
Shoesmart.co.id JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan menunjukkan pergerakan yang volatil di pekan ini, menyusul performa cemerlang yang ditorehkannya pada pekan sebelumnya. Sebagai kilas balik, IHSG berhasil menguat tipis 0,13% dan ditutup pada level 8.936,75 pada penutupan perdagangan Jumat (9/1/2026), mengukuhkan kenaikan impresif sebesar 2,16% sepanjang pekan tersebut. Bahkan, euforia pasar saham sempat mengantarkan IHSG menyentuh rekor tertinggi baru di level psikologis 9.000 dalam perdagangan intraday.
Menurut Herditya Wicaksana, seorang analis dari MNC Sekuritas, penguatan yang dicatat IHSG ini didukung oleh peningkatan volume pembelian yang signifikan. Pergerakan indeks saham sepanjang pekan lalu dipengaruhi oleh serangkaian sentimen krusial, baik dari dalam negeri maupun global. Di ranah domestik, rilis data inflasi Desember 2025 yang tercatat naik 2,92% secara tahunan (yoy) serta kenaikan cadangan devisa menjadi US$ 156,5 miliar pada Desember 2025 menjadi pemicu positif. Sementara itu, sentimen eksternal datang dari memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela di awal pekan, yang memicu kekhawatiran para investor dan mendorong penguatan harga emas dunia. Selain itu, kenaikan harga nikel juga memberikan dampak positif pada kinerja saham-saham emiten terkait di IHSG.
“Tercapainya area psikologis IHSG di 9.000 dan setelahnya IHSG cenderung volatil di mana hal tersebut wajar terjadinya pullback dan aksi ambil untung,” jelas Herditya, menggambarkan dinamika pasar saham usai menembus level penting tersebut pada Jumat (9/1/2026).
MNC Energy Investment (IATA) Bidik Produksi Batubara 7,85 Juta Ton pada 2026
Menyikapi pekan mendatang, Oktavianus Audi, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, memperkirakan IHSG berpotensi melemah pada awal pekan. Dengan analisis teknikal, Audi memproyeksikan rentang level support di 8.870 dan resistance di 9.009, didukung oleh indikator RSI yang masih menunjukkan kondisi overbought. Audi menambahkan, beberapa faktor kunci akan menjadi penentu arah investasi saham di pekan depan. Sentimen tersebut meliputi berlanjutnya tren depresiasi rupiah yang telah menembus level Rp 16.800 per dolar AS, serta penguatan harga komoditas global seperti emas yang mencapai US$ 4.470 per ons troi dan perak ke US$ 77 per ons troi, yang secara positif akan berkorelasi pada emiten di sektor komoditas.
“IHSG juga akan dipengaruhi oleh penantian data inflasi AS yang diperkirakan masih tumbuh 2,6% yoy dan akan mempengaruhi sikap dovish The Fed,” tambah Audi, menyoroti pentingnya data ekonomi Amerika Serikat bagi pergerakan indeks.
Berdasarkan analisis teknikalnya, Audi merekomendasikan beberapa saham pilihan bagi para investor. Pertama, saham ARCI dengan rekomendasi buy on break di level Rp 1.750 per saham, dengan level support di Rp 1.600 dan resistance di Rp 1.750 per saham.
BUMI Chart by TradingView
Kedua, saham HRTA dengan rekomendasi trading buy, menawarkan level support di Rp 2.190 per saham dan resistance di Rp 2.790 per saham.
Di sisi lain, Herditya dari MNC Sekuritas juga memberikan pandangannya. Ia memprediksi IHSG akan tetap rawan pergerakan volatil di pekan depan, dengan proyeksi level support di 8.806 dan resistance di 8.996 per saham. Untuk para investor yang mencari peluang, Herditya merekomendasikan sejumlah saham yang patut dicermati, antara lain ARCI dengan target harga antara Rp 1.750 hingga Rp 1.950 per saham, BUMI di kisaran Rp 486 hingga Rp 510 per saham, serta BUVA dengan target harga Rp 1.760 hingga Rp 1.900 per saham.
Ringkasan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan volatil minggu ini setelah pekan sebelumnya menguat 2,16% dan sempat menyentuh rekor tertinggi 9.000. Penguatan IHSG didukung volume pembelian serta sentimen domestik dari data inflasi dan cadangan devisa, ditambah sentimen eksternal seperti kenaikan harga emas dan nikel. Menurut Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas, volatilitas pasca-pencapaian level 9.000 merupakan hal wajar karena aksi ambil untung.
Untuk pekan mendatang, Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas memprediksi IHSG berpotensi melemah di awal pekan, dengan level support 8.870 dan resistance 9.009, dipengaruhi depresiasi rupiah dan penantian data inflasi AS. Kedua analis merekomendasikan saham pilihan bagi investor. Audi menyarankan ARCI dan HRTA, sementara Herditya merekomendasikan ARCI, BUMI, dan BUVA untuk dicermati.