Shoesmart.co.id – JAKARTA. Pasar modal Indonesia diperkirakan akan mengalami rotasi sektoral saham yang signifikan di tahun 2026. Prediksi ini datang setelah dominasi beberapa sektor di tahun sebelumnya, menandakan pergeseran fokus investasi yang menarik perhatian para pelaku pasar.
Pada penutupan tahun 2025, tepatnya per 30 Desember, tiga sektor utama tampil gemilang memimpin pergerakan pasar. Sektor teknologi mencatat kenaikan luar biasa sebesar 138,35% secara year to date (YTD), diikuti oleh sektor industri dengan 108,11% YTD, dan sektor infrastruktur yang tumbuh 80,62% YTD. Kinerja impresif ini menjadi sorotan, membentuk lanskap investasi tahun 2025.
Memasuki awal tahun 2026, sebuah pola pergeseran mulai terlihat. Per 6 Januari 2026, sektor basic materials tercatat naik 8,95% YTD, disusul oleh sektor energi yang menguat 7,43% YTD, serta sektor transportasi dan logistik dengan kenaikan 7,74% YTD. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa rotasi sektoral yang dinanti mungkin sudah mulai berjalan di paruh awal tahun.
Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa kinerja sektoral di tahun 2025 banyak didorong oleh euforia terhadap saham-saham yang terkait dengan tema data, cloud, dan kecerdasan buatan (AI). Di sektor teknologi, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi pendorong utama kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berkat posisinya sebagai pemimpin pasar. Selain itu, saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) juga aktif ditransaksikan oleh investor, mengingat statusnya sebagai small cap di sektor teknologi dengan pertumbuhan yang tinggi, seperti disampaikannya kepada Kontan pada Selasa (6/1/2026).
Di sisi lain, sektor consumer noncyclical dan finansial justru tertinggal di tahun 2025. Rully mengidentifikasi bahwa sebagian besar konstituen di kedua sektor ini merupakan defensive stocks yang harganya sudah relatif tinggi. Selain itu, pelemahan konsumsi rumah tangga serta perlambatan pertumbuhan kredit turut menjadi faktor penghambat kinerja mereka. Senada, Analis Fundamental BRI Danareksa Abida Massi Armand menambahkan bahwa sektor finansial dan konsumer non-siklikal tertekan oleh tekanan Net Interest Margin (NIM) perbankan, kenaikan biaya pencadangan, serta pelemahan daya beli masyarakat pasca-kenaikan PPN.
Menatap tahun 2026, proyeksi rotasi sektoral menjadi semakin kuat. Rully Arya Wisnubroto menilai sektor infrastruktur dan sektor industrial masih berpeluang besar untuk memimpin di tahun ini. Selain itu, saham-saham di sektor consumer noncyclical dan finansial juga dinilai berpotensi mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun potensi ini baru bisa terlihat sepanjang semester I 2026. Ia juga mencatat sentimen kurang baik di awal tahun, seperti rilis inflasi yang naik signifikan, surplus neraca perdagangan yang menurun, serta eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. Untuk itu, Rully menyarankan investor untuk mencermati saham DEWA, EXCL, dan BRMS.
Abida Massi Armand memiliki pandangan yang sedikit berbeda, di mana ia melihat sektor transportasi dan logistik yang memimpin di awal tahun 2026 didorong oleh peningkatan aktivitas distribusi dan proyek infrastruktur. Selanjutnya, kepemimpinan pasar di tahun 2026 diperkirakan akan bergeser ke sektor properti dan konsumer. Pergeseran ini didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI), perbaikan akses kredit, serta kebijakan pemerintah seperti program perumahan dan stimulus konsumsi. Abida menekankan bahwa penguatan saham di tahun 2026 diperkirakan akan lebih berbasis fundamental, ditopang oleh pemulihan penjualan, ekspansi margin, dan pertumbuhan laba, bukan sekadar reli spekulatif jangka pendek. Ia merekomendasikan beli untuk SMRA dengan target harga Rp 800 per saham, SSIA Rp 2.050 per saham, MYOR Rp 2.700 per saham, dan UNVR Rp 3.200 per saham. Dari sektor translog, SMDR menjadi unggulan, sementara untuk big banks, BBCA dan BMRI tetap direkomendasikan sebagai core holding dengan target harga masing-masing Rp 10.800 per saham dan Rp 5.500 per saham.
Senada dengan potensi pergeseran ini, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty menambahkan bahwa potensi rotasi sektoral semakin terbuka lebar di tahun 2026. Ini terutama akan terjadi dari sektor-sektor yang sudah tumbuh pesat dan relatif mahal, beralih ke sektor-sektor yang sebelumnya tertinggal (laggard) namun menunjukkan tanda-tanda perbaikan siklus. Sektor-sektor yang berpotensi memimpin adalah industri, basic materials, energi, dan konsumer. Sentimen pendorongnya meliputi penurunan atau stabilisasi suku bunga, pemulihan kredit, peningkatan belanja infrastruktur dan logistik, meningkatnya harga komoditas, serta normalisasi konsumsi domestik. Arinda juga menyebut bahwa sektor teknologi masih berpotensi untuk tumbuh, namun kemungkinan tidak lagi menjadi pemimpin tunggal, melainkan berbagi panggung dengan sektor siklikal dan value. Ia merekomendasikan beli untuk saham MBMA dengan target harga Rp 690 per saham, ANTM Rp 3.740 per saham, ARCI Rp 1.900 per saham, dan MEDC Rp 1.700 per saham.
Ringkasan
Pasar modal Indonesia diprediksi akan mengalami rotasi sektoral saham yang signifikan di tahun 2026. Pada tahun 2025, sektor teknologi, industri, dan infrastruktur menjadi pemimpin pasar dengan pertumbuhan luar biasa, sedangkan sektor konsumer non-siklikal dan finansial tertinggal akibat valuasi tinggi dan pelemahan daya beli. Memasuki awal tahun 2026, pergeseran mulai terlihat dengan penguatan pada sektor basic materials, energi, serta transportasi dan logistik.
Para analis memproyeksikan beberapa sektor akan berpotensi memimpin di tahun 2026, termasuk infrastruktur, industrial, konsumer, finansial, basic materials, energi, dan properti. Pergeseran ini didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga, pemulihan konsumsi dan kredit, serta proyek infrastruktur dan logistik yang meningkat. Penguatan saham tahun ini diperkirakan lebih berbasis fundamental, dengan sektor teknologi yang masih potensial namun berbagi panggung dengan sektor siklikal dan value.