Rupiah Anjlok! BI Rate Naik? Ini Prediksi Terkini!

JAKARTA, Shoesmart.co.id — Tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memicu spekulasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuannya, atau BI Rate, tahun ini.

Momentum terdekat adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan pada 19-20 Mei 2026. Saat ini, BI Rate masih bertahan di angka 4,75%.

Riset dari Stockbit, yang mengumpulkan konsensus pasar dari Bloomberg, memperkirakan bahwa median BI Rate hingga akhir 2026 akan berada di level 5%. Ini mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Melemah, BI Diprediksi Kerek Suku Bunga

“Tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Terutama, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat setelah inflasi AS melampaui perkiraan pasar dan harga minyak yang terus tinggi,” jelas tim analis Stockbit.

Pada perdagangan intraday Senin (18/5/2026), nilai tukar rupiah sempat menyentuh titik terendah sepanjang masa di Rp17.669 per dolar AS, sebelum akhirnya ditutup pada level Rp17.656 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Bank Mulai Kebanjiran Minat Tabungan Valas?

Secara year-to-date (YTD), rupiah telah mengalami depresiasi sekitar 5,8%. Hal ini menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini.

Tekanan terhadap rupiah semakin intens seiring dengan penguatan dolar AS, yang dipicu oleh ekspektasi pengetatan moneter lebih lanjut oleh bank sentral AS, Federal Reserve System (The Fed).

Baca Juga: Purbaya Gelontorkan Rp2 Triliun per Hari ke Pasar Obligasi demi Redam Pelemahan Rupiah

Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa inflasi indeks harga konsumen (IHK) AS pada April 2026 mencapai 3,8% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan Maret 2026 yang sebesar 3,3%, dan juga melampaui konsensus pasar yang memperkirakan 3,7%. Level inflasi ini menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023.

Sebagai respons terhadap data inflasi tersebut, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga setidaknya 25 bps menjadi 3,75%—4% hingga akhir 2026 meningkat menjadi sekitar 51%, berdasarkan CME FedWatch Tool per Senin (18/5/2026). Angka ini melonjak signifikan dibandingkan dengan probabilitas sebesar 21% pada pekan sebelumnya.

Ekspektasi kenaikan suku bunga AS turut memperkuat indeks dolar AS (DXY), yang naik 1,19% secara mingguan ke level 99,1.

Selain itu, harga minyak Brent juga tetap tinggi di kisaran US$110 per barel setelah insiden drone di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Kondisi ini memperbesar kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global.

Penguatan dolar AS kemudian memicu tekanan pada aset-aset emerging markets, termasuk Indonesia. Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun tercatat naik 11 bps ke level 6,81%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami pelemahan sebesar 1,85% ke level 6.599, disertai dengan arus keluar dana asing senilai Rp464 miliar pada perdagangan Senin.

Di tengah tekanan yang ada, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo tetap optimistis bahwa rata-rata nilai tukar rupiah tahun ini masih berpotensi kembali menguat ke kisaran Rp16.500 per dolar AS. Angka ini sejalan dengan asumsi APBN 2026 yang berada di rentang Rp16.200—Rp16.800 per dolar AS.

Perry menjelaskan bahwa pelemahan rupiah pada kuartal II merupakan pola musiman yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan dolar AS, terutama untuk kebutuhan pembagian dividen. Ia memprediksi bahwa rupiah berpotensi kembali menguat pada kuartal berikutnya.

“Pelemahan rupiah sebesar 5,8% secara YtD masih dalam kategori terkendali,” tegas Perry dalam rapat bersama DPR, Senin (18/5/2026).

Lebih lanjut, Perry menambahkan bahwa BI saat ini lebih fokus memantau volatilitas nilai tukar dibandingkan level absolut rupiah, dengan menggunakan rata-rata pergerakan 20 hari sebagai acuan.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan, memicu spekulasi mengenai potensi kenaikan BI Rate. Rapat Dewan Gubernur BI pada 19-20 Mei 2026 menjadi sorotan, dengan konsensus pasar memperkirakan BI Rate dapat naik 25 basis poin menjadi 5% pada akhir tahun 2026. Tekanan terhadap rupiah ini dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan harga minyak yang tinggi.

Rupiah telah terdepresiasi sekitar 5,8% secara year-to-date, menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Gubernur BI Perry Warjiyo tetap optimis rupiah dapat menguat kembali ke kisaran Rp16.500 per dolar AS dan menekankan bahwa BI fokus pada volatilitas nilai tukar, bukan pada level absolutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *