Shoesmart.co.id – JAKARTA. Industri reksadana memulai tahun 2026 dengan performa yang menggembirakan. Data dari Infovesta per 27 Februari 2026 menunjukkan bahwa seluruh jenis reksadana berhasil mencatatkan imbal hasil positif.
Reksadana saham memimpin dengan perolehan return tertinggi, mencapai 2,0% secara bulanan (MoM). Reksadana campuran menyusul dengan 1,44% MoM, sementara reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang masing-masing mencatatkan return sebesar 0,29% MoM.
Reza Fahmi Riawan, Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPMA), berpendapat bahwa capaian positif ini didorong oleh kombinasi berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi kondisi makroekonomi yang mendukung, likuiditas pasar yang memadai, serta strategi pengelolaan portofolio yang dinamis.
Lebih lanjut, Reza menjelaskan bahwa dari sisi makroekonomi, stabilitas inflasi di dalam negeri dan ekspektasi terkait pelonggaran kebijakan moneter global mulai menciptakan sentimen yang lebih positif terhadap aset keuangan. Kondisi ini memicu peningkatan minat investor terhadap instrumen pasar modal.
Konflik AS-Iran Tekan Rupiah, Investor Pantau Cadangan Devisa Begini Arah Rupiah
“Likuiditas domestik yang masih relatif kuat juga berperan penting, menjaga arus dana ke industri reksadana tetap stabil. Terutama dari investor yang mulai mempertimbangkan diversifikasi dari instrumen yang lebih konservatif,” ungkap Reza kepada Kontan, Kamis (5/3/2026).
Selain itu, fundamental beberapa sektor ekonomi domestik yang masih solid turut menopang kinerja pasar saham dan obligasi. Hal ini, pada gilirannya, memberikan kontribusi positif terhadap performa reksadana secara keseluruhan di awal tahun.
Memasuki tahun 2026, Reza melihat prospek industri reksadana masih cukup cerah, meskipun tetap perlu mewaspadai volatilitas yang disebabkan oleh ketidakpastian global. Reksadana saham dinilai memiliki potensi untuk mencatatkan imbal hasil yang lebih tinggi, seiring dengan peluang pertumbuhan laba korporasi dan ekspansi beberapa sektor di dalam negeri.
Di sisi lain, reksadana pendapatan tetap juga menawarkan peluang yang menarik, terutama jika tren penurunan suku bunga mulai terealisasi. Penurunan suku bunga umumnya akan mendorong kenaikan harga obligasi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja portofolio berbasis surat utang.
Sementara itu, reksadana campuran menjadi pilihan yang menarik bagi investor yang mencari keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas. Sedangkan reksadana pasar uang tetap relevan sebagai instrumen likuiditas jangka pendek di tengah dinamika pasar global yang fluktuatif.
Di Tengah Gejolak Global, Ini Prospek Reksadana Menurut Infovesta
Dalam menghadapi ketidakpastian global, Reza menekankan pentingnya penerapan strategi investasi yang disiplin.
Diversifikasi aset, penetapan horizon investasi jangka menengah hingga panjang, serta pemilihan produk dengan pengelolaan portofolio yang konsisten adalah kunci untuk mengoptimalkan hasil investasi.
Terkait potensi imbal hasil, Reza memperkirakan bahwa kinerja reksadana pada tahun 2026 akan tetap berada pada kisaran yang kompetitif.
Reksadana pasar uang diproyeksikan mencatatkan return sekitar 3%–5%, sejalan dengan pergerakan suku bunga instrumen pasar uang yang relatif stabil.
Reksadana pendapatan tetap berpotensi membukukan imbal hasil sekitar 6%–8%, terutama jika tren penurunan yield obligasi berlangsung secara bertahap.
Sementara itu, reksadana campuran diperkirakan mampu mencetak return di kisaran 7%–10% karena fleksibilitas dalam alokasi antara saham dan obligasi.
Untuk reksadana saham, potensi imbal hasil secara historis memang lebih tinggi, tetapi juga disertai dengan volatilitas yang lebih besar. Secara indikatif, return dapat berada di kisaran 10%–15%, dengan catatan bahwa realisasinya sangat bergantung pada kondisi pasar dan dinamika ekonomi sepanjang tahun 2026.
Ringkasan
Industri reksadana memulai tahun 2026 dengan kinerja positif, dimana seluruh jenis reksadana mencatatkan imbal hasil positif. Reksadana saham memimpin dengan return tertinggi (2,0% MoM), diikuti reksadana campuran (1,44% MoM), reksadana pendapatan tetap (0,29% MoM), dan reksadana pasar uang (0,29% MoM). Capaian ini didorong oleh kondisi makroekonomi yang mendukung, likuiditas pasar yang memadai, dan strategi pengelolaan portofolio yang dinamis.
Prospek industri reksadana di tahun 2026 dinilai masih cerah, meskipun volatilitas global tetap perlu diwaspadai. Reksadana saham berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi, sementara reksadana pendapatan tetap menarik jika suku bunga turun. Diversifikasi aset dan horizon investasi jangka menengah-panjang adalah kunci optimalisasi investasi.