan menggelar uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) untuk menentukan figur yang paling tepat memimpin bank sentral.

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menyambut baik masuknya nama Thomas Djiwandono dalam bursa calon Gubernur BI. Purbaya menilai, jika Thomas terpilih, pengalaman dan cakrawalanya akan semakin bertambah luas, menggabungkan pemahaman fiskal dengan moneter.

“Tanggapan saya gimana? Ya bagus lah, biar Pak Thomas punya pengalaman lebih luas lagi. Udah di fiskal sekarang, kalau masuk kan ke moneter, kan bagus. Saya mendukung,” tegas Purbaya di Gedung DPR RI, Senin (19/1/2026).

Meski mendukung pencalonan Thomas, Purbaya mengaku belum menerima informasi resmi mengenai siapa yang akan menggantikan posisi keponakan Presiden Prabowo Subianto tersebut sebagai Wamenkeu. Namun, ia mengklaim telah mendengar kabar bahwa Juda Agung, mantan Gubernur BI yang mengundurkan diri, berpotensi menjadi penggantinya. Purbaya berencana untuk segera bertemu dengan Juda Agung, mungkin keesokan harinya, untuk memahami niatnya lebih lanjut. “Kelihatannya begitu, saya dengar juga begitu. Nanti saya mau ketemu dengan Pak Juda, mungkin besok kali. Saya mau lihat niatnya dia apa sih,” ujarnya.

Rekam Jejak Thomas Djiwandono

Thomas Djiwandono dikenal sebagai politisi dari Partai Gerindra, partai yang didirikan oleh pamannya, Prabowo Subianto. Ia merupakan putra dari Biantiningsih Miderawati, yang tak lain adalah kakak dari Presiden Republik Indonesia saat ini. Sang ayah, Soedrajad Djiwandono, juga bukan sosok asing di kancah perbankan nasional, pernah menjabat sebagai Gubernur BI dan kini mengajar di Nanyang Technological University (NTU) Singapura.

Lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972, Thomas Djiwandono menempuh pendidikan tinggi di Amerika Serikat. Ia meraih gelar Sarjana (S1) di Bidang Studi Sejarah dari Haverford College, Pennsylvania, pada tahun 1995. Kemudian, ia melanjutkan studi Pascasarjana (S2) dengan mengambil jurusan Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies, Washington, AS.

Perjalanan karier Thomas Djiwandono dimulai di dunia jurnalistik sebagai wartawan magang di majalah Tempo pada tahun 1993, dan setahun kemudian ia berkarya sebagai wartawan di Indonesia Business Weekly. Setelah itu, ia beralih ke sektor finansial, bekerja sebagai analis di Whetlock Natwest Securities Hong Kong.

Pada tahun 1999, Thomas bergabung dengan Castle Asia sebagai konsultan, sebelum kemudian berlabuh di Comexindo Internasional. Di perusahaan ini, ia meniti karier dari Direktur Pengembangan Bisnis hingga menjabat sebagai Deputi CEO dan CEO. Tak hanya itu, ia juga dipercaya menduduki posisi Deputy CEO di Arsari Group, perusahaan milik pamannya yang lain, Hashim Djojohadikusumo, dari tahun 2011 hingga 2024.

Keterlibatannya dalam dunia politik semakin menguat setelah bergabung dengan Partai Gerindra, di mana ia dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara partai. Thomas juga pernah aktif sebagai calon legislatif (caleg) di daerah pemilihan Kalimantan Barat. Peran pentingnya terlihat jelas saat Pemilihan Presiden 2014, ketika ia dipercaya mengurus kebutuhan logistik bagi tim sukses (timses) pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang dikenal sebagai Koalisi Merah-Putih (KMP).

Puncak karier eksekutifnya dimulai menjelang akhir masa jabatan Presiden Joko Widodo, ketika Thomas Djiwandono dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan pada 18 Juli 2024. Jabatan ini kembali ia emban setelah Prabowo Subianto terpilih sebagai Presiden RI dan kembali melantiknya pada 21 Oktober 2024, menunjukkan kepercayaan yang berkelanjutan terhadap kemampuannya.

(*/Tribun-medan.com)

Artikel ini sebagian telah tayang di Tribunnews.com

Ringkasan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan pelemahan signifikan, mencapai Rp16.935 per USD pada 19 Januari 2026, dipengaruhi oleh penguatan dolar dan faktor domestik seperti permintaan impor. Di tengah kondisi ini, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono muncul sebagai kandidat kuat Gubernur Bank Indonesia menggantikan Juda Agung. Presiden Prabowo Subianto telah mengajukan Surpres berisi tiga nama calon, termasuk Thomas, kepada DPR untuk uji kelayakan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan dukungan terhadap pencalonan Thomas, melihat ini sebagai kesempatan untuk memperluas pengalamannya dari bidang fiskal ke moneter.

Thomas Djiwandono adalah politisi Partai Gerindra, keponakan Presiden Prabowo Subianto, dan putra dari mantan Gubernur BI Soedrajad Djiwandono. Ia memiliki latar belakang pendidikan di Amerika Serikat dengan gelar di bidang Sejarah serta Hubungan dan Ekonomi Internasional. Rekam jejak kariernya meliputi jurnalisme, analis finansial, konsultan, hingga menjabat CEO di beberapa perusahaan sebelum menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada tahun 2024. Thomas juga aktif sebagai Bendahara Partai Gerindra dan terlibat dalam tim kampanye Prabowo sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *