Rekomendasi Saham Second Liner: Tahan Banting, Potensi Cuan!

Shoesmart.co.id JAKARTA. Di tengah gejolak pasar yang dibayangi risiko kontraksi, saham-saham lapis kedua (second liner) menunjukkan ketahanan yang patut diperhitungkan. Kondisi ini membuka peluang bagi investor yang cermat dalam memilih.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa indeks IDX Small-Mid Cap (SMC) Composite, yang menghimpun saham-saham lapis kedua, mengalami penurunan 6,14% secara year to date (ytd) hingga Senin (13/4), berada di level 472,417. IDX SMC Liquid juga terkoreksi 3,73% ytd ke level 347,160.

Namun, perlu dicatat bahwa kinerja indeks saham lapis kedua ini masih lebih baik dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan LQ45 yang masing-masing terkoreksi 13,26% dan 11,84% sejak awal tahun.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menjelaskan bahwa tekanan terhadap saham lapis kedua tidak separah saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) karena sentimen negatif pasar lebih banyak dipengaruhi oleh outflow dana asing.

Cek Jadwal Lengkap Dividen Sigma Energy (SICO), Investor Bisa Kantongi Rp 2 per Saham

Berbeda dengan saham big caps, pergerakan saham second liner lebih banyak dipengaruhi oleh likuiditas domestik, katalis sektoral, dan kinerja masing-masing emiten.

Pola ini sebenarnya sudah terlihat sejak 2025, di mana reli harga saham lapis kedua didorong oleh likuiditas tinggi dan euforia pasar. Namun, memasuki tahun 2026, terjadi normalisasi akibat perang di Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah, dan keluarnya dana asing.

“Ketahanan saham second liner saat ini bukan berarti benar-benar kuat secara menyeluruh, tetapi lebih karena basis investornya berbeda dan beberapa sektor di dalamnya memang masih punya katalis spesifik,” ungkap Ekky, Senin (13/4/2026).

Ekky menambahkan, penguatan indeks saham lapis kedua sejauh ini banyak disumbangkan oleh saham-saham di sektor komoditas energi, emas, nikel, sawit dan agribisnis, logistik, konsumer non-siklikal, dan kesehatan.

Dengan demikian, saham lapis kedua yang resilien cenderung memiliki fundamental yang jelas, arus kas yang sehat, dan berasal dari sektor yang sedang didukung sentimen positif.

Intip Rekomendasi Saham Beli untuk Hari Ini (14/4), IHSG Berpotensi Kembali Reli

Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, berpendapat bahwa kinerja saham lapis kedua terlihat lebih stabil karena didominasi oleh investor institusi lokal yang berorientasi jangka panjang, sehingga volatilitasnya rendah saat terjadi outflow asing.

“Struktur organisasi emiten mid-cap lebih ramping, sehingga mereka lebih fleksibel melakukan efisiensi saat ekonomi menantang,” kata dia, Senin (13/4/2026).

Potensi Kinerja

Brigita memperkirakan bahwa saham-saham lapis kedua akan menjadi penopang IHSG sepanjang tahun 2026, meskipun pergerakannya akan semakin selektif.

Kebijakan penyesuaian free float menjadi 15% diyakini akan mempengaruhi kinerja saham lapis kedua. Pasalnya, penyesuaian free float akan memaksa emiten untuk lebih transparan dan likuid, sehingga menarik minat dana pasif ke saham-saham dengan fundamental yang kuat.

Saham second liner juga akan dipengaruhi oleh efek pengumuman High Shareholding Concentration (HSC) oleh BEI. Namun, efek positifnya adalah investor didorong untuk lebih kritis terhadap tata kelola dan struktur kepemilikan setiap emiten.

Menurut Brigita, saham lapis kedua yang menarik saat ini adalah saham dengan arus kas positif dan visibilitas laba yang jelas.

“Koreksi pasar belakangan ini membuat banyak saham lapis kedua diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya dan membuka peluang pemulihan valuasi,” imbuhnya.

Simak Rekomendasi Saham yang Layak Dilirik Hari Ini (14/4), IHSG Berpeluang Menguat

Ekky juga meyakini bahwa saham lapis kedua masih bisa membantu menjaga stabilitas pasar, tetapi tidak bisa sepenuhnya menjadi penopang IHSG seperti saham big caps karena bobot indeksnya yang lebih kecil.

Menurut Ekky, saham lapis kedua dengan eksposur langsung ke komoditas yang sedang kuat dapat menjadi opsi menarik bagi investor.

Oleh karena itu, investor dapat mempertimbangkan saham BRMS dengan target harga di level Rp 1.200-Rp 1.300 per saham. Saham TAPG juga bisa dilirik dengan target harga di level Rp 2.250 per saham.

TAPG Chart by TradingView

Sementara itu, Brigita menyarankan investor untuk mempertimbangkan saham ASSA yang memiliki daya tarik dari sisi pertumbuhan dan valuasi, kemudian saham MBMA dengan daya tarik potensi pertumbuhan bisnis, dan CMRY yang menawarkan kinerja solid.

Ringkasan

Di tengah gejolak pasar, saham lapis kedua menunjukkan ketahanan lebih baik dibandingkan saham berkapitalisasi besar. Hal ini disebabkan karena pergerakan saham lapis kedua lebih dipengaruhi oleh likuiditas domestik, katalis sektoral, dan kinerja emiten masing-masing. Sektor komoditas energi, emas, nikel, sawit, agribisnis, logistik, konsumer non-siklikal, dan kesehatan menjadi penyumbang utama penguatan indeks saham lapis kedua.

Investor disarankan untuk mempertimbangkan saham lapis kedua dengan fundamental yang jelas dan arus kas positif. Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain BRMS dan TAPG (oleh Infovesta Utama), serta ASSA, MBMA, dan CMRY (oleh Indo Premier Sekuritas). Kebijakan penyesuaian free float dan pengumuman High Shareholding Concentration (HSC) oleh BEI juga akan mempengaruhi kinerja saham lapis kedua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *