JAKARTA, Shoesmart.co.id – Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah bersiap melancarkan aksi korporasi penting, yakni Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau lebih dikenal sebagai rights issue. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya memperkuat struktur permodalan perusahaan, sekaligus memacu ekspansi bisnis di tengah gejolak dinamika ekonomi yang terus bergulir.
Beberapa perusahaan yang telah mengumumkan rencana rights issue dalam waktu dekat antara lain adalah PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI), PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).
ELPI, misalnya, berencana menerbitkan sebanyak 2,03 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp350 per lembar. Aksi korporasi ini berpotensi menghasilkan dana segar sekitar Rp739,34 miliar bagi perusahaan pelayaran tersebut.
Sementara itu, CBRE membidik perolehan dana hingga mencapai Rp1,9 triliun melalui penerbitan maksimal 12,76 miliar saham baru. Harga pelaksanaan rights issue CBRE ditetapkan dalam rentang Rp100–Rp150 per saham.
IHSG Menguat, Tapi Belum Bullish: Ini Proyeksi dan Rekomendasi Analis
Di sisi lain, BNBR berencana menerbitkan sekitar 86,7 miliar saham biasa seri E dari total rencana penerbitan hingga 90 miliar saham baru, dengan rasio 2:1. BUVA juga tak ketinggalan, dengan rencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 50 miliar saham, atau setara maksimum 203,11% dari total saham beredar, dengan nilai nominal Rp50 per saham.
Menariknya, INET telah lebih dulu menuntaskan aksi rights issue-nya dan mencatatkan hasil yang sangat memuaskan. Emiten ini bahkan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) dalam aksi korporasi senilai Rp3,2 triliun. Tercatat, 99,3% pemegang Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) menggunakan haknya, sementara sisa 0,7% direspons dengan pemesanan tambahan yang mencapai 52 kali lipat dari jumlah saham yang tersedia.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai bahwa di antara sejumlah aksi rights issue yang terjadi, INET menjadi yang paling menarik untuk dicermati.
Alasannya, dana yang diperoleh dari aksi korporasi tersebut akan dialokasikan untuk ekspansi infrastruktur digital, khususnya pembangunan jaringan FTTH serta penguatan kapasitas jaringan.
“Potensi dampak rights issue terhadap kinerja INET di masa depan bisa sangat signifikan,” ujarnya kepada Kontan, Senin (16/3).
Pasar Global Dibayangi Tekanan Geopolitik, Arah Suku Bunga Jadi Penentu
Lebih jauh lagi, INET dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang paling menjanjikan pada tahun 2026, didorong oleh ekspansi jaringan internet dan meningkatnya kebutuhan layanan data di Indonesia.
Proses monetisasi infrastruktur yang telah dimulai sejak awal 2025 diperkirakan akan mengalami peningkatan signifikan pada kuartal II 2026, terutama dari proyek kabel laut Jakarta–Singapura yang menjadi salah satu katalis utama pertumbuhan INET.
“Manajemen pun optimistis bahwa proyeksi pertumbuhan pendapatan INET pada tahun 2026 dapat mencapai dua kali lipat dibandingkan tahun 2025,” imbuhnya.
Dengan prospek yang cerah tersebut, Sukarno merekomendasikan investor untuk membeli saham INET dengan target harga Rp620 per saham.
Ringkasan
Beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk ELPI, CBRE, BNBR, BUVA, dan INET, sedang atau telah melaksanakan rights issue untuk memperkuat permodalan dan mendorong ekspansi bisnis. INET menjadi sorotan karena keberhasilan aksi korporasi senilai Rp3,2 triliun yang oversubscribed, menunjukkan minat investor yang tinggi.
Dana dari rights issue INET akan digunakan untuk ekspansi infrastruktur digital, khususnya pembangunan jaringan FTTH. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia memprediksi INET memiliki prospek pertumbuhan menjanjikan pada tahun 2026, didorong oleh proyek kabel laut Jakarta–Singapura. Analis tersebut merekomendasikan investor untuk membeli saham INET dengan target harga Rp620 per saham.