Rupiah Anjlok ke Rp 17.000: Apa Penyebab & Dampaknya?

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terus berjuang melawan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Bahkan, mata uang Garuda ini sempat menyentuh angka psikologis Rp 17.000 per dolar AS pada perdagangan siang hari ini.

Menurut data Bloomberg, pada Senin (16/3/2026) pukul 14.40 WIB, rupiah tercatat melemah 0,25% secara harian ke level Rp 17.000 per dolar AS. Sebuah penurunan yang menambah catatan suram setelah pelemahan sebelumnya.

Sebagai catatan, pada hari Jumat (13/3/2026), rupiah juga mengalami tekanan dengan melemah 0,38% secara harian, bertengger di angka Rp 16.958 per dolar AS. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini adalah hasil kombinasi antara faktor eksternal dan domestik. Kombinasi ini mempersempit ruang gerak stabilisasi rupiah.

Faktor eksternal yang paling dominan, menurut Yusuf, adalah ketidakpastian geopolitik global. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memicu gejolak di pasar energi global, terutama pada harga minyak.

“Lonjakan risiko di pasar minyak secara langsung meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS,” ungkap Yusuf saat dihubungi Kontan, Senin (16/3/2026). Dalam situasi seperti ini, hampir semua mata uang negara berkembang (emerging market) mengalami tekanan, dan sayangnya, rupiah tidak terkecuali.

Selain itu, kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih cenderung ketat juga berperan dalam memperkuat posisi dolar AS. Selama suku bunga global tetap tinggi dan arus modal global lebih memilih instrumen berdenominasi dolar, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, akan terus menghadapi tantangan.

Dari sisi domestik, meningkatnya kebutuhan impor energi turut memberikan tekanan tambahan pada rupiah. Kenaikan harga minyak dunia secara otomatis meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi, sehingga permintaan valuta asing di dalam negeri pun ikut melonjak.

Pasar juga mulai mewaspadai potensi risiko fiskal yang mungkin timbul jika harga minyak bertahan tinggi dalam jangka panjang. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah dan membuka peluang terjadinya pelebaran defisit anggaran.

“Ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pelebaran defisit atau peningkatan kebutuhan pembiayaan negara juga bisa memengaruhi persepsi risiko terhadap rupiah,” imbuhnya. Sentimen negatif ini kemudian dapat memperburuk kinerja rupiah.

Namun, Yusuf menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan penurunan fundamental ekonomi domestik. Ia menunjuk pada sejumlah indikator makro Indonesia yang masih menunjukkan kondisi yang relatif solid.

Inflasi masih terkendali, cadangan devisa berada pada level yang cukup kuat, dan pertumbuhan ekonomi tetap stabil di kisaran 5%. Indikator-indikator ini memberikan sedikit harapan di tengah gejolak yang terjadi.

“Artinya, pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor sentimen global dibandingkan perubahan fundamental domestik yang signifikan,” pungkasnya. Dengan kata lain, faktor eksternal dan sentimen pasar memainkan peran yang lebih besar dalam pelemahan rupiah saat ini.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh Rp 17.000 per dolar AS, dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Faktor eksternal utama adalah ketidakpastian geopolitik global dan kebijakan moneter Amerika Serikat yang ketat, yang meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Hampir semua mata uang negara berkembang mengalami tekanan akibat situasi ini.

Dari sisi domestik, meningkatnya kebutuhan impor energi akibat kenaikan harga minyak dunia juga menekan rupiah. Pasar juga mewaspadai potensi risiko fiskal jika harga minyak tinggi bertahan lama, yang dapat meningkatkan beban subsidi dan defisit anggaran. Meskipun demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif solid dengan inflasi terkendali dan pertumbuhan ekonomi stabil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *