
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode yang dinamis bagi emiten pulp dan kertas, diwarnai oleh tantangan kenaikan biaya produksi yang signifikan di satu sisi, namun juga diiringi peluang pertumbuhan permintaan yang menjanjikan di sisi lain. Fokus utama kewaspadaan bagi para pelaku industri kertas adalah potensi lonjakan harga pulp global yang diperkirakan akan menjadi penentu kinerja sepanjang tahun ini.
Hendra Wardana, seorang pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, menggarisbawahi dampak langsung dari fluktuasi harga pulp terhadap struktur biaya perusahaan. Menurut Hendra, “Kenaikan harga pulp secara langsung meningkatkan beban produksi karena pulp merupakan bahan baku utama industri kertas.” Ia menjelaskan bahwa kondisi ini berpotensi besar untuk mengikis margin laba, terutama bagi emiten yang belum memiliki integrasi menyeluruh dari hulu ke hilir dalam proses produksinya.
Namun demikian, Hendra mencatat bahwa tekanan ini cenderung lebih terkendali bagi pemain-pemain besar di industri kertas yang telah membangun skala ekonomi yang kuat. “Bagi perusahaan berskala besar seperti INKP dan TKIM, tekanan margin relatif lebih terkelola berkat efisiensi produksi yang unggul, keunggulan skala ekonomi, serta kapabilitas mereka dalam melakukan penyesuaian harga jual secara bertahap,” paparnya. Hal ini memberikan mereka keunggulan strategis dalam menghadapi gejolak biaya produksi.
Dana Asing Mengalir Deras di Awal 2026, Intip Saham yang Masih Potensial Dikoleksi
Hendra juga memproyeksikan adanya potensi peredaan tekanan margin pada paruh kedua tahun 2026. Ini dapat terwujud jika penyesuaian harga produk dapat selaras dengan laju kenaikan biaya bahan baku, sehingga menjaga keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran emiten pulp dan kertas.
Beralih ke aspek permintaan, Hendra melihat prospek industri kertas pada 2026 tetap konstruktif, khususnya untuk segmen kertas industri dan kemasan. Ia menjelaskan, “Permintaan domestik diperkirakan akan terus tumbuh seiring dengan ekspansi signifikan pada sektor logistik, makanan dan minuman, serta geliat e-commerce yang secara inheren membutuhkan kemasan berbasis kertas.” Di kancah global, sinyal pemulihan moderat terpancar, terutama dari negara-negara berkembang di kawasan Asia dan Afrika, menandakan adanya peluang ekspor bagi emiten Tanah Air.
Meskipun Hendra mengakui bahwa permintaan kertas grafis terus menunjukkan tren penurunan akibat digitalisasi yang masif, pertumbuhan yang kuat di segmen packaging (kemasan) dan tissue justru menjadi penopang utama yang menopang daya tahan dan kinerja industri kertas secara keseluruhan.
Hendra Wardana juga menyoroti serangkaian katalis positif yang berpotensi mendorong kinerja emiten kertas di tahun 2026. Faktor-faktor ini mencakup pemulihan ekonomi global, stabilisasi rantai pasok, peningkatan peluang ekspor, serta tren global untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, yang pada gilirannya mendorong pergeseran signifikan menuju kemasan berbasis kertas yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, ia menambahkan bahwa “Ekspansi kapasitas produksi, optimalisasi efisiensi energi, dan penerapan prinsip ekonomi sirkular juga berpotensi besar meningkatkan daya saing serta menekan biaya produksi dalam jangka panjang.”
Kendati prospek cerah, sektor pulp dan kertas tidak luput dari sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Hendra menegaskan bahwa volatilitas harga pulp dan harga energi merupakan ancaman terbesar terhadap margin keuntungan.
TKIM Chart by TradingView
Di samping itu, persaingan global yang ketat dari produsen berbiaya rendah, potensi risiko regulasi lingkungan, ketidakpastian kebijakan perdagangan, serta ancaman kelebihan pasokan di pasar juga menjadi faktor-faktor yang harus dipertimbangkan secara cermat oleh para emiten.
Menanggapi potensi investasi, Hendra menekankan pentingnya strategi selektif dalam memilih saham emiten pulp dan kertas. Ia merekomendasikan INKP sebagai speculative buy dengan target harga Rp10.500, sementara TKIM dinilai lebih sesuai sebagai trading buy dengan target harga Rp9.000. Secara keseluruhan, Hendra menyimpulkan bahwa peluang pertumbuhan tetap terbuka lebar, selama emiten mampu secara konsisten menjaga efisiensi operasional, menekan biaya produksi, dan sigap menangkap lonjakan permintaan yang terus berkembang, khususnya di segmen kertas industri dan kemasan.
Ringkasan
Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode dinamis bagi emiten pulp dan kertas, menghadapi tantangan kenaikan biaya produksi, terutama harga pulp global, yang dapat mengikis margin laba. Emiten besar seperti INKP dan TKIM diperkirakan lebih mampu mengelola tekanan ini berkat efisiensi dan skala ekonomi. Tekanan margin juga berpotensi mereda pada paruh kedua 2026 jika penyesuaian harga produk dapat selaras dengan biaya bahan baku.
Di sisi permintaan, prospek industri kertas tetap konstruktif, khususnya untuk segmen kertas industri dan kemasan, didorong oleh pertumbuhan logistik dan e-commerce. Meskipun permintaan kertas grafis menurun akibat digitalisasi, segmen kemasan dan tisu menjadi penopang utama. Katalis positif termasuk pemulihan ekonomi global dan pergeseran ke kemasan berbasis kertas, namun risiko volatilitas harga pulp dan persaingan global perlu diwaspadai. Pengamat merekomendasikan INKP sebagai speculative buy (target Rp10.500) dan TKIM sebagai trading buy (target Rp9.000).