Rupiah Anjlok: Prediksi Jumat Kelabu? Analisis dan Tipsnya!

Shoesmart.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (21/5/2026), seiring dengan menguatnya indeks dolar AS dan meningkatnya sentimen risk off global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Data Bloomberg menunjukkan, rupiah spot ditutup pada level Rp 17.667 per dolar AS, melemah 13 poin atau 0,07% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.654 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatatkan level Rp 17.673 per dolar AS, menguat tipis 0,07% dari penutupan sebelumnya di Rp 17.685 per dolar AS.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik antara Iran dan gangguan pasokan energi global.

Pernyataan Presiden AS saat itu, Donald Trump, yang menyebutkan bahwa perang Iran telah memasuki “tahap akhir,” namun tetap membuka opsi aksi militer lanjutan jika kesepakatan tidak tercapai, semakin memperkeruh suasana.

Situasi ini memicu kekhawatiran akan terganggunya distribusi minyak global, terutama setelah Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia.

“Ketegangan geopolitik ini menjaga harga minyak tetap tinggi dan mendorong investor untuk mencari aset safe haven, seperti dolar AS,” ungkap Ibrahim.

Selain faktor geopolitik, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) April lalu juga turut memengaruhi pergerakan mata uang. Mayoritas pejabat bank sentral AS menunjukkan kewaspadaan terhadap inflasi yang masih bertahan di atas target 2%.

Kondisi ini membuka peluang bagi The Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Sentimen ini secara tidak langsung menopang penguatan indeks dolar AS dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga tengah mencermati kebijakan pemerintah terkait pengetatan aturan ekspor untuk sejumlah komoditas utama, seperti minyak sawit, batubara, dan ferroalloy.

Investor cenderung berhati-hati dan menunggu dampak dari kebijakan tersebut terhadap arus perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia.

Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan juga masih menjadi perhatian pasar, sebagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Ibrahim, kebijakan kenaikan BI Rate ini memang dapat membantu menjaga kepercayaan pasar dan meredam tekanan terhadap rupiah.

Namun, di sisi lain, langkah tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya pinjaman, menekan pertumbuhan kredit, serta memperlambat investasi dan konsumsi domestik.

Untuk perdagangan Jumat (22/5), Ibrahim memprediksi bahwa rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.660 hingga Rp 17.710 per dolar AS.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS pada hari Kamis (21/5/2026) akibat penguatan dolar AS dan meningkatnya sentimen risk off global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Data Bloomberg mencatat rupiah spot ditutup pada level Rp 17.667 per dolar AS, sementara kurs JISDOR BI berada di Rp 17.673 per dolar AS.

Pengamat menjelaskan bahwa penguatan dolar AS didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik Iran dan gangguan pasokan energi global, ditambah risalah rapat FOMC yang menunjukkan kewaspadaan terhadap inflasi. Kebijakan pemerintah terkait pengetatan ekspor komoditas dan keputusan BI menaikkan suku bunga juga menjadi perhatian pasar. Untuk hari Jumat (22/5), rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *