NEW YORK — Bursa saham Wall Street mengakhiri perdagangan Selasa (6/1/2026) dengan kinerja yang mengesankan, didorong oleh gelombang optimisme seputar kecerdasan buatan (AI) yang memicu lonjakan saham-saham perusahaan chip. Indeks Dow Jones Industrial Average bahkan berhasil menembus rekor tertinggi baru, mendekati ambang historis 50.000 poin.
Mengutip laporan Reuters, indeks S&P 500 melonjak 0,62% dan ditutup pada level 6.944,82. Sementara itu, indeks teknologi Nasdaq menguat 0,65% menjadi 23.547,17. Kenaikan paling signifikan dicatatkan oleh Dow Jones Industrial Average yang meroket 0,99% ke posisi 49.462,08. Aktivitas perdagangan saham di bursa AS menunjukkan volume yang substansial, mencapai 18,7 miliar saham, melampaui rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang sebesar 16,1 miliar saham.
Katalis utama di balik reli pasar ini adalah sektor teknologi, khususnya perusahaan-perusahaan chip memori dan penyimpanan. Lonjakan terjadi setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, menyampaikan pidatonya di Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas. Huang merinci rencana prosesor AI perusahaan yang akan datang, yang mencakup teknologi lapisan penyimpanan baru yang inovatif. Berita ini sontak memicu kegairahan luar biasa di kalangan investor.
Respons pasar terhadap pengumuman Nvidia sangat positif. Saham SanDisk melonjak lebih dari 27%, Western Digital naik 17%, Seagate Technology menguat 14%, dan Micron Technology merangkak naik 10%. Keempat saham tersebut bahkan berhasil mencapai rekor tertinggi baru dalam sejarah. Tak hanya itu, indeks chip PHLX juga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, dengan kenaikan harian 2,75%, membawa total penguatan sekitar 8% dalam tiga sesi perdagangan pertama tahun 2026.
“Saya berpendapat bahwa kita akan menyaksikan musim pendapatan yang sangat kuat untuk perusahaan-perusahaan teknologi besar, dan semua perkiraan belanja modal yang kami dengar akan direvisi lebih tinggi lagi,” kata Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital di St. Louis, menyoroti potensi pertumbuhan yang berkelanjutan di sektor ini.
Di luar sektor teknologi, saham Moderna juga menunjukkan kinerja cemerlang dengan kenaikan hampir 11% setelah BofA Global Research menaikkan target harga untuk perusahaan farmasi tersebut. Kenaikan Moderna turut memberikan dorongan signifikan bagi indeks sektor kesehatan S&P 500, yang menguat sebesar 1,96%.
Sementara pasar merayakan rekor-rekor baru, perhatian investor juga tertuju pada serangkaian data ekonomi penting yang akan dirilis. Dengan meredanya dampak penutupan pemerintah federal selama 43 hari, rilis data kini menjadi lebih andal. Data Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) dijadwalkan pada hari Rabu, diikuti laporan pekerjaan untuk bulan Desember pada hari Jumat. Data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan dapat memperkuat argumen untuk pemotongan suku bunga bank sentral, sebuah prospek yang selalu ditunggu-tunggu oleh pasar.
Namun, di tengah euforia, valuasi di Wall Street tetap relatif mahal menjelang musim pendapatan kuartal keempat yang akan segera tiba. Data terbaru pada hari Selasa menunjukkan PMI komposit final S&P Global sedikit menurun menjadi 52,7 pada bulan Desember dari 53,0 pada bulan sebelumnya, sementara PMI jasa juga turun tipis menjadi 52,5 dari 52,9. Pergerakan pasar juga mencermati perbedaan pandangan di antara para pejabat Federal Reserve. Presiden Federal Reserve Richmond, Tom Barkin, menegaskan kembali sikap hati-hati bank sentral AS terhadap pemangkasan suku bunga lebih lanjut, yang kontras dengan seruan Gubernur Stephen Miran untuk pemotongan agresif dalam sebuah wawancara di Fox Business.
Investor juga tampak mengabaikan kekhawatiran geopolitik yang lebih luas setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada akhir pekan. Pasar justru bertaruh bahwa langkah tersebut dapat membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan AS untuk mendapatkan akses ke cadangan minyak Venezuela yang melimpah. Meskipun demikian, saham-saham minyak justru turun setelah kenaikan kuat pada sesi sebelumnya, dengan raksasa Exxon Mobil dan Chevron masing-masing kehilangan 3,4% dan 4,5%.
Di sisi lain, komentar Huang dari Nvidia mengenai efisiensi chip baru perusahaannya menimbulkan kekhawatiran tentang permintaan sistem pendingin pusat data. Saham Johnson Controls turun 6,2%, sementara saham Trane Technologies turun 2,5%. Lebih lanjut, saham AIG anjlok 7,5% setelah raksasa asuransi itu mengumumkan bahwa CEO Peter Zaffino akan mengundurkan diri.
Ringkasan
Bursa saham Wall Street ditutup mengesankan pada Selasa (6/1/2026), didorong oleh optimisme seputar kecerdasan buatan (AI) yang memicu lonjakan saham perusahaan chip. Indeks Dow Jones Industrial Average bahkan mencetak rekor tertinggi baru, mendekati ambang 50.000 poin, bersama dengan kenaikan signifikan pada S&P 500 dan Nasdaq. Katalis utama adalah pengumuman CEO Nvidia mengenai prosesor AI dan teknologi penyimpanan inovatif di CES, yang menyebabkan saham SanDisk, Western Digital, Seagate, dan Micron melonjak mencapai rekor tertinggi baru.
Di luar sektor teknologi, saham Moderna juga menguat hampir 11% setelah target harganya dinaikkan. Investor kini menantikan serangkaian data ekonomi penting, seperti laporan pekerjaan, yang berpotensi mempengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral. Namun, pasar tetap mencermati valuasi yang relatif mahal dan perbedaan pandangan di Federal Reserve mengenai waktu pemotongan suku bunga, serta dampak spesifik pada saham tertentu seperti minyak dan pendingin pusat data.