Shoesmart.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan semakin mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi (23/3/2026). Sentimen global dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama pelemahan ini.
Data Bloomberg pada pukul 09.41 WIB menunjukkan rupiah berada di posisi Rp 16.997 per dolar AS. Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 0,41% dibandingkan dengan penutupan perdagangan di akhir pekan lalu, yang berada di level Rp 16.928 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang Garuda ini sejalan dengan tren pelemahan yang terjadi pada mayoritas mata uang Asia. Meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan meningkatnya sentimen risiko global memicu aksi jual terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (23/3): Turun Rp 50.000 ke Rp 2.843.000 Per Gram
Berdasarkan data yang dihimpun Reuters, beberapa mata uang regional juga mengalami pergerakan yang signifikan. Won Korea Selatan melemah 0,30% menjadi 1.509,2 per dolar AS. Baht Thailand juga tertekan, turun 0,26% ke level 32,965 per dolar AS. Sementara itu, Peso Filipina mengalami penurunan paling tajam, yakni sebesar 0,58% menjadi 60,145 per dolar AS. Yen Jepang juga ikut melemah tipis sebesar 0,14% menjadi 159,45 per dolar AS, dan Dolar Singapura terkoreksi tipis 0,02% menjadi 1,282 per dolar AS.
Baca Juga: Bursa Asia Jatuh Senin (23/3) Pagi, Nikkei dan Kospi Turun 4%
Secara kumulatif, sejak awal tahun 2026, rupiah telah terdepresiasi sebesar 1,80% dari posisi akhir tahun 2025 yang berada di level Rp 16.670 per dolar AS. Kondisi ini menempatkan rupiah dalam tekanan yang cukup besar di tengah ketidakpastian global.
Tidak hanya rupiah, Won Korea Selatan dan Baht Thailand juga mengalami pelemahan yang cukup signifikan, dengan penurunan lebih dari 4% sejak awal tahun. Di sisi lain, Yuan Tiongkok justru menunjukkan penguatan sebesar 1,16%.
Para analis berpendapat bahwa pelemahan rupiah saat ini mencerminkan peningkatan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Ketidakpastian di pasar global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak dan pasar keuangan Asia, mendorong investor untuk mencari perlindungan pada aset yang dianggap lebih aman. Kondisi ini diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah melemah dan mendekati Rp 17.000 per dolar AS pada Senin, 23 Maret 2026, tertekan oleh sentimen global dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pelemahan ini sejalan dengan tren yang terjadi pada mata uang Asia lainnya, dipicu oleh meningkatnya sentimen risiko global yang mendorong aksi jual aset berisiko.
Sejak awal tahun 2026, rupiah telah terdepresiasi 1,80%. Para analis berpendapat bahwa pelemahan ini mencerminkan peningkatan permintaan dolar AS sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak dan pasar keuangan Asia.