RMKE: Target Harga Saham Naik! Ini Katalisnya!

JAKARTA – PT RMK Energy Tbk. (RMKE) menunjukkan potensi pertumbuhan volume logistik batu bara yang signifikan di Sumatera Selatan, sebuah indikasi kuat yang dapat mendorong kenaikan harga saham perseroan di masa mendatang. Hal ini didukung oleh kapasitas infrastruktur yang belum termanfaatkan secara optimal, memungkinkan peningkatan volume operasional tanpa perlu investasi modal besar di masa depan.

Berdasarkan tinjauan operasional terbaru, kapasitas logistik batu bara RMKE memiliki ruang ekspansi yang luas. Laporan riset Sinarmas Sekuritas berjudul On-The-Ground: RMKE Coal Logistics Flow menggarisbawahi bahwa Stasiun Simpang milik perseroan memiliki kapasitas terpasang hingga 30 juta ton per tahun dengan lima jalur pembongkaran. Namun, hingga tahun 2025, volume pembongkaran baru mencapai 9 juta ton, menandakan tingkat utilisasi sekitar 30%. Angka ini menyiratkan kapasitas sisa sebesar 21 juta ton yang siap menyerap peningkatan produksi batu bara di wilayah tersebut.

Sejalan dengan kemampuan hulu, infrastruktur hilir RMKE juga dirancang secara komprehensif. Pelabuhan Musi 2 yang dioperasikan perseroan dilengkapi dengan lima jalur conveyor belt, mampu memuat hingga 32 juta ton batu bara ke tongkang setiap tahunnya. Kapasitas pelabuhan ini selaras dengan kemampuan pembongkaran di stasiun untuk memastikan kelancaran dan mencegah hambatan dalam rantai pasok. Selain itu, jalur angkut khusus (hauling road) sepanjang 8 kilometer telah dipersiapkan untuk menunjang target pengangkutan 15,1 juta ton pada tahun 2026.

Optimisme terhadap pertumbuhan ini tercermin dari target laba bersih RMKE yang ambisius, yakni Rp800 miliar pada tahun 2026. Target ini akan didorong oleh penguatan infrastruktur logistik, khususnya operasional jalur hauling road yang krusial bagi distribusi batu bara di Sumatera Selatan. Pembangunan jalur hauling road ini telah rampung, menghubungkan langsung area tambang ke fasilitas angkutan utama, dan kini melayani tiga pelanggan baru: PT Wiraduta Sejahtera Langgeng (WSL), PT Duta Bara Utama (DBU), dan Menambang Muara Enim (MME).

Direktur Utama RMKE, Vincent Saputra, menjelaskan bahwa integrasi infrastruktur ini menjadi semakin strategis sejalan dengan pemberlakuan larangan pengangkutan batu bara melalui jalan umum di Sumatera Selatan mulai tahun 2026. Kondisi regulasi tersebut, secara struktural, akan meningkatkan peran jalur hauling khusus dan moda kereta api sebagai tulang punggung distribusi, yang merupakan spesialisasi utama layanan RMKE.

Selain prospek operasional yang cerah, RMKE juga berkomitmen terhadap nilai tambah bagi pemegang saham. Dengan posisi kas mencapai Rp250 miliar dan kinerja yang terus membaik, perseroan menargetkan pembagian dividen dengan rasio minimum 20%. “Nilai dividen tahun ini kami perkirakan dapat melampaui Rp40 miliar dan akan jauh lebih besar dibandingkan tahun lalu, sehingga memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham,” ujar Vincent pada Kamis (8/1/2026).

Melihat efisiensi infrastruktur dan potensi peningkatan volume yang substansial, Sinarmas Sekuritas merevisi target harga saham RMKE menjadi Rp10.000 per lembar saham, dengan mempertahankan rekomendasi beli. Penyesuaian ini mencerminkan ekspektasi terhadap volume bongkaran yang lebih tinggi dari target awal manajemen, serta dukungan operating leverage perseroan yang berkelanjutan seiring peningkatan utilisasi aset. Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham RMKE ditutup pada level Rp6.725 per saham hingga perdagangan Jumat (9/1), mencatatkan pertumbuhan 13,50% sejak awal tahun dan kenaikan 13,03% selama sepekan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

PT RMK Energy Tbk. (RMKE) menunjukkan potensi pertumbuhan volume logistik batu bara signifikan di Sumatera Selatan, didukung kapasitas infrastruktur yang belum termanfaatkan optimal. Stasiun Simpang memiliki kapasitas 30 juta ton per tahun dengan utilisasi baru 30%, menyisakan 21 juta ton, sementara Pelabuhan Musi 2 mampu memuat 32 juta ton. Jalur angkut khusus (hauling road) sepanjang 8 kilometer juga telah rampung, menghubungkan langsung area tambang ke fasilitas angkutan utama dan melayani tiga pelanggan baru. Integrasi infrastruktur ini menjadi strategis seiring larangan pengangkutan batu bara melalui jalan umum di Sumatera Selatan mulai tahun 2026.

Prospek cerah ini mendorong RMKE menargetkan laba bersih Rp800 miliar pada tahun 2026 dan berkomitmen membagikan dividen minimal 20%, diperkirakan melampaui Rp40 miliar tahun ini. Sinarmas Sekuritas merevisi target harga saham RMKE menjadi Rp10.000 dengan rekomendasi “beli”, didasari ekspektasi volume bongkaran lebih tinggi dan leverage operasional. Saham RMKE ditutup pada level Rp6.725 per saham pada 9 Januari, mencatatkan pertumbuhan positif sejak awal tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *